Melihat video animasi diatas, kita tidak tahu apakah yang tergantung dan terikat itu adalah si baik atau si jahat. Kita juga tidak tahu apakah penembak menembakkan pelurunya ke tali atau ke tubuh yang tergantung.
Kita mungkin akan bersimpati jika yang tergantung dan terikat adalah si baik dan bukan si jahat. Istilah lainnya adalah pahlawan. Sekalipun tidak dikenal. Dan memang Indonesia mempunyai beberapa pahlawan wanita. Kalau Perancis mempunyai Joan of Arc yang mati dibakar, maka Indonesia juga punya pahlawan-pahlawan wanita seperti Cut Nyak Din, Kartini dan Dewi Sartika. Dari yang secara fisik mengangkat senjata melawan penjajah sampai yang lebih mengutamakan pendidikan dan persamaan derajat.
Hasilnya seperti sekarang ini sebagaimana sudah kita ketahui bersama. Indonesia memang sudah merdeka dari penjajahan dan wanita memang sudah mempunyai kedudukan yang sama dengan pria.
Itu yang terlihat secara umum, di Indonesia wanita sudah mempunyai kedudukan yang sama dengan pria. Tapi kasus-kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga masih saja terjadi. Dan itu umumnya menimpa pihak wanita dan anak-anak. Belum lagi wanita yang memang punya kelainan sexual dan cenderung menyukai kekerasan dalam menjalin percintaan. Nah, apakah mereka juga layak disebut sebagai pahlawan-pahlawan tanpa nama ?
English
Watch animation video above, we do not know whether the person who hanged and bound it is the good or the evil one. We also do not know whether the shooter fired a bullet to the rope or into the body who hanged.
We may be sympathetic if the person who hanged and bound is the good and not the evil. Other term is hero. Although it is not known. And indeed Indonesia has heroines. If France have Joan of Arc who was burned to death, then Indonesia also have female heroines such as Cut Nyak Din, Kartini and Dewi Sartika. Of the physically take up arms against the invaders until more concentrated on education and equality.
The result is like now, as we all know. Indonesia is already free from colonialism and women already have equal footing with men.
It is that seen in general, women in Indonesia already has an equal footing with men. But cases of domestic violence still happened. And generally afflict the women and children. Not to mention the women who did have a sexual disorder and tend to like violence in making romance braid. Well, if they are also worth mentioning as heroes without a name?
Which one do you prefer if you’re in the position of the picture above ? The dominant in mini dress or the submissive in Javanese traditional costume ?
Merupakan salah satu budaya Jawa. Tradisi sungkeman biasanya diadakan
untuk melengkapi acara tertentu misalnya acara pernikahan. Arti
sungkeman sendiri berasal dari kata sungkem yang berarti bersimpuh atau
duduk berjongkok sambil mencium tangan. Sungkeman merupakan wujud bakti
anak kepada orang tua sekaligus sebagai tanda hormat anak kepada orang
yang dianggap sebagai orang yang dituakan. ( sungkem.com )
Sementara
itu di masa lalu, di Jawa, pernikahan yang diatur oleh orang tua sangat
terkenal dan sering diterapkan. Perempuan tidak memiliki hak untuk
memilih pasangan mereka. Suka atau tidak, mereka harus menerima pasangan
mereka yang dipilihkan oleh orang tua mereka. Mungkin kawin lari adalah
satu-satunya cara untuk memecahkan masalah jika seorang gadis tidak mau
menikah dengan pasangan yang dipilihkan oleh orang tuanya. Tapi terima
kasih Tuhan, pernikahan yang diatur oleh orang tua hampir tidak ada lagi
saat ini.
English
Is one of the
Javanese culture. Sungkeman tradition usually held to complete certain
events such as weddings. The meaning of sungkeman is derived from the
word sungkem that means kneeling or squatting, kissing parent's hand.
Sungkeman is a form of a child's devotion to the parents as well as a
mark of a child's respect to those who are considered as the elder
person.
Meanwhile in the olden days, in Java, marriage that
arranged by the parents also well known and often applied. Girls have no
rights to choose their couples. Like or not, they have to accept their
mates who choosen by their parents. Maybe eloped is the only way to
solve the problem if a girl doesn't want to marry the mate who choosen
by her parents. But thanks God, a marriage that arranged by the parents
almost doesn't exist anymore nowadays.
