tJeSiLC_vQ4EjbqutLiN10g1b3k

Minggu, 11 November 2012

Moyok mondok


Ini adalah posting yang sebetulnya harus dipublish sebelum postingku yang berjudul "gara-gara selimut".

Kata orang tua jaman dulu jangan suka moyok  nanti mondok. Dalam bahasa Indonesia artinya jangan mengejek nanti  malah jadi ikutan sendiri. Tapi dasar masih anak kecil, aku tidak menggubris perkataan itu. Dulu kalau lihat wanita pakai kain kebaya, sebelum aku menyenangi pakaian itu, aku sering mengejek dengan kata-kata seperti ini  "ndeso, kampungan, mlakunĂ© kserimpet-srimpet". Kami adalah 3 bersaudara. Aku dan salah satu kakakku paling sering mengejek dengan kata-kata itu. Tapi ternyata setelah dewasa, aku dan kakakku itu yang suka pakaian kain kebaya.

Almarhum ibu waktu itu juga tahu soal aku dan terutama kakakku kalau kami  suka mengejek pakaian kain kebaya, hingga menyindir dan mengancam begini. Kalau kakakku tidak menurut perintah ibu, ibu sendiri akan memakai kain sama kebaya waktu pergi dengan kakakku. Untuk diketahui, ibu tidak pernah memakai kain dan kebaya. Kalau sudah seperti itu, maka kakakku akan meminta-minta supaya ibu jangan pakai kain kebaya. Kadang-kadang ibu juga suka mengejek kakakku dengan mengatakan kakakku akan diberi  pakaian tradisional Jawa kalau ada acara di sekolah.

Tapi entah siapa yang memulainya dahulu, aku atau kakakku. Siapa yang lebih dulu menyenangi pakaian kain kebaya, aku tidak tahu. Aku juga tidak tahu bagaimana alur pikiranku sehingga akhirnya aku jadi malah fanatik sama kain kebaya. Cerita awalnya mengenai aku mulai menyenangi pakaian kain kebaya bisa dibaca di posting "gara-gara selimut".

Aku masih ingat waktu itu kakakku yang lain yang tidak suka ikut mengejek pakaian kain kebaya pernah berkata begini, "ojo moyok engko mondok". ( "jangan mengejek, nanti malah jadi ikutan sendiri"). Mungkin ini betul-betul yang namanya moyok mondok.

Setelah aku dan kakakku menyenangi pakaian kain kebaya, pada awalnya kami seolah-olah menutup-nutupi kalau kami senang akan pakaian itu. Aku berusaha menyembunyikan kesenanganku akan pakaian kain kebaya di hadapan kakakku dan semua keluarga. Demikian juga dengan kakakku.

Kemudian kakakku mulai sering  menggodaku jika aku mulai memandang orang atau gambar orang pakai kain kebaya. Kebetulan waktu itu dikampung sering juga diselenggarakan pernikahan dengan adat Jawa.  Dia pernah berkata begini, "gawat, gawat".

Tapi setelah itu, kakakku mulai memperlihatkan dengan terus terang dihadapan ibuku waktu ia memakai kain sama kebaya. Dan biasanya ibu akan berkata "njeléhi, koyo mbok-mbok" artinya menyebalkan seperti ibu-ibu. Tapi selebihnya ibu akan diam saja.

Sedang aku sampai sekarang masih berusaha menutupi dan menyangkal di hadapan keluargaku kalau aku suka pakaian kain kebaya. Tentu saja alasan utamanya kalau kupikir adalah malu dan takut.

Tapi sampai sekarang aku sebenarnya ragu apakah keluargaku sudah mengetahui hobbyku ini atau tidak. Dalam hati kecilku aku berkata mereka mungkin sudah mengetahui, tapi mereka tidak mau membicarakannya dan membiarkannya. Ada beberapa kejadian yang mengarah ke hal itu.

Waktu itu aku ke pasar tradisional bersama ibu. Dikios pakaian wanita yang menjual kain batik sama kebaya, aku pernah ditawari apakah mau pakaian itu ? Aku setengah kaget dan ( pura-pura ) berkata "untuk apa ?". Ibu pun menjawab, "ya untuk dipakai toh".

Selain peristiwa diatas, masih ditambah  lagi dengan kain batik dan kebaya yang setelah kupakai secara sembunyi-sembunyi langsung ku kembalikan ketempatnya tanpa dicuci. Terutama kain batik yang ku wiru dan setelah selesai kupakai wirunya kubuka lagi, tapi masih terlihat bekas lipatannya.

