Sabtu, 09 November 2013
Pelajaran membaca
Label:
BDSM
,
bondage
,
jarik
,
kain kebaya
,
kain panjang
,
kain wiron
,
kebaya
,
Pelajaran membaca
Kamis, 07 November 2013
Dokter masuk desa
Label:
BDSM
,
bondage
,
Dokter masuk desa
,
jarik
,
kain kebaya
,
kain panjang
,
kain wiron
,
kebaya
Minggu, 03 November 2013
Pisang
Pisang adalah merupakan buah yang banyak manfaatnya, karena banyak mengandung mineral dan vitamin seperti vitamin A, vitamin B, vitamin D, Kalsium, Fosfor, Besi, Sodium, Kalium, Magnesium, dan Seng. Buah ini cukup merakyat di Indonesia.
Tidak hanya manusia saja yang menyukainya, tapi primata manusia yaitu kera juga sangat menyukainya. Bahkan sering dijadikan bahan ejekan dalam tebak-tebakan seperti begini. "Buah apakah ini ?". Kemudian si penanya memperagakan gerakan mengupas pisang dengan tangan dan menambahi dengan pernyataan "Yang tahu hanya monyet".
Selain sering dijadikan bahan tebak-tebakan dan sekaligus bahan ejekan, pisang juga sering dikonotasikan dengan hal yang porno. Untuk hal yang satu ini tidak akan dibahas lebih lanjut. Anda terutama yang sudah dewasa tentu sudah maklum sendiri.
Label:
BDSM
,
bondage
,
jarik
,
kain kebaya
,
kain panjang
,
kain wiron
,
kebaya
,
pisang
Pintu yang sempit
Tadi pagi waktu aku beribadah, pembacaan firman Tuhan terambil
dari Lukas 13:24 yang berbunyi : Jawab Yesus kepada orang-orang di
situ: "Usahakanlah dirimu masuk daripada pintu yang sempit; karena Aku
berkata kepadamu: Banyaklah orang yang ingin masuk, tetapi tiada dapat.
Kemudian sesudah itu kotbahnya juga menjelaskan bahwa untuk mencapai
kesempurnaan harus melalui jalan yang sulit, jalan yang sempit dan harus
mengalami banyak kesusahan.
Aku, Sumi Sylvia jadi ingat akan nasehat mama kepadaku dan juga kakakku Ina perihal busana nasional kita yang selalu jadi kontroversi dan mengundang pro serta kontra. Kata mama, kami harus belajar menerima dan mencintai busana nasional kita. Kain kebaya. Tapi coba lihat secara teliti. Di jaman modern yang serba praktis dan cepat ini apakah masih relevan jika kita masih harus tetap melestarikan kain kebaya.
Pakaian dengan bawahan berupa kain wiron sempit yang otomatis menghambat kita untuk melangkah dengan lebar dan cepat. Aku pada waktu pertama kali memakainya bahkan juga merasa sangat tersiksa. Tapi kutipan dari kotbah itu seperti mengingatkanku kalau untuk mencapai kesempurnaan, kita harus melalui jalan yang sempit dan sulit. Mirip sekali dengan kain wiron yang sempit yang menyuiltkan kita untuk berjalan. Apakah ini pertanda bahwa memang kata-kata mama betul dan tepat. Bahwa untuk mencapai kesempurnaan bagi seorang wanita Jawa pada khususnya dan wanita Indonesia pada umumnya, maka harus memakai kain kebaya yang juga merupakan pakaian dengan bawahan kain wiron yang sempit dan sulit untuk dipakai berjalan.
Juga seperti kotbah itu yang mengatakan "banyaklah orang yang ingin masuk, tetapi tiada dapat" hampir sama dengan keadaan kain kebaya sekarang ini. Banyak orang mungkin yang ingin tampil dengan kain kebaya, karena sudah barang tentu akan terlihat cantik dan anggun dengan pakaian itu. Tapi melihat dari segi kesulitan, keribetan dan kepraktisan, maka banyak orang yang menolak untuk memakainya.
Pada akhirnya kalau pun ingin tetap memakai kain kebaya, maka mereka memodifikasinya terutama bawahannya dibuat menjadi semacam rok yang longgar di bawahnya. Hal ini mengingatkanku akan suatu kotbah mengenai kewajbanku sebagai umat Tuhan yang harus rela memanggul salibNya. Tapi bagi sebagian orang karena salib itu terasa berat bagi mereka, maka mereka memodifikasinya dengan memotong tiangnya hingga menjadi lebih pendek, ringkas dan lebih ringan. Tapi ternyata mereka harus melewati jurang yang lebar dan salib itu juga berfungsi sebagai jembatan untuk menyeberang jurang yang lebar itu. Celaka bagi mereka yang memotong tiang salib hingga menjadi pendek, karena ternyata tiang salib itu tidak cukup panjang untuk dijadikan jembatan untuk menyeberang jurang itu.
Belum lagi seperti kotbah yang mengatakan akan mengalami banyak kesusahan, itu pun aku rasakan jika berkain kebaya. Pertama, orang-orang yang tidak suka kain kebaya dan berpandangan modern sudah barang tentu akan menghina aku. Kemudian aku sendiri juga susah untuk melakukan segala sesuatunya jika memakai pakaian itu. Terakhir, kakak dan teman-temannya yang selalu mengincar aku jika sedang berkain kebaya untuk mereka jadikan korban submissive.
Aku hanya bisa berdoa semoga aku tabah dan imanku kuat menghadapi segala cobaan ini. Semoga wanita-wanita Indonesia tetap bisa melestarikan busana nasionalnya.
Aku, Sumi Sylvia jadi ingat akan nasehat mama kepadaku dan juga kakakku Ina perihal busana nasional kita yang selalu jadi kontroversi dan mengundang pro serta kontra. Kata mama, kami harus belajar menerima dan mencintai busana nasional kita. Kain kebaya. Tapi coba lihat secara teliti. Di jaman modern yang serba praktis dan cepat ini apakah masih relevan jika kita masih harus tetap melestarikan kain kebaya.
Pakaian dengan bawahan berupa kain wiron sempit yang otomatis menghambat kita untuk melangkah dengan lebar dan cepat. Aku pada waktu pertama kali memakainya bahkan juga merasa sangat tersiksa. Tapi kutipan dari kotbah itu seperti mengingatkanku kalau untuk mencapai kesempurnaan, kita harus melalui jalan yang sempit dan sulit. Mirip sekali dengan kain wiron yang sempit yang menyuiltkan kita untuk berjalan. Apakah ini pertanda bahwa memang kata-kata mama betul dan tepat. Bahwa untuk mencapai kesempurnaan bagi seorang wanita Jawa pada khususnya dan wanita Indonesia pada umumnya, maka harus memakai kain kebaya yang juga merupakan pakaian dengan bawahan kain wiron yang sempit dan sulit untuk dipakai berjalan.
