tJeSiLC_vQ4EjbqutLiN10g1b3k

Rabu, 28 Agustus 2013

Hogtie


Hogtie is a method of tying the limbs together, rendering the subject immobile and helpless. Originally, it was applied to pigs (hence the name) and other young four-legged animals.

In bondage, hogtie is a position in which a submissive's wrists and ankles are fastened together behind his or her back using physical restraints such as rope or cuffs.

Some people derive erotic pleasure from being hogtied or putting a person in a prone submissive position; commonly the hogtie is used as part of sexual bondage play, and in association with other bondage equipment.

Those paragraph above quoted from Wikipedia. Don't know whether if hogtie originally comes from the treatment to animals or not. But if we read the sentence "Originally, it was applied to pigs", then we can assume that hogtie originally appled to pigs or other young four-legged animals.

In spite of all that, indeed it is a powerful way to immobilize animals. And it also works when it uses to human. How a human can move if his / her feet tied up  in a position almost touching buttocks and his / her hands also tied up in the back and also  touching buttocks. Beside that his /her hands and feet that tied up separately also  connected each other. Maybe the only way to move is first the person must turn the position from  facedown to face up. Then using feet and shoulder muscles to move a bit by a bit. Or with facedown using shoulder muscle and stomach muscles. It's a very difficult way to move.

One thing that implied in this case is  surrender being helpless. And that's it what submissive and dominant want. The submissive wants to feel helpless and surrender herself / himself totally to the dominant. The other way around, the dominant wants to  take control totally on the submissive .

Although if we especially  who are not familiar with BDSM look at this situation can say that it's not fair. Because the dominant is in the favorable situation  and having fun, otherwise  the submissive is in the torture position and not comfort at all.  But if we ask the submissive, maybe  we just believe that the submissive   himself / herself want  a situation like that.

According to people who don't  understand BDSM, this situation is a win-lose situation. The dominant wins, while the submissive loses. Because the dominant can totally control the submissive. Otherwise the submissive is helpless and can't do anything except accept fate being immobilized by the dominant.  But according to them, that is the submissive and the dominant. It's obviously a win win solution. The dominant can control the submissive and the submissive voluntarily surrender, maybe the right word is not voluntarily but surrender on purpose. Because with only that,  the submissive can satisfy his / her lust.

That's why the dominant also can be called as master, while the submissive can be called as slave. Because the situation where the dominant can totally control the submissive and the submissive can't do anything except being belonged to the dominant.

Bahasa Indonesia

Hogtie adalah metode mengikat anggota badan bersama-sama , rendering subjek tidak bergerak dan tidak berdaya . Awalnya , itu diterapkan untuk babi  dan hewan muda berkaki empat lainnya.

Dalam bondage, hogtie adalah posisi di mana pergelangan tangan dan pergelangan kaki submissive diikat bersama-sama di belakang menggunakan pembatasan fisik seperti tali atau borgol .

Beberapa orang mendapatkan kesenangan erotis dari  hogtied atau menempatkan seseorang dalam posisi submissive, biasanya hogtie digunakan sebagai bagian dari permainan seksual bondage, dan dalam hubungannya dengan peralatan bondage lainnya .

Paragraf di atas dikutip dari Wikipedia . Tidak tahu apakah hogtie awalnya berasal dari perlakuan terhadap hewan atau tidak . Tetapi jika kita membaca kalimat " Awalnya , itu diterapkan pada babi " , maka kita dapat mengasumsikan bahwa hogtie awalnya diterapkan pada  babi atau hewan muda berkaki empat lainnya.

Terlepas dari semua itu, memang itu adalah cara yang ampuh untuk melumpuhkan hewan . Dan itu juga bekerja ketika digunakan untuk manusia. Bagaimana manusia bisa bergerak jika kakinya diikat dalam posisi hampir menyentuh pantat dan tangannya juga diikat di belakang dan juga menyentuh pantat. Selain itu tangan dan kaki yang diikat secara terpisah juga terhubung satu sama lain. Mungkin satu-satunya cara untuk bergerak adalah pertama orang tersebut harus mengubah posisi dari telungkup menjadi terlentang. Kemudian menggunakan kaki dan otot bahu untuk bergerak sedikit dengan sedikit . Atau dengan telungkup menggunakan otot bahu dan otot perut . Ini adalah cara yang sangat sulit untuk bergerak .

Satu hal yang tersirat dalam hal ini adalah menyerah karena tidak berdaya . Dan itulah  apa yang submissive dan dominan inginkan. Si submissive  ingin merasa tak berdaya dan menyerahkan diri sepenuhnya pada dominan . Sebaliknya , si dominan ingin mengambil kendali sepenuhnya pada si submissive .