Dari kejadian diatas aku jadi  bertanya-tanya pada diriku sendiri bagaimana  jika waktu itu aku mengiyakan tawaran ibu dan ia betul-betul membelikan aku kain batik sama kebaya ? Baru saja ketika menulis artikel ini, aku punya pikiran jangan-jangan ibu akan mengerjai aku atau akan menghukum aku dengan menyuruh atau memaksa aku memakai kain kebaya dihadapan orang banyak. Atau lebih ekstrimnya ia akan mengikat tangan dan kakiku setelah aku memakai kain dan kebaya, hingga aku tidak bisa melepaskan  pakaian kain kebaya itu. Supaya aku malu dan kapok. Atau ibu betul-betul seorang yang lugu dalam hal psikologi dan sexual serta membiarkan anaknya memiliki kelakuan menyimpang. Ibuku memang pendidikannya rendah seperti umumnya ibu-ibu jaman dahulu yang tidak kaya.

Selasa, 06 November 2012

Pendekar konde


Dulu waktu kecil aku punya hobby menggambar pakai kapur tulis. Menggambarnya biasanya di lantai ubin atau di lantai plesteran. Tapi kadang-kadang juga di meja kayu. Aku senangnya menggambar orang. Biasanya orang silat Cina dan kami, aku dan ibu  menyebutnya sebagai pendekar konde. Sebetulnya sebutan itu tidak tepat. Karena rambut mereka tidak di konde, melainkan di kuncir. Waktu itu pernah ada tamu dari orang tuaku yang datang ke rumah dan melihat gambar-gambarku di lantai. Sang tamu itu kemudian memuji gambarku. Aku senangnya bukan main.

Tapi setelah dewasa, aku sekarang hampir tidak pernah menggambar lagi. Dulu sebelum berhenti menggambar, hobbyku menggambar orang pakai kain kebaya. Sekarang sudah tidak pernah lagi menggambar.

Kalau dipikir-pikir dulu waktu kecil aku suka menggambar pendekar konde, sekarang malah sering pakai konde sendiri. Ini ceritaku, apa ceritamu ?

Rabu, 19 September 2012

Cerita seputar lebaran

Tidak terasa Lebaran sudah sebulan lewat. Dan setiap Lebaran bagi warga negara Indonesia selalu mempunyai cerita khasnya sendiri. Pulang mudik ke kampung halaman walaupun sambil himpit-himpitan dan macet ditengah jalan demi untuk bertemu sanak keluarga tercinta. Belanja Lebaran, takbiran, ketupat, sambel goreng, opor ayam, baju dan sepatu baru. Dan sebagainya.

Saya termasuk beruntung, karena saya tinggal dan bekerja di kota yang merupakan kampung halaman saya sendiri. Jadi saya tidak perlu pulang mudik dan mengalami macet di jalanan.

Tiap Lebaran saya hampir selalu tidak pernah ke luar kota. Paling ke bekas tetangga. Dan beberapa tahun belakangan ini kadang-kadang kakak saya bersama suami dan anak-anaknya mengunjungi saya.

Tahun kemarin sehabis kakak pulang dari rumah saya. Saya baru tersadar kalau waktu kakak di rumah saya, saya secara tidak sengaja membiarkan bra bekas menggantung di rak piring saya dan dari bentuknya itu masih kelihatan kalau bra. Tapi herannya kakak diam saja seolah tidak terjadi apa-apa atau tidak melihatnya. Padahal waktu itu kakak beberapa kali mondar-mandir di depan rak piring dan juga mengambil piring untuk makan siang.

Saya jadi berpikir sendiri kemungkinan yang  terjadi.  Kakak memang tidak melihatnya sama sekali, tapi kemungkinan ini kecil sekali. Karena waktu itu terang sekali dan siang hari, kemudian dia bolak-balik ke rak piring untuk mengambil piring. Kedua kakak mengetahui hal itu tapi dia diam saja, karena ada anak-anaknya dan suaminya. Saya jika memikirkan hal ini jadi penasaran sendiri.

Kemudian karena penasaran, maka lebaran tahun ini saya bermaksud memancing dia untuk mengetahui reaksinya. Kebetulan Lebaran tahun ini dia menelpon saya, katanya mau datang ke rumah dan biasanya kalau datang ke rumah saya, dia sering menghidupkan komputer. Maka saya memasang gambar diatas sebagai wallpaper komputer saya. Akhirnya pucuk dicinta ulam tiba, gayung itupun bersambut. Kakak datang ke rumah dan minta tolong saya untuk menghidupkan komputer. Begitu dia melihat foto saya, dia pun bertanya, "Itu siapa ?. Aku ? Kamu ya ? Gila..". Dia pun memandang ke arah saya, saya hanya tersenyum.

Sehabis itu kami pun sudah beralih ke hal lain. Jadi sampai sekarang, saya masih penasaran sejauh manakah dia menebak foto itu adalah saya. Foto orang lain yang wajahnya saya ganti dengan wajah saya atau foto saya sendiri 100 % ?