Juga seperti kotbah itu yang mengatakan "banyaklah orang yang ingin masuk, tetapi tiada dapat" hampir sama dengan keadaan kain kebaya sekarang ini. Banyak orang mungkin yang ingin tampil dengan kain kebaya, karena sudah barang tentu akan terlihat cantik dan anggun dengan pakaian itu. Tapi melihat dari segi kesulitan, keribetan dan kepraktisan, maka banyak orang yang menolak untuk memakainya.
Pada akhirnya kalau pun ingin tetap memakai kain kebaya, maka mereka memodifikasinya terutama bawahannya dibuat menjadi semacam rok yang longgar di bawahnya. Hal ini mengingatkanku akan suatu kotbah mengenai kewajbanku sebagai umat Tuhan yang harus rela memanggul salibNya. Tapi bagi sebagian orang karena salib itu terasa berat bagi mereka, maka mereka memodifikasinya dengan memotong tiangnya hingga menjadi lebih pendek, ringkas dan lebih ringan. Tapi ternyata mereka harus melewati jurang yang lebar dan salib itu juga berfungsi sebagai jembatan untuk menyeberang jurang yang lebar itu. Celaka bagi mereka yang memotong tiang salib hingga menjadi pendek, karena ternyata tiang salib itu tidak cukup panjang untuk dijadikan jembatan untuk menyeberang jurang itu.
Belum lagi seperti kotbah yang mengatakan akan mengalami banyak kesusahan, itu pun aku rasakan jika berkain kebaya. Pertama, orang-orang yang tidak suka kain kebaya dan berpandangan modern sudah barang tentu akan menghina aku. Kemudian aku sendiri juga susah untuk melakukan segala sesuatunya jika memakai pakaian itu. Terakhir, kakak dan teman-temannya yang selalu mengincar aku jika sedang berkain kebaya untuk mereka jadikan korban submissive.
Aku hanya bisa berdoa semoga aku tabah dan imanku kuat menghadapi segala cobaan ini. Semoga wanita-wanita Indonesia tetap bisa melestarikan busana nasionalnya.
Label:
BDSM
,
bondage
,
jarik
,
kain kebaya
,
kain panjang
,
kain wiron
,
kebaya
,
Pintu yang sempit
Jumat, 01 November 2013
Tragedi buah apel atau kotak pandora
Aku Domina Nancy sama sekali tak mengira kalau apa yang kulakukan dengan tidak sengaja akhirnya menjadi bumerang bagi diriku dan menjadi wabah bagi orang lain.
Awal mulanya adalah ketika aku dan adikku diutus oleh orang tua kami untuk menghadiri suatu resepsi dan pakaian yang siap dipakai untuk ke resepsi kebetulan cuma ada 2 yaitu mini dress dan kain kebaya. Itu karena waktu yang mepet dan adanya perubahan rencana. Dulunya mama akan pergi bersama salah seorang dari kami. Ternyata mama tidak jadi pergi dan mengutus kami berdua. Kami pun berebut untuk memakai strapless mini dress daripada memakai kain kebaya. Kami pingsut dan sial bagi adikku. Dia kalah dan harus memakai kain kebaya.
Tapi apa yang terjadi ? Begitu adikku memakai kain kebaya, ku akui dia kelihatan cantik, anggun, dewasa dan mempesona. Kemudian aku perhatikan waktu dia berjalan. Begitu terhambat dan tersiksa kakinya untuk dapat melangkah dengan lebar dan cepat. Segala gerak-geriknya jadi lambat. Aku jadi kepikiran kalau dia cocok untuk model submissive. Maka aku menjebaknya dan memaksa dia menjadi model submissive untuk kelompokku.
Padahal sebelumnya di kelompokku tidak pernah ada pikiran untuk menjadikan seorang wanita yang berpakaian Jawa menjadi model submissive. Kami selalu memotret model yang berpakaian mini, sexy atau bahkan hanya memakai pakaian dalam dan yang paling sopan adalah pakaian biasa sehari-hari seperti pakaian kantor.Tapi begitu mereka kuberitahu dan kuperlihatkan adiikku yang waktu itu sedang berpakaian kain kebaya, maka mereka juga satu ide dengan aku. Untungnya adikku tidak bisa atau tidak berani menolak ketika kupaksa menjadi model submissive. AKu puas, begitu juga kelompokku.
Tapi aku tidak sadar kalau ini adalah awal dari segalanya. Awal berkah tapi juga sekaligus awal musibah. Memang betul ini seperti berkah, karena aku mendapat submissive dengan model baru. Tapi juga awal musibah bagi diriku dan temanku. Tidak itu saja, ini juga adalah awal dari arena balas dendam yang tidak akan pernah ada ujungnya.
Awal dari bumerang bagiku sendiri dan juga awal petaka bagi yang lain. Karena bagitu aku dalam keadaan terpaksa memakai kain kebaya dan kelompokku mengetahuinya, maka mereka juga memaksaku menjadi submissive. Aku yang sebelumnya tidak pernah menjadi submissive dan selalu menjadi dominant, untuk pertama kalinya harus menjadi submissive. Harga diriku seperti diinjak-injak. Apalagi adikku yang sebelumnya kujebak dan kujadikan model submissive juga ikut melihat dengan mata kepala sendiri, kakaknya dijadikan submissive. Belum lagi aku harus memakai pakaian yang paling tidak kusuka ketika menjadi submissive. Harga diriku runtuh.
Tidak itu saja. Sesudah itu aku pun sudah 2 kali lagi mereka paksa menjadi submissive. Aku bahkan juga sempat dihukum dan diikat oleh papaku sendiri sampai 2 kali pula. Bagi mereka sepertinya mudah mendapatkan kesempatan untuk menjadikanku submissive. Kesempatan yang tidak pernah ada sebelum aku menjadikan adikku submissive. Apakah ini karma ?
Aku jadi dendam terhadap semua orang yang pernah menjadikan aku submissive. Aku akan ingat mereka satu persatu. Nama mereka ku catat satu persatu dan aku akan mencari kesempatan yang tepat untuk melampiaskan dendamku menjadikan mereka submissiveku satu persatu.
Mini, engkau adalah sahabat karibku. Oleh karena itu engkau mendapatkan kehormatan untuk menjadi submissive ku yang pertama di rangkaian ritual balas dendamku. Tapi engkau sekarang boleh tertawa senang, karena engkau telah sukses membalas kembali perbuatanku. Tapi tetap berjaga-jaga dan waspadalah. Karena permainan belum berakhir. Mata ganti mata. Dendam dibalas dendam. Sadis dibalas dengan lebih sadis.
Semua ini hanya berawal karena satu peristiwa yaitu adikku terpaksa memakai kain kebaya dan aku memanfaatkannya. Maka berubahlah sudah tatanan duniaku.Seorang dominant akhirnya menjadi submissive. Seandainya aku membiarkan adikku dan tidak memanfaatkan dia.
Tapi sekarang kotak pandora sudah terlanjur kubuka. Apakah dengan menutupnya kembali otomatis segala sesuatu yang telah keluar bisa hilang atau masuk kembali kedalamnya ? Terlalu sulit dan terlalu tidak mungkin, karena segala sesuatu yang keluar telah menyebar seperti wabah virus dan bukannya menghilang tapi malah berkembang biak. Serta tidak mungkin masuk kembali kedalamnya, kecuali disedot masuk kembali. Tapi sedotan apakah yang mampu menarik masuk kembali virus yang telah menyeber ke mana-mana ?