Meskipun jika kita terutama yang tidak akrab dengan BDSM melihat situasi ini dapat mengatakan bahwa itu tidak adil . Karena dominan adalah dalam situasi yang menguntungkan dan bersenang-senang , sementara si submissive  berada di posisi tersiksa dan tidak nyaman sama sekali. Tetapi jika kita bertanya pada si submissive, mungkin kita baru percaya bahwa si submissive sendiri yang  menginginkan situasi seperti itu .

Menurut orang-orang yang tidak mengerti BDSM , situasi ini adalah situasi menang-kalah . Si dominan menang , sementara si submissive kalah . Karena si dominan benar-benar dapat mengontrol si submissive. Sebaliknya si submissive  tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menerima nasib dilumpuhkan oleh si  dominan . Namun menurut mereka , yaitu si submissive  dan si dominan . Ini jelas solusi menang menang . Si dominan dapat mengontrol si submissive dan si submissive  secara sukarela menyerah , mungkin kata yang tepat bukan sukarela tetapi menyerah secara sengaja . Karena dengan hanya itu, si submissive  dapat memuaskan nafsunya .

Itulah sebabnya si dominan juga dapat disebut sebagai master , sedangkan si submissive  dapat disebut sebagai budak . Karena situasi di mana si dominan benar-benar dapat mengontrol si submissive  dan si submissive tidak bisa melakukan apa pun kecuali menjadi milik si dominan.

Minggu, 25 Agustus 2013

Gambar kain kebaya 3

Ini adalah hasil karya gambarku yang lain. Gambar 2 orang wanita memakai kebaya panjang tradisional. Yang satu berkerah Sunda, yang lainnya kebaya ala pengantin tapi tanpa kutu baru.

Kebaya panjang tradisional yang klasik memang juga merupakan favoritku. Menurut anggapanku, seorang wanita akan terlihat lebih anggun dan lebih keibuan bila memakai kebaya panjang bila dibandingkan jika memakai kebaya pendek. Tapi walaupun begitu seorang wanita yang memakai kebaya pendek akan terlihat lebih anggun dan njawani bila dibandingkan jika ia memakai pakaian yang lainnya. Dan memang di keraton, kebaya panjang dipakai oleh mereka yang sudah menikah menurut suatu sumber. Dengan demikian tentu yang memakainya lebih matang baik dalam usianya maupun kejiwaannya. Aku sendiri juga mempunyai koleksi kebaya panjang.

Sedang jarik yang kugambar bermotif parang dan sidomukti. Kedua motif itu juga merupakan motif-motif favoritku dan aku juga punya jarik yang bermotif  tersebut.

Sabtu, 24 Agustus 2013

Self bondage

BDSM memang seperti  dua sisi mata uang bagi mereka yang berposisi sebagai  si submissive atau slave. Disatu sisi sudah barang tentu akan memuaskan nafsu yang bersangkutan. Tapi disisi lain bukan tak mungkin si submissive harus rela berkorban mulai dari pengorbanan yang kecil sampai pengorbanan yang besar.

Paling tidak fisiknya capai, karena harus dibondage.  Kalau hanya tangannya saja yang diikat kebelakang mungkin tidak begitu capai. Tapi kalau diikat dengan cukup atau sangat kencang, maka  bukan tidak mungkin tangan akan jadi sakit atau paling tidak sedikit sakit.  Belum lagi kalau kakinya juga ikut diikat dan terus dihogtie atau digantung. Badan bisa capai, karena harus dalam posisi seperti itu. Selain itu mulut kadang-kadang juga digagged.

Disamping itu masih ada juga perlakuan-perlakuan ekstra seperti digelitik. Itu mungkin yang paling ringan. Lalu dilelehi dengan cairan lilin. Bagian tubuh tertentu dijepit. Dicambuk. Ataupun sampai anal atau oral dimasuki sesuatu. Disinilah pengorbanan yang ekstra besar diperlukan.

Untuk itulah, maka dalam permainan BDSM si submissive harus betul-betul mengenali pasangannya yang bertindak sebagai dominant. Karena besarnya resiko yang harus ditanggung oleh si submissive. Disamping itu,  permainan ini juga rentan untuk diselewengkan menjadi permainan yang penuh kekerasan oleh si dominant, karena memang hanya beda tipis antara BDSM dan sex abuse.