The
words in the picture in English reads as follows. The mother said to
her girl, "this is what happened, girl, if you don't obey your parent.
Don't want to marry with the man who choosen by your parent." The girl
replied, "I ask for forgiveness, mother. Now I submitted. Whatever
happen to me, I obey."
Almarhumah ibu dulu punya jarik motif itu, dia menyimpannya di lemari kaca dan diberi pewangi sabun. Memang cara ini salah, karena seharusnya diberi pewangi seperti kayu cendana setelah sebelumnya diberi ratus. Tapi walaupun caranya salah, tetap saja baunya wangi. Dulu waktu aku di kamarnya, aku beberapa kali sempat meliriknya dan sudah barang tentu timbul keinginan untuk memakainya. Tapi keinginan hanya tetap tinggal keinginan. Aku tidak punya keberanian untuk mengambilnya dari lemari. Apalagi memakainya.
Beberapa waktu kemudian kakak perempuanku memakainya waktu SMP. Dulu Kartinian masih musim. Aku melihat ibuku sendiri yang mewirunya. Aku yang melihat jadi tertarik.
Sesudah itu akupun mulai memberanikan diri untuk curi-curi mengambil jarik itu. Jarik itu kemudian ku wiru terus ku pakai. Begitulah hal itu kulakukan berulang-ulang. Setiap habis memakai, terus kupulangkan lagi ke tempatnya.
Itu adalah masa-masa awalku aku ngadi saliro ngadi busono dengan kain batik yang diwiru. Rasanya nikmat sekali. Apalagi kainnya baru harum dan masih tebal serta agak kaku., jadi aku tidak sulit waktu mewirunya. Karena lipatan tidak kembali membuka lagi.
Belakangan jarik itu mulai sering digunakan kadang sebagai selimut atau sebagai tutup ranjang .Akhirnya jarik itupun robek dan sekarang malah sudah menghilang entah ke mana setelah sebelumnya dijadikan lap.
Sekarang aku bermaksud mencari jarik dengan motif seperti itu. Ternyata sangat sulit untuk mendapatkan yang persis seperti kepunyaan ibu. Yang ada ternyata motifnya tidak 100 % sama.
Motif itu menurutku sangat anggun dan sensual banget. Pertama latarnya putih, kedua motifnya yang mirip sulur tanaman dengan kuncup bunga menambah keanggunan pemakainya.
Dan tadi siang waktu aku chat dengan teman fbku, aku bertanya kalau dia punya jarik dengan motif itu. Ternyata diapun tidak punya. Tapi kemudian hal ini malah menjadi ide untuk bahan postingku. Maka inilah postingku soal salah satu motif jarik yang sudah lama kucari.
One thing that I don't understand when I watch a video of BDSM. When the submissive didn't being tied up yet, the submissive was very sweet and romantic with the dominant. Sometimes the submissive himself / herself asked to be tied up by the dominant. But after being tied up, some different reactions might appear.
The reaction varies from spoiled and teased reaction until angry and wild reaction. Like this :
The submissive smiled and seduced us who watched the video and even to pose so sexy on bed while being hogtied as if trying to invite us to accompany her on bed.
The submissive shows the expression of being happy although they tried to release themselves from the bound.
The submissive shows the expression of helpless, dislike and trying to release themselves from the bound.
The submissive is angry and trying hard to release themselves from the bound.
In spite of all, isn't the beginning of this game coming from the same origin ? But how the reaction that appear can be varied ? Like the law of supply and demand in Economy. The demand was fulfilled if there's supply that's enough to meet the demand. Otherwise the supplies also can be well channeled and not wasted in vain if there's enough demands.
The demand in this case could be the desire to be tied up or the desire to tie someone. And the supply in this case could be the supply to be a person that tied up or a person who could tie someone that need to be tied up. So the demand to be tied up meet the supply to tie someone. Or the demand to tie someone meet the supply in someone who needs to be tied up.
Theoretically, the submissive who bears the burden to be tied up and suffer from the action that the dominant does must not complain or even angry, because the demand was fulfilled. But the fact, like in economy the customer can complain, because of the quality of the supply. Likewise in the videos that I watched. Whether it's real or they just act as if. They complain and even angry. There's some reasons why the submissive complain and even angry :
The submissive is just beginner who even never do this before.
The submissive gets excessive treatment from the dominant.
The submissive just act like an actor / actress in movie.
That's the similarity between bondage game and economy. Both have demand and supply. And the reaction of one side can be varied depend on the response of the other side.