Sementara buah apel dari sang iblis pun telah dimakan oleh Hawa dan Adam. Dosa pun telah menyebar luas kemana-mana. Dan hari penghakiman pun masih belum tiba.
Sekarang ijinkanlah aku bertanya kepada anda semua. Para pembaca budiman apakah anda semua juga menginginkan cerita dan dendam ini terus berlanjut atau haruskah aku berdamai dengan semua orang yang pernah menundukkanku dan melupakan ide untuk menjadikan wanita yang berkain kebaya sebagai model submissive ? Membiarkan tenram dan damai menaungi kita semua atau apakah anda malah ingin menjadi budak nafsu dan memuaskan serta mengobral hawa nafsu anda ?
Label:
BDSM
,
bondage
,
jarik
,
kain kebaya
,
kain panjang
,
kain wiron
,
kebaya
,
kotak pandora
,
Tragedi buah apel
Kamis, 31 Oktober 2013
Jadi model tata rias
Inilah lanjutan kisah Domina dan Sumi. Setelah Domina didandani Sumi dengan pakaian kain kebaya
dan berakhir dengan Domina dihukum diikat tangannya setelah sebelumnya
terjadi keributan antara keduanya dan Domina memukuli adiknya.
Setelah Domina terikat dengan tangan di belakang dan bersimpuh di lantai, ayahnya meninggalkannya. Tapi ibu dan Sumi masih didekat Domina. Sumi menetes air matanya dan berkata, "Ma, sebetulnya kakak tidak suka pakai kain kebaya. Sumi yang maksa dia". Sumi lalu bersimpuh di kaki kakaknya dan berkata, "Maafkan Sumi, ya kak". Kakaknya hanya diam saja. Ibunya jadi tercengang lalu berkata, "Lantas kenapa kamu ngikat adikmu sama mukuli dia sampai kayak gitu ?". Domina tetap diam tidak bisa menjawab. Ibunya menyambung lagi, "Kalau kamu ngiket sama mukuli adikmu lantaran tidak mau pakai kain kebaya sama dijadikan model, kamu salah Ina. Lagi pula seperti yang mama bilang kamu berdua memang harus belajar mencintai busana nasional kita sendiri. Sekarang mama tanya sama kamu sekali lagi dan kamu jawab yang jujur tanpa terpaksa. Mama tidak akan marah atau menghukum kamu jika kamu menolak". Ibunya diam sebentar, kemudian bertanya kapada Domina, "Apa kamu bersedia mama jadikan model rias tradisional ?". Domina jadi ragu-ragu apakah ia akan menolak atau menyanggupinya. Tapi karena ia hormat akan ibunya, maka ia mengangguk. Kemudian ibu dan adiknya memeluk dan menciumnya.Setelah itu ibunya meminta kepada suaminya supaya melepaskan Domina dari ikatannya. Ayahnya lalu membolehkan istrinya melepaskan ikatan tali Domina.
Beberapa hari kemudian, tibalah saatnya Domina akan dirias. Pagi harinya sang ibu dan Sumi sudah memakai kain kebaya. Tapi Domina masih memakai rok dan baru akan memakai kain kebaya di tempat acara peragaan tata rias tradisional. Domina yang melihat adiknya memakai kain kebaya, jadi timbul nafsunya untuk menjadikannya submissive. Ia pun berpikir bagaimana caranya. Sempat kepikiran kalau ia akan mengerjai adiknya sepulang dari acara.
Di tempat acara berlangsung, Domina seperti merasa tersiksa dan merasakan waktu berlalu dengan sangat lambat. Di pendamnya perasaan tidak suka, jengkel dan terpaksa. Ia pun juga masih harus mengatasi rasa malu dan grogi. Wajahnya dipaksakannya untuk tersenyum manis. Meskipun dalam hatinya berkata kalau ia sedang apes. Biasanya mengerjai orang lain sebagai submissive dan mengambil foto-foto submissive, sekarang harus memakai pakaian kain kebaya yang menurut pikirannya hanya cocok untuk seorang submissive. Itu pun ditonton oleh orang banyak. Sesudah itu ia pun masih harus di sanggul dan di makeup wajahnya. Menurutnya ini seperti humiliation atau dipermalukan di depan umum kalau di dalam permainan bondage. Di dalam hatinya timbul pikiran menyalahkan adiknya yang menjerumuskannya menjadi model seperti sekarang ini. Kalau saja ia tidak ceroboh dan asal mengiyakan serta memperhatikan apa yang diminta dan dikatakan adiknya bahwa adiknya ingin mendandaninya dengan kain kebaya, tentu ia tidak akan mengalami hal ini.
Tapi syukurlah acara berlangsung dengan lancar dan aman. Ibu dan kedua anaknya sudah bersiap-siap pulang. Domina masih memakai kain kebaya. Tiba-tiba datanglah awal masalah. Ternyata Mini juga diundang ke acara itu oleh ibunya. Ketika ibu dan kedua anaknya bersiap pulang, Mini dan beberapa temannya datang dan menyalami ibu serta adiknya. Ibunya berkata, "Ini Mini yang mama rias dulu waktu wisudanya. Dia mama undang ke acara ini biar bisa tau banyak soal tata rias tradisional".Domina jadi was-was dan tegang. Kemudian karena Mini dan Domina terlibat percakapan, maka sang ibu memotong dengan berkata, "Ina, kamu boleh main dulu sama teman-temanmu. Ini tas berisi pakaianmu. Mama mau pulang bersama adikmu". Diulurkannya tas itu, tapi teman Mini yang menerimanya sambil berkata, "Biar saya bawakan, Ina kan ribet soalnya pakai kain". Domina hendak merebut tas itu, tapi tangannya dipegangi oleh temannya yang lain. Domina sudah merasa kalau ia bakal ganti dikerjai oleh Mini, maka akhirnya ia berkata, "Ma, Ina mau pulang sama mama saja". Tapi ibunya malah berkata, "Ina, tidak usah buru-buru. Kamu ngobrol dulu sama mereka". Sang ibu pun bergegas meninggalkan Domina bersama teman-temannya.
Sumi yang tahu kakaknya dalam situasi terjebak jadi bingung sendiri. Mau menemani dan menolong kakaknya, tapi ia sendiri juga sedang pakai kain kebaya. Bisa-bisa ia juga dijadikan model submissive sekalian. Sumi sempat menoleh ke belakang kepada kakaknya dan berkata, "kakak...". Ibunya kemudian memotong perkataannya dan berkata, "Apa kamu mau main sama mereka ?". Sumi serba salah dan bingung. Ia kemudian menggeleng. Tapi ia sempat melihat kedua tangan kakaknya dipegangi oleh teman-temannya dan mereka membawanya dengan cepat-cepat.
Di dalam mobil temannya, Domina berusaha merebut tasnya. Tapi kedua temannya yang duduk disebelah kanan dan kirinya mencegahnya. Karena Domina terus menerus berusaha merebut tas itu, maka mereka mengikat tangan Domina ke belakang punggungnya.