Bagi seorang submissive yang belum punya pasangan dominant. Mungkin akan berpikir dua kali untuk melakukannya dengan seseorang yang belum begitu dikenal. Jika ada kelompok masyarakat yang berhobby BDSM, mungkin itu salah satu pemecahannya. Atau mungkin dengan jalan mengikat diri sendiri.

Mengikat diri sendiri atau self bondage mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Kekurangannya tentu saja tingkat kepuasan yang didapatkan kurang bila dibandingkan jika kita diikat oleh orang lain dan juga sensasi yang ditimbulkan. Karena bagaimanapun juga jika mengikat diri sendiri, maka  sesulit apapun ikatan kita, kita akan dapat melepaskan diri.  Atau justru karena takut kekencangan dan sulit untuk dibuka, maka kita membuat ikatan itu dengan tidak terlalu kencang. Dan itulah kekurangan lainnya yaitu jika  tali kekencangan atau menjadi ruwet, maka bisa jadi kita tidak dapat melepaskan diri dari ikatan. Oleh karena itulah alat-alat semacam gunting, pisau atau silet selalu disarankan untuk dipersiapkan jika sewaktu-waktu diperlukan. Alat untuk membuka ikatan dalam bentuk lainnya adalah tentu saja seorang manusia yang berposisi sebagai partner kita.  Belum lagi kita tidak bisa mendapatkan sensasi tambahan dari perlakuan tambahan si dominant.

Kelebihan dari self bondage tentu saja kita jadi tidak rentan terhadap perlakuan yang berlebihan dari si dominant. Dan jika kita tidak mengenal dengan baik partner BDSM kita,  bukan tidak mungkin bisa menjadi sex abuse.

Di video-video bawah terdapat beberapa cara untuk melakukan self bondage. Selain itu ada cara lain lagi yang mungkin cukup untuk seorang pemula yaitu dengan tali lasso. Hal ini pernah aku praktekkan sendiri. Tali lasso itu  kubuat sedemikian rupa dengan ujung yang satu lobangnya bisa membesar mengecil, karena ada penguncinya. Sedang ujung yang lain ada juga lobang dengan simpul mati sehingga tidak bisa membesar mengecil. Kedalam lasso atau lobang yang bisa membesar dan mengecil itulah kedua pergelangan tangan kita dimasukkan. Sedang ujung lain dengan lobang yang tidak bisa membesar dan mengecil kita masukkan ke dalam handle. Bisa handle pintu. Kemudian tali itu kita tarik kuat-kuat, sehingga mengecil dan pas kencangnya dikedua pergelangan tangan kita. Apabila tali yang kita gunakan licin, maka tentu saja akan lebih mudah untuk melepaskannya. Tapi bila tali yang digunakan keset dan tidak licin, maka akan lebih sulit untuk melepaskannya.

Bagi yang suka BDSM dan belum punya partner semoga video-video dibawah ini bermanfaat.

 

English


BDSM is like two sides of a coin for those who plays as the submissive or slave. On one side, of course, will satisfy the lusting of the one who concerned. But on the other hand it is quite possible the submissive must be willing to sacrifice  ranging from small to huge sacrifice.

At least  physically tired, having to be bound. If only our hands are tied backward, we may not be so tired. But if tied with tight or very strong, then it is not impossible that the hand will be at least slightly ill or sick. Not to mention that our feet also bound and hogtied or hanged. Body can be tired, because have to be in a position like that. Additionally mouth sometimes also gagged.

Besides, there are also extra treatments like being tickled. It was probably the lightest. Then poured  with liquid wax. Certain parts of the body clamped. Whipped. Through oral or anal entered something. Here is an extra large sacrifices needed.

For this reason, in BDSM games the submissive  should really recognize their  partners that act as a dominant.  Because of the magnitude of the risk to be borne by the submissive. Besides that, the game is also susceptible for being diverted into the game full of violence by the dominant, because it is only slight difference  between BDSM and sex abuse.

For  a submissive  who does not have dominant couples . Probably will think twice to do it with someone who is not so well known. If there are groups of people who have interest in BDSM, maybe that's one solution. Or perhaps by binding themselves.

Binding oneself or self bondage has its own advantages and disadvantages.

The drawback of course the level of satisfaction derived less than if we were bound by other people and also the sensations.  Because after all if we bind ourselves, then how difficult our bond, we will be able to break away. Or is it because of fear of firmness and difficult to open, then we create a bond that not too tight. And that's the other drawback is if the rope is too  tautness or too complicated, then maybe we can not break away from the bonds. Hence such tools scissors, a knife or razor blade is always advisable to be prepared at any time if necessary. Tool to open the bond in any other form is of course a man who plays as our partner. Not to mention we can not get an extra thrill from the dominant additional treatment.