Kamis, 13 September 2012

sensasi yang lain


Belakangan ini sesudah boleh dikatakan jenuh cding dengan kain wiron dan kebaya ataupun rok mini, kepikiran bagaimana kalau pakai rok span yang panjang dan sempit sampai ke mata kaki.  Kebetulan aku punya kain batik lama  yang sudah robek di sisi memanjangnya hingga kurang  panjang untuk dililitkan ke kaki sebagai kain wiron. Jadi aku punya pikiran untuk membuatnya menjadi rok span panjang yang sempit.

Setelah ragu-ragu untuk waktu yang lama. Akhirnya aku memutuskan untuk membuatnya dengan jalan menjahitnya sendiri.  Karena aku tidak punya mesin jahit, maka aku menjahitnya dengan tangan. Jadi jahitannya tidak rapi dan perlu waktu lama untuk menyelesaikannya.

Kain batik itu ternyata terlalu panjang untuk dijadikan rok span panjang. Jadi aku buat atasan tank top dan rok span panjang sampai ke mata kaki. Rok span panjangnya kubuat dengan elastik di pinggangnya. Bagian bawahnya aku buat menyempit.

Begitu jadi, aku tidak sabar untuk mencobanya. Seperti yang kuceritakan diposting yang lain, aku selalu cding waktu libur. Cuma akhir-akhir ini aku juga cding di hari biasa, tapi sebatas hanya pakai rok. Tanpa make up, tidak full cding dan betul-betul hanya sebatas  memakai rok, tidak sampai masturbasi. Tapi waktu aku memakai rok span panjang itu sama atasan tank top yang aku rangkap dengan kebaya, aku bisa merasakan suatu kepuasan yang lain yang berbeda dari biasanya. Kepuasan dan kenikmatan yang tidak terlalu menggebu-gebu dan bernafsu. Suatu sensasi yang lain.

Dan tidak terasa adikku si buyung ngiler juga sedikit. Tapi sesudah itu aku bisa mengontrol diriku lagi. Ini namanya bersenang-senang tanpa kelewat terangsang. Maka pada hari itu aku mengupdate status di facebook, bunyinya begini, "tantangan hari ini adalah bersenang-senang tanpa kelewat terangsang, yang gagal akan langsung masuk ke pressure test". Gayanya niru acara yang aku senangi, Master Chef Indonesia.  Lalu aku tweet di twitter begini, "@MasterChefIndo tantangan hari ini adalah bersenang-senang tanpa kelewat terangsang, yang gagal akan langsung masuk ke pressure test".

Dengan demikian aku menjadi pemenang tantangan itu dan mendapatkan hadiah berupa immunity pin. Kekebalan untuk tidak terlalu terangsang secara berlebihan.

Rabu, 12 September 2012

7 transgender Asia tercantik di dunia versi on the spot

1. Sirapassorn Atthayakorn ( Thailand )

2. Harisu ( South Korea )
 3. Alicia Liu ( Taiwan )

4. Chamila Asanka ( Sri Lanka )
 5. Chen Lili ( China )

6. Kayo Satoh ( Japan )
 7. Nong Poy ( Thailand )

Selasa, 11 September 2012

Cerita seputar e-KTP


Issue e-KTP sekarang masih hangat-hangatnya. Ada  kecamatan yang sudah selesai proses pengambilan foto, iris mata, sidik jari dan tanda tangan dan mungkin juga ada yang belum melakukan proses pemanggilan warganya untuk pengambilan foto, iris mata, sidik jari dan tanda tangan.

Banyak teman-teman di kantor dan lingkungan kantor yang sudah diambil foto, iris mata, sidik jari dan tanda tangan mereka di kecamatan mereka masing-masing. Cerita mereka pun berbeda-beda. Ada yang cerita kalau petugasnya sangat keras dalam artian warga yang mau diambil fotonya harus berpakaian dan dandan rapi. Atasan harus berupa baju yang berkerah, tidak boleh memakai kaos. Tapi teman di kecamatan lain berkomentar kalau petugasnya lebih bebas dan tidak seperti yang diceritakan di atas. Bahkan ada yang bilang kalau harus menunjukkan bukti lunas PBB.

Saya sendiri sempat was-was mengenai soal ini. Saya pikir jangan-jangan saya kelewatan, padahal tidak ada undangan dari RT saya di rumah. Tapi akhirnya undangan itu pun akhirnya saya terima juga. Ternyata undangannya jatuh di hari kerja. Jadi saya terpaksa kerja 1/2 hari, baru kemudian ke kecamatan.

Untuk itu saya memberitahu rekan kerja yang seruangan dengan saya. Tapi apa jawaban dari rekan kerja saya yang seorang wanita. Dia bilang begini, "Lha rambutmu ? Karo aku malah dhowo rambutmu. Lanang opo wedhok ?". Saya menjawab gini, "Malah enak to, iso enggo malsu".

Bahasa Indonesianya kurang lebih begini, "Lha rambutmu ? Sama aku malah panjang rambutmu. Laki atau perempuan ?".  Saya menjawab gini, "Malah enak to. Bisa buat malsu".