Mini yang duduk di kursi depan menoleh ke belakang dan berkata, " Ina, permainan kita sudah dimulai". Kemudian Mini berkata kepada temannya yang duduk disebelah Domina, "Sist, beri dia minuman penyambutan". Temannya yang duduk disebelahnya kemudian mengunjukkan minuman kaleng ke mulut Domina, tapi Domina tidak bernafsu. Karena ia ingat apa yang pernah ia lakukan kepada Mini. Sementara Mini dan teman-teman yang lainnya sudah memegangi minuman kaleng dan bersiap untuk meminumnya. Mini berkata kepada Domina, "Betulan nggak mau minum nih ?". Domina diam saja. Dari tadi wajahnya cemberut. Mini kemudian mengomando teman-temannya, "Mari kita bersulang untuk teman kita, Domina. Yang hari ini berdandan cantik bak putri Solo. Cheers !". Mereka bersulang dan meminumnya. Sekali lagi Mini mengejek Domina, "Ah, segar rasanya. Haus jadi hilang". Kemudian ia mengunjukkan kaleng minumannya ke mulut Domina dan memiringkannya ke mulut Domina. Kemudian Mini berkata, "O-oh, sorry sudah kosong. Habis kamu nggak mau sih". Mini melanjutkan ledekannya, "Gimana rasanya jadi model tata rias tradisional. Enak ya ? Anggun banget lho kamu kalau pakai kain kebaya kayak gitu. Gandes luwes, neng" Ia pun mencubit sebelah pipi Domina. Domina jadi semakin cemberut mukanya. Tapi Mini masih menambahi lagi, "Non, kapan-kapan kalau jadi model tata rias tradisional lagi kita dikabari ya non". Domina menjawab dalam hati, "Amit-amit. Nggak lagi-lagi déh. Emang aku suka pakai pakaian kayak gini".
Tak lama kemudian sampailah mereka disebuah rumah salah seorang dari mereka. Ternyata di teras depan ada undak-undakannya yang cukup tinggi. Domina jadi ngeri. Pikirnya naik tangga pakai kain jarik saja sudah sulit., apalagi sekarang ditambah tangannya diikat ke belakang. Tapi kalau ia minta supaya tangannya dilepas dari ikatannya, Mini tentu saja tidak menggubrisnya. Jadilah Domina berdiri termangu-mangu di depan undak-undakan. Teman-temannya pun bekata, "Ayo, naik dong, néng. Jangan cuma diam ngambek disitu". Akhirnya dengan sangat perlahan-lahan Domina menaiki anak tangga satu demi satu. Kepalanya menunduk ke bawah, matanya memperhatikan tiap anak tangga. Setiap melangkahi anak tangga, jalannya miring. Sehabis menaiki satu anak tangga, badannya lurus ke depan terlebih dahulu dan kemudian miring ke samping lagi dan melangkah. Begitulah terus dilakukannya sampai ke atas. Untung ia tidak kesandung anak tangga. Sesampai di atas, ia ditepuki oleh teman-temannya. Kali ini Domina tidak bisa menahan senyumnya. Ia tersenyum lantaran pikirnya teman-temannya seperti habis melihat sirkus akrobatik. Tapi menurutnya ia memang .betul-betul habis melakukan pekerjaan yang sulit yaitu naik tangga dengan terikat ke belakang dan memakai kain jarik. Sempat kepikiran dalam hati Domina bahwa ia cukup beruntung, karena beberapa hari sebelumnya ia sudah pernah naik tangga sambil pakai kain jarik dirumahnya sendiri. Kemudian Mini berkata, "Duh, duh, duh... Jalannya pelan amat persis putri Solo kesiangan. Kenapa non ? Takut kalau jatuh ya ? Takut kesandung undak-undakan apa takut kesrimpet jarik kamu ? Jangan takut, non. Kalau kamu kesandung apa mau jatuh kita semua siap menopang kamu sebelum kamu jatuh. Kamu kan bintang kita hari ini. Masak kita nggak mensupport kamu".
Masuklah mereka ke dalam rumah. Mereka membawanya ke ruang cuci, maka tahulah Domina bahwa pakaian gantinya yang berupa rok akan disiram air seperti yang ia perbuat terhadap pakaian Mini . Mini segera berkata sambil membuka tas yang berisi pakaian Domina, "Ina sayang, kita baru baik hati hari ini. Kamu tentu tidak keberatan kan kalau pakaianmu kami cuci gratis tanpa bayar daripada kamu harus ke laundry". Dan ia memasukkan pakaian Domina ke mesin cuci. Hilang sudah harapan Domina untuk bisa segera pulang dengan pakaian itu.
Kemudian mereka membawa Domina ke ruang olahraga. Mini berkata, "Non, hari ini kita semua mau olahraga. Kamu juga. biar sehat" dan Mini membawa Domina ke treadmill. Katanya, "Ayo, naik !" sambil memaksa Domina. Domina jadi tersenyum sendiri membayangkan kelucuan yang bakal terjadi. Karena sudah tidak berdaya dan sudah pernah 2 kali sebelumnya ia dipaksa menjadi submissive, akhirnya ia bisa menerima keadaan ini. Domina kemudian melepas sandal jinjitnya dan naik ke treadmill. Mini menyetel kecepatannya cukup rendah sehingga Domina bisa cukup lama berjalan di treadmill, tapi kemudian kecepatannya dinaikkan sehingga Domina harus berjalan cepat dan bahkan berlari sambil kesrimpet-srimpet kain jariknya. Setelah itu Mini menurunkan lagi kecepatannya. Begitulah mereka mengerjai Domina berulang-ulang, hingga akhirnya menaikkan kecepatannya dan tak lama kemudian Domina pun terpeleset dan jatuh. Untungnya hanya pelan saja, mereka pun mentertawakannya. Domina hanya bisa tersenyum kecut. Sesudah itu mereka membiarkan Domina beristirahat sebentar.
Tibalah sekarang ke permainan kedua. Mereka telah menyiapkan tali dan 2 orang memegang tali itu diujung-ujungnya. Domina disuruhnya main lompat tali. Domina yang sudah capai sehabis berlari-lari di treadmill hanya bisa menabahkan hatinya sendiri dan mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang ada. Dalam hatinya ia berpikir akan lebih memalukan bagi dirinya untuk memohon-mohon kepada Mini supaya menghentikan balas dendam ini dan hampir sudah dapat dipastikan kalau Mini akan menolak permintaannya seperti dulu ia juga menolak permintaan Mini untuk melepaskan ikatan Mini. Tapi kalau lompat tali sambil pakai kain wiron, ia juga berpikir kalau kemungkinan ia bisa kesrimpet wironnya yang membuka pada waktu ia melompat. Domina jadi berpikir ingin meminta kain wironnya diikat supaya tidak nyrimpeti kakinya, tapi itu sama juga dengan mengikat kedua kakinya. Domina takut kalau mereka salah paham dan mengira kalau Domina senang menjadi submissive. Domina seperti mendapat buah simalakama. Dimakan mati ibu, tidak dimakan mati ayah.