The advantages of self bondage is  of course we are not prone to excessive treatment of the dominant. And if we are not familiar with our BDSM partner, it's not impossible to be a sex abuse.

In the videos below, there are several ways to do self bondage. In addition there is another way that might be enough for a beginner that is with  lasso rope.  I already practiced it myself. That lasso rope I made it with a pit can be enlarged shrink at  one end, because there is a fastening. The other end there is also a hole with knot so it can not grow or shrink. Into a lasso or hole that can expand and shrink we insert both wrists. While the other end with a hole that can not grow and shrink we enter it into the handle. Can be a door handle . Then we pull the rope tight, so shrink and fit the hardness in both our wrists. If we use the slippery rope, then of course it would be easier to let go. But when the rope is used not slippery, it will be more difficult to release it.

For those who like BDSM and still don't have partners may the videos below useful.






Kamis, 15 Agustus 2013

Debut


Ini adalah merupakan video ketigaku yang ku upload di Youtube. Tapi sebetulnya merupakan video pertamaku yang berisi gambar hidup diriku. Video pertamaku sebetulnya bukan merupakan video, tapi cuma merupakan kumpulan foto diriku dengan background lagu "Paint It Black".  Sedangkan video keduaku merupakan upload dari acara pagelaran busana Anne Avantie di MetroTV yang terlebih dahulu ku download dari situs yang bersangkutan.

Jadi, untuk itu aku mohon saran, kritik atau komentarnya baik untuk kualitas video maupun untuk gaya berjalanku dengan memakai kain kebaya. Terima kasih sebelumnya.

Sebelum ini,  sebetulnya sudah ada permintaan baik dari teman maupun pengunjung situsku untuk video cara memakai kain wiron dan aku sudah beberapa kali membuatnya. Tapi berhubung  hasilnya tidak optimal, maka tidak aku upload. Jadi aku minta maaf dan sekaligus kesabarannya.

English

This is my third video that I uploaded on  Youtube. But the fact, it is my first video that containing live images of myself. My first video actually is not a video, but it's just a collection of photos of me with the background song "Paint It Black". While my second video is uploaded from the event of Anne Avantie fashion show   at MetroTV  that  first I downloaded from the related site.

So, for that I beg suggestions, criticisms or comments for the video quality as well as for my walking  style when  wearing kain kebaya. Thanks in advance.

Before this,  actually  there's  a demand from friends and visitors of my website for a  video how to wear kain wiron and I've made ​​it several times. But since the result is not optimal, so I didn't upload it. So I apologize and also ask for your patience

Senin, 05 Agustus 2013

Watching Over You



Oh, I really understand what you need, darling. It's good to have a sleep tight and sweet dreams to accompany your sleep. With your body lies very safely  on your bed with your hands and feet nicely tied tightly. You can't toss and turn, so you can't drop out of the bed.  And you have soother in your mouth. But you forget one thing that is a lullaby to accompany your sleep. So here it is my lullaby for you. You may hum to this song, while your mouth is sucking your soother.  Sleep tight just like a baby, darling.

Good night, good night.... Look at that moon shine so bright.
And tonight he smiles especially for you.

Sleep tight, sleep tight. Know everything is alright.
And tonight I will be here watching over you.

For tonight I will be here watching over you.
Tonight I’ll be here watching over you.

Sweet dreams, sweet dreams. It is never as real as it seems.
And in the morning when you wake up I will be right here.

Sleep on, sleep on. For no matter how dark or how long
It may seem that your night is I will still be here.

I will still be here watching, watching over you.
So sleep, little darling, sleep on through.

So be still, be still For you know that I always will
Tonight and forever be watching over you.

For tonight and forever, be watching over you.
So sleep, little darling, sleep on through.

I will be watching over you.

Kamis, 01 Agustus 2013

Bondage Jawa atau bondage alamiah ?

Tahukah anda kalau orang Jawa juga senang bondage sejak jaman dulu kala ? Dan sesuai dengan sifat orang Jawa yang halus, maka sifat bondagenya pun juga sangat halus dan tidak kelihatan atau dalam bahasa Indonesia istilahnya tersirat bukan tersurat. Juga sesuai dengan awal mulanya yaitu jaman dulu, maka sifat bondagenya pun alamiah tanpa terlihat unsur-unsur buatan apalagi pemaksaan.