I myself have my favorite scenes of BDSM videos. That is :
The submissive thrashing and whining meanwhile trying to escape from bondage.
The submissive moaning pleasure and tease and surrender not try to escape.
The submissive tickled by the dominant.
Bahasa Indonesia
Satu hal yang saya tidak mengerti ketika saya menonton video BDSM. Ketika si submissive belum diikat, si submissive sangat manis dan romantis dengan si dominan. Kadang-kadang si submissive sendiri yang minta untuk diikat oleh si dominan. Tapi setelah diikat, beberapa reaksi yang berbeda bisa muncul.
Reaksi bervariasi dari manja dan menggoda sampai reaksi marah dan liar. Seperti ini:
Si submissive tersenyum dan menggoda kita yang menonton video dan bahkan berpose sangat seksi di tempat tidur sambil dihogtied seakan mencoba mengajak kita untuk menemaninya di tempat tidur.
Si submissive menunjukkan ekspresi bahagia meskipun mereka mencoba untuk melepaskan diri dari ikatan.
Si submissive menunjukkan ekspresi tak berdaya, tidak suka dan berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan.
Si submissive marah dan berusaha keras untuk melepaskan diri dari ikatan.
Terlepas dari semua ini, bukankah awal permainan ini berasal dari asal yang sama? Tapi bagaimana reaksi yang muncul bisa bervariasi? Seperti hukum penawaran dan permintaan di Ekonomi. Permintaan itu dipenuhi jika ada pasokan yang cukup untuk memenuhi permintaan. Sebaliknya supplies juga dapat disalurkan dengan baik dan tidak terbuang sia-sia jika ada cukup permintaan.
Permintaan dalam hal ini bisa menjadi keinginan untuk diikat atau keinginan untuk mengikat seseorang. Dan pasokan dalam hal ini bisa menjadi pasokan untuk menjadi orang yang diikat atau orang yang bisa mengikat seseorang yang perlu diikat. Sehingga permintaan untuk diikat memenuhi penawaran untuk mengikat seseorang. Atau permintaan untuk mengikat seseorang memenuhi panawaran pada seseorang yang perlu diikat.
Secara teoritis, si submissive yang menanggung beban harus diikat dan menderita dari tindakan dominan tidak harus mengeluh atau bahkan marah, karena permintaannya terpenuhi. Tapi kenyataannya, seperti dalam ekonomi pelanggan bisa mengeluh, karena kualitas pasokan. Demikian juga dalam video yang saya tonton. Apakah itu nyata atau mereka hanya bertindak seolah-olah. Mereka mengeluh dan bahkan marah. Ada beberapa alasan mengapa si submissive mengeluh dan bahkan marah:
Si submissive hanya seorang pemula yang bahkan tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya.
Si submissive mendapat perlakuan berlebihan dari dominan.
Si submissive hanya bertindak seperti seorang aktor / aktris dalam film.
Itulah kesamaan antara permainan bondage dan ekonomi. Keduanya memiliki permintaan dan penawaran. Dan reaksi dari satu pihak dapat bervariasi tergantung pada respon dari pihak lain.
Saya sendiri memiliki adegan favoritku dari video BDSM. Yaitu :
Si korban yang meronta-ronta sambil merintih-rintih dan berusaha melepaskan diri dari ikatan.
Si korban yang malah merintih kenikmatan dan menggoda serta pasrah tidak berusaha melepaskan diri.
Tahun depan akan ada pemilihan presiden lagi di republik kita tercinta. Kalau sudah begini banyak orang berlomba-lomba nyalon. Entah inisiatif sendiri atau ditunjuk partai. Iklan-iklan barbau promosi kampanye pun banyak bermunculan di televisi.
Salah satunya adalah Aburizal Bakrie yang memakai nama initial ARB. Tapi tahukah anda kalau ARB sebetulnya juga sangat concern terhadap budaya kita terutama budaya Jawa khususnya busana tradisional wanita Jawa.
Aih Rapi Banget deh, kain jariknya bisa menyempit kebawah.
Aih Ramping Banget deh, pinggangnya.
Aih Runtut Banget deh, kelihatan selaras dan anggun jadinya
Sampai akhirnya kita, para wanita Indonesia akhirnya luluh hatinya dan secara tidak sadar menjadi kadernya dan berteriak lantang begini : Ayo Rajin Berbusana nasional !