Setelah berpikir lama, akhirnya Domina tidak meminta kain wironnya diikat dan membiarkan kain wironnya beresiko neyrimpeti kakinya serta menuruti saja kemauan mereka.Hap, hap, hap. Beberapa kali ia melompat dan selamat. Tapi sesudah itu Domina jatuh kesrimpet tali dan jariknya. Sekali lagi mereka mentertawakannya.
Karena Domina selalu menuruti kemauan mereka tanpa banyak cingcong walaupun mengalami kesulitan dan akhirnya jatuh, maka mulai timbul rasa segan terhadap Domina. Mini berpikir bahwa Domina cukup tegar dan tidak seperti dirinya ketika dikerjai dulu oleh Domina dimana ia sempat menangis dan mengiba-iba. Maka mereka bermaksud segera mengakhiri acara permainan di hari itu dengan suatu olahraga yang cukup ekstrim, bungee jumping.
Kebetulan rumah mereka memilikii loteng dan cukup tinggi. Maka sekali lagi Domina mereka suruh naik loteng. Domina pun dengan tidak banyak berkata segera menuruti kemauan mereka. Barulah sesampainya diatas Domina jadi kaget dengan apa yang telah mereka persiapkan. Ternyata mereka telah mempersiapkan peralatan untuk bungee jumping. Domina jadi dag dig dug. Tapi ternyata teman Mini sendiri yang melakukan bungee jumping.
Sesudah itu barulah Domina mereka suruh melakukan bungee jumping. Ketika kaki Domina hendak mulai diikat dengan peralatan bungee jumping, Domina menolak, "Mini, kamu suruh aku bungee jumping disini sambil pakai pakaian kayak gini. Enggak déh !". Tapi Mini berkata, "Ina, aku tahu kamu pernah melakukan bungee jumping dan tempat ini sebelumnya juga sudah pernah dipakai untuk bungee jumping serta aman-aman saja. Ayolah". Katanya lagi sambil memegang-megang sanggul Domina, "Sanggul kamu masih cukup kencang. Jangan kuatir, tidak akan copot. Kalau nanti sampai copot dan menggelinding akan kita pasangkan lagi. Tapi sandal jinjitnya dilepas dulu dong, non". Domina diam saja, dalam hatinya berkata, "Sanggul kamu itu sendiri ! Bukan sanggul, tapi kain kebaya sama tangan diikat ke belakang ini yang bikin ribet". Karena Domina diam saja, maka Mini mengartikan bahwa Domina bersedia melakukan bungee jumping. Mereka pun mulai memasang alat di kaki dan tubuh Domina. Setelah selesai, mereka membawanya dengan setengah memaksa menyeretnya ke tepian teras. Tidak itu saja, mereka menutup mulut Domina dengan lakban, karena kuatir ia akan memaki-maki. Baru setelah itu mendorongnya hingga Domina jatuh dan terpaksa melakukan bungee jumping.
Setelah dibiarkannya Domina berisitirahat sebentar, maka mereka membawa Domina ke kolam renang yang ada di rumah itu. Domina dibawanya sampai ke tepi kolam renang. Tapi Domina menolak untuk masuk ke kolam renang, maka Mini berkata, "Ayo, non. Berenang biar segar" sambil menceburkan Domina ke kolam renang. Karena mengetahui kalau Domina bisa berenang. Maka terpaksalah Domina berenang dengan masih tetap bersanggul dan berkain kebaya serta terikat tangannya. Tentu saja Domina jadi kesulitan. Untungnya mereka hanya membiarkan keadaan itu berlangsung sebentar. Lalu Domina diangkatnya naik ke tepian kolam. Basah kuyup tubuh Domina, kain jariknya jadi lengket di kedua kakinya. Domina mencoba melangkah, tapi jadi semakin sulit bila dibandingkan waktu melangkah dengan memakai kain jarik tapi dalam keadaan kering. Mini malah mengejek, katanya, "Gimana ? Seger kan non ? Ditanya kok diam saja".
"Yah, pelajaran kebugaran jasmani kita hari ini sudah selesai. Silahkan kalau mau pulang", kata Mini kepada Domina yang masih terikat dan basah kuyup. Sesudah itu Mini segera membuka ikatan tangan Domina. Domina jadi bingung, bagaimana ia akan pulang kalau dengan pakaian basah kuyup seperti itu. Rupanya Mini memang sengaja membiarkan Domina jadi bingung. Setelah itu barulah Mini berkata, "Jangan kuatir dan jangan bingung, non. Kami sudah mempersiapkan pakaian gantinya yang sama persis yaitu kain batik dan kebaya". Tidak itu saja mereka juga mendatangkan seorang kenalan mereka dari sanggar rias tradisional untuk memakaikan kain wiron dan menyanggul ulang rambut Domina.
Sebelum tamu dari sanggar rias itu datang ke rumah, Mini mempersilahkan Domina membuka seluruh pakaiannya yang basah juga dengan sanggulnya dan memberinya handuk untuk mengeringkan. Tak lama setelah itu tamu dari sanggar rias itupun datang. Mini berkata kepada tamunya, "Ini, jeng. Teman saya mau minta tolong dirias". Domina berkata dalam hati, "Ya, nasib. Habis basah kuyub dapat ganti pakaian. Ternyata gantinya juga kain kebaya".
Setelah selesai dirias dan memakai kain kebaya, mereka mengantarkan Domina pulang ke rumah. Kata Mini, "Ina, kamu pulang pakai kebaya ini saja dulu. Pakaianmu kan belum kering. Nanti ku kirim ke rumah". Tapi begitu hampir sampai ke rumah Domina, ternyata mereka masih mengerjainya juga. Mereka menurunkan Domina tidak tepat di depan rumahnya, tapi kira-kira masih berjarak ratusan meter. Kata Mini, "Sorry, aku tidak bisa mengantarmu sampai ke rumah. Waktuku mepet banget, aku ada acara ditempat lain. Aku drop kamu disini saja ya". Ia kemudian memeluk dan mencium Domina serta menurunkannya dari mobil. Sambil berlalu, dari dalam mobil Mini berteriak, "Tetap cantik ! Tetap pakai kain kebaya !".
Domina menggerutu dalam hati. Ya nasib. Sudah dikerjai habis-habisan, badan rasanya capai. sekarang masih disuruh jalan kaki ratusan meter dengan memakai kain kebaya. Dalam hatinya kemudian timbul pikiran untuk membalaskan ini semuanya kepada adiknya. Ia kepikiran untuk mencincing kain jariknya untuk mempercepat langkahnya, tapi ia malu untuk melakukannya.