Sifat bondagenya dalam hal ini lebih bersifat  ke pakaian wanitanya. Kalau di negara-negara Barat dikenal corset yang dipakai dengan kencang untuk membentuk pinggang yang ramping, maka di Jawa dikenal stagen yang berupa kain sempit dan panjang yang dipakai dengan melingkarkannya dengan ketat disekitar pinggang. Tujuannya adalah untuk menahan kain jarik yang dipakai supaya tidak melorot.

Tapi tidak itu saja kain jariknya sendiri juga merupakan bondage bagi pemakainya. Ada beberapa tingkat kelonggar sempitan dalam memakai kain jarik dan ini sesuai dengan selera pemakainya. Sebagai akibatnya kalau dilihat, maka bentuk jarik waktu dipakai bisa berbeda-beda sebagai berikut :
  1. Jarik melebar sedikit kebawah. Bentuk ini merupakan bentuk jarik yang dipakai dengan longgar. Tentu saja bentuk ini paling enak buat pemakainya untuk melangkah. Seperti foto-foto Kartini dahulu. Tapi dari segi estetika, si pemakai  jadi kurang anggun dan juga memberi kesan kurang rapi serta kedodoran.
  2. Jarik lurus kebawah. Bentuk ini merupakan bentuk moderat, jarik dipakai dengan tidak terlalu longgar dan juga tidak terlalu sempit. Pemakai masih bisa berjalan dengan nyaman, walaupun tentu saja tidak bisa melangkah selebar jika memakai rok atau celana. Jika dilihat, pemakainya dapat kelihatan anggun. Tapi tentu saja kurang menonjolkan bentuk pinggul dan kaki, karena jariknya tidak dipakai dengan ketat.
  3. Jarik meruncing kebawah dan pada waktu memakainya salah satu kaki maju kedepan. Bentuk ini  merupakan bentuk jarik yang dipakai dengan ketat. Alhasil, si pemakai waktu berjalan langkahnya akan sempit-sempit dan tentu saja kurang nyaman.  Tapi dari segi estetika, si pamakai akan terlihat anggun dan sexy.  Karena menonjolkan bentuk pinggul dan kaki yang terbungkus oleh jarik yang meruncing kebawah.
  4. Jarik meruncing kebawah dan pada waktu memakainya kadua kaki disilangkan. Bentuk ini merupakan bentuk jarik yang dipakai dengan ekstra ketat. Pada saat tepat selesai proses memakainya bisa jadi salah satu kaki tidak bisa diluruskan dari keadaan bersilang dan jadi sulit untuk berjalan walaupun dengan langkah kecil-kecil. Jika pada waktu memakainya, jarik ditarik dengan sedemikian eratnya.  Berjalan dengan jarik semacam ini seperti berjalan merembet-rembet. Tapi tentu saja si pemakai akan terlihat anggun dan sexy, karena bentuk pinggul yang menonjol dan kaki yang meruncing serta merapat.
Selain soal pakaian, sebetulnya wanita Jawa pada hakikatnya mirip dengan submissive. Karena seorang wanita Jawa akan selalu tunduk dan patuh pada suaminya. Bahkan ada kebiasaan dijaman dulu seorang wanita Jawa dipingit sebelum menikah.

Tapi jika anda mencari-cari foto atau gambar tentang bdsm Jawa di internet, maka hampir bisa dikatakan kalau tidak ada atau belum ada. Yang ada adalah bdsm dengan pakaian barat. Atau  Jepang  dan Cina walaupun mungkin masih sedikit.  Dan sekalipun yang melakukan adalah orang Asia, tapi mereka kerap kali melakukannya dengan pakaian barat.

Seperti yang pernah kuceritakan diposting yang terdahulu, kalau dulu aku hobby menggambar terutama dengan obyek wanita yang berkain kebaya. Dan entah sengaja atau tidak, salah satu gambarku adalah seperti yang dibawah ini. Padahal waktu itu aku masih belum bisa mengakses internet.
DCIM100MEDIA
Gambar diatas adalah merupakan karyaku  yang dibuat dengan ballpoint hitam diatas kertas putih. Menggambarkan keadaan seorang wanita dominant yang sebelah tangannya sedang memegang tali yang diikatkan ke leher seorang wanita submisive sementara tangannya yang lain sedang memegang pistol yang diarahkan ke si submisive. Si submisive sendiri tangannya diikat kebelakang. Demikian juga dengan kakinya. Kedua-duanya baik si dominant maupun si submisive memakai kostum tradisional Jawa kain kebaya lengkap dengan sanggul dan selop jinjitnya.