Derita Domina rupanya masih belum berakhir sampai disini. Di tengah jalan ia digoda oleh sepasang cowok yang berboncengan motor, "Cantik ! Dari mana ? Habis Kartinian ya ? Kasihan siang-siang pakai kain kebaya jalan sendirian. Mbonceng mau nggak ?". Mereka pun menghentikan sepeda motornya sebentar di dekat Domina dan menoleh sambil tersenyum-senyum sebelum akhirnya berkata, "Ditanya diam saja. Sombong ya" dan akhirnya mereka pergi. Domina jadi mangkel, tapi juga geli akan nasibnya sendiri. Supaya tidak terlihat bahwa ia menahan geli, maka bibirnya ditutupinya dengan saputangan pink. Saputangan wanita yang berwarna jambon muda tadi ada di tas yang berisi pakaian. Untungnya mereka tidak ikut memasukkannya ke dalam mesin cuci. Untungnya pula tadi pagi ibunya sempat memasukkannya ke dalam tas Domina.
Setelah Domina terikat dengan tangan di belakang dan bersimpuh di lantai, ayahnya meninggalkannya. Tapi ibu dan Sumi masih didekat Domina. Sumi menetes air matanya dan berkata, "Ma, sebetulnya kakak tidak suka pakai kain kebaya. Sumi yang maksa dia". Sumi lalu bersimpuh di kaki kakaknya dan berkata, "Maafkan Sumi, ya kak". Kakaknya hanya diam saja. Ibunya jadi tercengang lalu berkata, "Lantas kenapa kamu ngikat adikmu sama mukuli dia sampai kayak gitu ?". Domina tetap diam tidak bisa menjawab. Ibunya menyambung lagi, "Kalau kamu ngiket sama mukuli adikmu lantaran tidak mau pakai kain kebaya sama dijadikan model, kamu salah Ina. Lagi pula seperti yang mama bilang kamu berdua memang harus belajar mencintai busana nasional kita sendiri. Sekarang mama tanya sama kamu sekali lagi dan kamu jawab yang jujur tanpa terpaksa. Mama tidak akan marah atau menghukum kamu jika kamu menolak". Ibunya diam sebentar, kemudian bertanya kapada Domina, "Apa kamu bersedia mama jadikan model rias tradisional ?". Domina jadi ragu-ragu apakah ia akan menolak atau menyanggupinya. Tapi karena ia hormat akan ibunya, maka ia mengangguk. Kemudian ibu dan adiknya memeluk dan menciumnya.Setelah itu ibunya meminta kepada suaminya supaya melepaskan Domina dari ikatannya. Ayahnya lalu membolehkan istrinya melepaskan ikatan tali Domina.
Beberapa hari kemudian, tibalah saatnya Domina akan dirias. Pagi harinya sang ibu dan Sumi sudah memakai kain kebaya. Tapi Domina masih memakai rok dan baru akan memakai kain kebaya di tempat acara peragaan tata rias tradisional. Domina yang melihat adiknya memakai kain kebaya, jadi timbul nafsunya untuk menjadikannya submissive. Ia pun berpikir bagaimana caranya. Sempat kepikiran kalau ia akan mengerjai adiknya sepulang dari acara.
Di tempat acara berlangsung, Domina seperti merasa tersiksa dan merasakan waktu berlalu dengan sangat lambat. Di pendamnya perasaan tidak suka, jengkel dan terpaksa. Ia pun juga masih harus mengatasi rasa malu dan grogi. Wajahnya dipaksakannya untuk tersenyum manis. Meskipun dalam hatinya berkata kalau ia sedang apes. Biasanya mengerjai orang lain sebagai submissive dan mengambil foto-foto submissive, sekarang harus memakai pakaian kain kebaya yang menurut pikirannya hanya cocok untuk seorang submissive. Itu pun ditonton oleh orang banyak. Sesudah itu ia pun masih harus di sanggul dan di makeup wajahnya. Menurutnya ini seperti humiliation atau dipermalukan di depan umum kalau di dalam permainan bondage. Di dalam hatinya timbul pikiran menyalahkan adiknya yang menjerumuskannya menjadi model seperti sekarang ini. Kalau saja ia tidak ceroboh dan asal mengiyakan serta memperhatikan apa yang diminta dan dikatakan adiknya bahwa adiknya ingin mendandaninya dengan kain kebaya, tentu ia tidak akan mengalami hal ini.
Tapi syukurlah acara berlangsung dengan lancar dan aman. Ibu dan kedua anaknya sudah bersiap-siap pulang. Domina masih memakai kain kebaya. Tiba-tiba datanglah awal masalah. Ternyata Mini juga diundang ke acara itu oleh ibunya. Ketika ibu dan kedua anaknya bersiap pulang, Mini dan beberapa temannya datang dan menyalami ibu serta adiknya. Ibunya berkata, "Ini Mini yang mama rias dulu waktu wisudanya. Dia mama undang ke acara ini biar bisa tau banyak soal tata rias tradisional".Domina jadi was-was dan tegang. Kemudian karena Mini dan Domina terlibat percakapan, maka sang ibu memotong dengan berkata, "Ina, kamu boleh main dulu sama teman-temanmu. Ini tas berisi pakaianmu. Mama mau pulang bersama adikmu". Diulurkannya tas itu, tapi teman Mini yang menerimanya sambil berkata, "Biar saya bawakan, Ina kan ribet soalnya pakai kain". Domina hendak merebut tas itu, tapi tangannya dipegangi oleh temannya yang lain. Domina sudah merasa kalau ia bakal ganti dikerjai oleh Mini, maka akhirnya ia berkata, "Ma, Ina mau pulang sama mama saja". Tapi ibunya malah berkata, "Ina, tidak usah buru-buru. Kamu ngobrol dulu sama mereka". Sang ibu pun bergegas meninggalkan Domina bersama teman-temannya.
Sumi yang tahu kakaknya dalam situasi terjebak jadi bingung sendiri. Mau menemani dan menolong kakaknya, tapi ia sendiri juga sedang pakai kain kebaya. Bisa-bisa ia juga dijadikan model submissive sekalian. Sumi sempat menoleh ke belakang kepada kakaknya dan berkata, "kakak...". Ibunya kemudian memotong perkataannya dan berkata, "Apa kamu mau main sama mereka ?". Sumi serba salah dan bingung. Ia kemudian menggeleng. Tapi ia sempat melihat kedua tangan kakaknya dipegangi oleh teman-temannya dan mereka membawanya dengan cepat-cepat.
Di dalam mobil temannya, Domina berusaha merebut tasnya. Tapi kedua temannya yang duduk disebelah kanan dan kirinya mencegahnya. Karena Domina terus menerus berusaha merebut tas itu, maka mereka mengikat tangan Domina ke belakang punggungnya.
Mini yang duduk di kursi depan menoleh ke belakang dan berkata, " Ina, permainan kita sudah dimulai". Kemudian Mini berkata kepada temannya yang duduk disebelah Domina, "Sist, beri dia minuman penyambutan". Temannya yang duduk disebelahnya kemudian mengunjukkan minuman kaleng ke mulut Domina, tapi Domina tidak bernafsu. Karena ia ingat apa yang pernah ia lakukan kepada Mini. Sementara Mini dan teman-teman yang lainnya sudah memegangi minuman kaleng dan bersiap untuk meminumnya. Mini berkata kepada Domina, "Betulan nggak mau minum nih ?". Domina diam saja. Dari tadi wajahnya cemberut. Mini kemudian mengomando teman-temannya, "Mari kita bersulang untuk teman kita, Domina. Yang hari ini berdandan cantik bak putri Solo. Cheers !". Mereka bersulang dan meminumnya. Sekali lagi Mini mengejek Domina, "Ah, segar rasanya. Haus jadi hilang". Kemudian ia mengunjukkan kaleng minumannya ke mulut Domina dan memiringkannya ke mulut Domina. Kemudian Mini berkata, "O-oh, sorry sudah kosong. Habis kamu nggak mau sih". Mini melanjutkan ledekannya, "Gimana rasanya jadi model tata rias tradisional. Enak ya ? Anggun banget lho kamu kalau pakai kain kebaya kayak gitu. Gandes luwes, neng" Ia pun mencubit sebelah pipi Domina. Domina jadi semakin cemberut mukanya. Tapi Mini masih menambahi lagi, "Non, kapan-kapan kalau jadi model tata rias tradisional lagi kita dikabari ya non". Domina menjawab dalam hati, "Amit-amit. Nggak lagi-lagi déh. Emang aku suka pakai pakaian kayak gini".
Tak lama kemudian sampailah mereka disebuah rumah salah seorang dari mereka. Ternyata di teras depan ada undak-undakannya yang cukup tinggi. Domina jadi ngeri. Pikirnya naik tangga pakai kain jarik saja sudah sulit., apalagi sekarang ditambah tangannya diikat ke belakang. Tapi kalau ia minta supaya tangannya dilepas dari ikatannya, Mini tentu saja tidak menggubrisnya. Jadilah Domina berdiri termangu-mangu di depan undak-undakan. Teman-temannya pun bekata, "Ayo, naik dong, néng. Jangan cuma diam ngambek disitu". Akhirnya dengan sangat perlahan-lahan Domina menaiki anak tangga satu demi satu. Kepalanya menunduk ke bawah, matanya memperhatikan tiap anak tangga. Setiap melangkahi anak tangga, jalannya miring. Sehabis menaiki satu anak tangga, badannya lurus ke depan terlebih dahulu dan kemudian miring ke samping lagi dan melangkah. Begitulah terus dilakukannya sampai ke atas. Untung ia tidak kesandung anak tangga. Sesampai di atas, ia ditepuki oleh teman-temannya. Kali ini Domina tidak bisa menahan senyumnya. Ia tersenyum lantaran pikirnya teman-temannya seperti habis melihat sirkus akrobatik. Tapi menurutnya ia memang .betul-betul habis melakukan pekerjaan yang sulit yaitu naik tangga dengan terikat ke belakang dan memakai kain jarik. Sempat kepikiran dalam hati Domina bahwa ia cukup beruntung, karena beberapa hari sebelumnya ia sudah pernah naik tangga sambil pakai kain jarik dirumahnya sendiri. Kemudian Mini berkata, "Duh, duh, duh... Jalannya pelan amat persis putri Solo kesiangan. Kenapa non ? Takut kalau jatuh ya ? Takut kesandung undak-undakan apa takut kesrimpet jarik kamu ? Jangan takut, non. Kalau kamu kesandung apa mau jatuh kita semua siap menopang kamu sebelum kamu jatuh. Kamu kan bintang kita hari ini. Masak kita nggak mensupport kamu".
Masuklah mereka ke dalam rumah. Mereka membawanya ke ruang cuci, maka tahulah Domina bahwa pakaian gantinya yang berupa rok akan disiram air seperti yang ia perbuat terhadap pakaian Mini . Mini segera berkata sambil membuka tas yang berisi pakaian Domina, "Ina sayang, kita baru baik hati hari ini. Kamu tentu tidak keberatan kan kalau pakaianmu kami cuci gratis tanpa bayar daripada kamu harus ke laundry". Dan ia memasukkan pakaian Domina ke mesin cuci. Hilang sudah harapan Domina untuk bisa segera pulang dengan pakaian itu.
Kemudian mereka membawa Domina ke ruang olahraga. Mini berkata, "Non, hari ini kita semua mau olahraga. Kamu juga. biar sehat" dan Mini membawa Domina ke treadmill. Katanya, "Ayo, naik !" sambil memaksa Domina. Domina jadi tersenyum sendiri membayangkan kelucuan yang bakal terjadi. Karena sudah tidak berdaya dan sudah pernah 2 kali sebelumnya ia dipaksa menjadi submissive, akhirnya ia bisa menerima keadaan ini. Domina kemudian melepas sandal jinjitnya dan naik ke treadmill. Mini menyetel kecepatannya cukup rendah sehingga Domina bisa cukup lama berjalan di treadmill, tapi kemudian kecepatannya dinaikkan sehingga Domina harus berjalan cepat dan bahkan berlari sambil kesrimpet-srimpet kain jariknya. Setelah itu Mini menurunkan lagi kecepatannya. Begitulah mereka mengerjai Domina berulang-ulang, hingga akhirnya menaikkan kecepatannya dan tak lama kemudian Domina pun terpeleset dan jatuh. Untungnya hanya pelan saja, mereka pun mentertawakannya. Domina hanya bisa tersenyum kecut. Sesudah itu mereka membiarkan Domina beristirahat sebentar.
Tibalah sekarang ke permainan kedua. Mereka telah menyiapkan tali dan 2 orang memegang tali itu diujung-ujungnya. Domina disuruhnya main lompat tali. Domina yang sudah capai sehabis berlari-lari di treadmill hanya bisa menabahkan hatinya sendiri dan mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang ada. Dalam hatinya ia berpikir akan lebih memalukan bagi dirinya untuk memohon-mohon kepada Mini supaya menghentikan balas dendam ini dan hampir sudah dapat dipastikan kalau Mini akan menolak permintaannya seperti dulu ia juga menolak permintaan Mini untuk melepaskan ikatan Mini. Tapi kalau lompat tali sambil pakai kain wiron, ia juga berpikir kalau kemungkinan ia bisa kesrimpet wironnya yang membuka pada waktu ia melompat. Domina jadi berpikir ingin meminta kain wironnya diikat supaya tidak nyrimpeti kakinya, tapi itu sama juga dengan mengikat kedua kakinya. Domina takut kalau mereka salah paham dan mengira kalau Domina senang menjadi submissive. Domina seperti mendapat buah simalakama. Dimakan mati ibu, tidak dimakan mati ayah.
Setelah berpikir lama, akhirnya Domina tidak meminta kain wironnya diikat dan membiarkan kain wironnya beresiko neyrimpeti kakinya serta menuruti saja kemauan mereka.Hap, hap, hap. Beberapa kali ia melompat dan selamat. Tapi sesudah itu Domina jatuh kesrimpet tali dan jariknya. Sekali lagi mereka mentertawakannya.
Karena Domina selalu menuruti kemauan mereka tanpa banyak cingcong walaupun mengalami kesulitan dan akhirnya jatuh, maka mulai timbul rasa segan terhadap Domina. Mini berpikir bahwa Domina cukup tegar dan tidak seperti dirinya ketika dikerjai dulu oleh Domina dimana ia sempat menangis dan mengiba-iba. Maka mereka bermaksud segera mengakhiri acara permainan di hari itu dengan suatu olahraga yang cukup ekstrim, bungee jumping.
Kebetulan rumah mereka memilikii loteng dan cukup tinggi. Maka sekali lagi Domina mereka suruh naik loteng. Domina pun dengan tidak banyak berkata segera menuruti kemauan mereka. Barulah sesampainya diatas Domina jadi kaget dengan apa yang telah mereka persiapkan. Ternyata mereka telah mempersiapkan peralatan untuk bungee jumping. Domina jadi dag dig dug. Tapi ternyata teman Mini sendiri yang melakukan bungee jumping.
Sesudah itu barulah Domina mereka suruh melakukan bungee jumping. Ketika kaki Domina hendak mulai diikat dengan peralatan bungee jumping, Domina menolak, "Mini, kamu suruh aku bungee jumping disini sambil pakai pakaian kayak gini. Enggak déh !". Tapi Mini berkata, "Ina, aku tahu kamu pernah melakukan bungee jumping dan tempat ini sebelumnya juga sudah pernah dipakai untuk bungee jumping serta aman-aman saja. Ayolah". Katanya lagi sambil memegang-megang sanggul Domina, "Sanggul kamu masih cukup kencang. Jangan kuatir, tidak akan copot. Kalau nanti sampai copot dan menggelinding akan kita pasangkan lagi. Tapi sandal jinjitnya dilepas dulu dong, non". Domina diam saja, dalam hatinya berkata, "Sanggul kamu itu sendiri ! Bukan sanggul, tapi kain kebaya sama tangan diikat ke belakang ini yang bikin ribet". Karena Domina diam saja, maka Mini mengartikan bahwa Domina bersedia melakukan bungee jumping. Mereka pun mulai memasang alat di kaki dan tubuh Domina. Setelah selesai, mereka membawanya dengan setengah memaksa menyeretnya ke tepian teras. Tidak itu saja, mereka menutup mulut Domina dengan lakban, karena kuatir ia akan memaki-maki. Baru setelah itu mendorongnya hingga Domina jatuh dan terpaksa melakukan bungee jumping.
Setelah dibiarkannya Domina berisitirahat sebentar, maka mereka membawa Domina ke kolam renang yang ada di rumah itu. Domina dibawanya sampai ke tepi kolam renang. Tapi Domina menolak untuk masuk ke kolam renang, maka Mini berkata, "Ayo, non. Berenang biar segar" sambil menceburkan Domina ke kolam renang. Karena mengetahui kalau Domina bisa berenang. Maka terpaksalah Domina berenang dengan masih tetap bersanggul dan berkain kebaya serta terikat tangannya. Tentu saja Domina jadi kesulitan. Untungnya mereka hanya membiarkan keadaan itu berlangsung sebentar. Lalu Domina diangkatnya naik ke tepian kolam. Basah kuyup tubuh Domina, kain jariknya jadi lengket di kedua kakinya. Domina mencoba melangkah, tapi jadi semakin sulit bila dibandingkan waktu melangkah dengan memakai kain jarik tapi dalam keadaan kering. Mini malah mengejek, katanya, "Gimana ? Seger kan non ? Ditanya kok diam saja".
"Yah, pelajaran kebugaran jasmani kita hari ini sudah selesai. Silahkan kalau mau pulang", kata Mini kepada Domina yang masih terikat dan basah kuyup. Sesudah itu Mini segera membuka ikatan tangan Domina. Domina jadi bingung, bagaimana ia akan pulang kalau dengan pakaian basah kuyup seperti itu. Rupanya Mini memang sengaja membiarkan Domina jadi bingung. Setelah itu barulah Mini berkata, "Jangan kuatir dan jangan bingung, non. Kami sudah mempersiapkan pakaian gantinya yang sama persis yaitu kain batik dan kebaya". Tidak itu saja mereka juga mendatangkan seorang kenalan mereka dari sanggar rias tradisional untuk memakaikan kain wiron dan menyanggul ulang rambut Domina.
Sebelum tamu dari sanggar rias itu datang ke rumah, Mini mempersilahkan Domina membuka seluruh pakaiannya yang basah juga dengan sanggulnya dan memberinya handuk untuk mengeringkan. Tak lama setelah itu tamu dari sanggar rias itupun datang. Mini berkata kepada tamunya, "Ini, jeng. Teman saya mau minta tolong dirias". Domina berkata dalam hati, "Ya, nasib. Habis basah kuyub dapat ganti pakaian. Ternyata gantinya juga kain kebaya".
Setelah selesai dirias dan memakai kain kebaya, mereka mengantarkan Domina pulang ke rumah. Kata Mini, "Ina, kamu pulang pakai kebaya ini saja dulu. Pakaianmu kan belum kering. Nanti ku kirim ke rumah". Tapi begitu hampir sampai ke rumah Domina, ternyata mereka masih mengerjainya juga. Mereka menurunkan Domina tidak tepat di depan rumahnya, tapi kira-kira masih berjarak ratusan meter. Kata Mini, "Sorry, aku tidak bisa mengantarmu sampai ke rumah. Waktuku mepet banget, aku ada acara ditempat lain. Aku drop kamu disini saja ya". Ia kemudian memeluk dan mencium Domina serta menurunkannya dari mobil. Sambil berlalu, dari dalam mobil Mini berteriak, "Tetap cantik ! Tetap pakai kain kebaya !".
Domina menggerutu dalam hati. Ya nasib. Sudah dikerjai habis-habisan, badan rasanya capai. sekarang masih disuruh jalan kaki ratusan meter dengan memakai kain kebaya. Dalam hatinya kemudian timbul pikiran untuk membalaskan ini semuanya kepada adiknya. Ia kepikiran untuk mencincing kain jariknya untuk mempercepat langkahnya, tapi ia malu untuk melakukannya.
Derita Domina rupanya masih belum berakhir sampai disini. Di tengah jalan ia digoda oleh sepasang cowok yang berboncengan motor, "Cantik ! Dari mana ? Habis Kartinian ya ? Kasihan siang-siang pakai kain kebaya jalan sendirian. Mbonceng mau nggak ?". Mereka pun menghentikan sepeda motornya sebentar di dekat Domina dan menoleh sambil tersenyum-senyum sebelum akhirnya berkata, "Ditanya diam saja. Sombong ya" dan akhirnya mereka pergi. Domina jadi mangkel, tapi juga geli akan nasibnya sendiri. Supaya tidak terlihat bahwa ia menahan geli, maka bibirnya ditutupinya dengan saputangan pink. Saputangan wanita yang berwarna jambon muda tadi ada di tas yang berisi pakaian. Untungnya mereka tidak ikut memasukkannya ke dalam mesin cuci. Untungnya pula tadi pagi ibunya sempat memasukkannya ke dalam tas Domina.
Label:
BDSM
,
bondage
,
jarik
,
kain kebaya
,
kain panjang
,
kain wiron
,
kebaya
Rabu, 30 Oktober 2013
Paddock girl 9
Label:
jarik
,
kain kebaya
,
kain wiron
,
paddock girl
Langganan:
Postingan
(
Atom
)







