tJeSiLC_vQ4EjbqutLiN10g1b3k
Tampilkan postingan dengan label sanggul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sanggul. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 September 2013

ARB

abu
Tahun depan akan ada pemilihan presiden lagi di republik kita tercinta. Kalau sudah begini banyak orang  berlomba-lomba nyalon. Entah inisiatif sendiri atau ditunjuk partai. Iklan-iklan barbau promosi kampanye pun banyak bermunculan di televisi.

Salah satunya adalah Aburizal Bakrie yang memakai nama initial ARB. Tapi tahukah anda kalau ARB sebetulnya juga sangat concern terhadap budaya kita terutama budaya Jawa khususnya busana tradisional wanita Jawa.

Para wanita Jawa terutama yang tidak biasa memakai kain jarik wiron beserta kebayanya pasti akan bilang begini : ARB banget déh kalau pakai kain kebaya. Artinya begini  :
  • ARempong Banget déh, mesti pakai sanggul segala.
  • Aduh Rapet Banget déh jariknya, sampai hampir gak bisa jalan.
  • Ampun Ribet Banget déh, belon kalau harus jalan cukup jauh.
Tapi kalau sudah terbiasa pakai kain kebaya dan mulai mencintai busana tradisional kita, tetap saja bilang begini : ARB banget déh kalau pakai kain kebaya. Artinya bisa begini  :
  • Aih Rajin Banget déh, jaman gini masih pakai kain jarik sama kebaya
  • Aih Rapi Banget deh, kain jariknya bisa menyempit kebawah.
  • Aih Ramping Banget deh, pinggangnya.
  • Aih Runtut Banget deh, kelihatan selaras dan anggun jadinya
Sampai akhirnya kita, para wanita Indonesia akhirnya  luluh hatinya dan secara tidak sadar menjadi kadernya dan berteriak lantang begini : Ayo Rajin Berbusana nasional !

Rabu, 31 Juli 2013

Gambar kain kebaya 2

DCIM100MEDIA

DCIM100MEDIA
Ini adalah gambar hasil karyaku yang lain. Dibuat dengan ballpoint hitam diatas kertas putih.  Yang dibawah digambar dibalik kertas bekas kalender harian, jadi samar-samar terlihat angka 22 terbalik.  Nuansanya yang semu merah karena waktu mengambil foto, gambar kuletakkan diatas dasar merah. Sepintas berkesan kuno, tapi memang sudah lama.

Motif jarik yang kugambar itu sebetulnya motif jarik yang pertama kali kubeli. Jarik itu sekarang sudah sobek dan kujadikan rok span panjang atau sarimbit seperti di foto postingku yang berjudul "lari-lari kecil".

Ada cerita lucu soal jarik itu. Jarik itu sobeknya waktu kupakai dan aku sengaja menendang-nendang untuk lucu-lucuan dan seru-seruan. Tau-tau terdengar bunyi  bréét, ternyata jariknya sobek. Cuma waktu itu aku sudah punya beberapa lembar jarik. Jadi aku tidak begitu menyesal.

Senin, 13 Mei 2013

Seragam sekolah

Entah kenapa sebuah tayangan tentang seragam sekolah di acara Suka-suka Kompastv ini bisa menarik perhatian saya. Dimulai dengan seragam sekolah pertama di dunia yang dipelopori oleh negara Inggris. Kemudian ulasan berlanjut untuk kawasan Asia tepatnya Jepang dimana dulu seragam sekolahnya berupa kimono. Baru setelah ada pengaruh dari Barat, maka seragam untuk siswi berubah menjadi mirip seperti pelaut. Dan akhirnya tentu saja juga dibahas seragam sekolah di negara kita tercinta Indonesia.

Kalau jaman sekarang seragam sekolah pada umumnya adalah rok dan baju untuk para siswi. Atau celana dan baju untuk para siswa. Maka seragam sekolah untuk siswi  pribumi di jaman penjajahan Belanda dahulu adalah kain jarik dan kebaya serta tentu saja dengan rambut yang disanggul. Sedangkan untuk para siswi yang keturunan Belanda, pakaiannya adalah rok.

Bisa dibayangkan betapa feminin dan anggunnya para siswi pribumi dahulu. Betapa gandes luwesnya mereka. Tiap hari berjalan dari rumah ke sekolah dengan memakai kain dan kebaya, mungkin mereka memegang payung di sebelah tangan dan juga selendang serta tas atau buku-buku. Atau mereka malah naik sepeda walaupun mungkin agak kesulitan kalau kain jariknya kesempitan memakainya hingga perlu dicincing atau dinaikkan ke atas sedikit. Tapi melihat foto-foto dokumentasi atau video-video hitam putih jaman dulu rata-rata mereka memakai kain jarik dengan agak longgar dan tidak begitu menyempit atau meruncing kebawah. Sehingga mereka mungkin tidak begitu kesulitan jika harus mengayuh sepeda dengan memakai kain jarik.

Cuma untuk pelajaran olahraga, kalau dahulu ada. Saya masih sulit untuk membayangkan bagaimana para siswi yang memakai kain dan kebaya ini harus berolah raga. Kalau untuk upacara bendera sebagai petugas pengibar bendera mungkin masih mudah. Karena cuma harus berjalan dengan langkah tegap walaupun berkain kebaya. Atau senam juga mungkin tidak kesulitan, paling pada waktu harus membuka kedua kaki lebar-lebar terhalang oleh kain jariknya. Juga pada waktu gerakan menendang, kaki jadi tidak bisa terlalu keatas. Karena terhalang oleh kain jarik. Kecuali kainnya dicincing atau dinaikkan terlebih dahulu. Tapi jika harus lari dengan memakai kain kebaya, bisa-bisa mereka kesrimpet-srimpet kain jarik mereka sendiri dan akhirnya kain jarik mereka jadi kedodoran. Yang lebih parah mereka mungkin bisa jatuh kesrimpet kain jarik mereka sendiri. Padahal dulu ada sebuah permainan olahraga yang terkenal waktu jaman Belanda yaitu kasti dan di dalam permainan itu para pemainnya harus berlari dari suatu tempat ke tempat lain serta harus menghindar dari lemparan bola yang ditujukan kepada yang bersangkutan kalau perlu dengan berguling-guling di tanah. Belum lagi kalau harus loncat tinggi atau lompat jauh. Atau mungkin dulu juga sudah ada pakaian olah raga berupa kaos dan celana olahraga seperti sekarang.

Kemudian tayangan ini ditutup dengan komentar dari hostnya yang kurang lebih begini, bagaimana  kalau sekarang  kain kebaya itu diterapkan menjadi seragam para siswi di sekolah-sekolah di Indonesia ? Bisa dibayangkan setiap pagi harus bangun subuh-subuh untuk pasang sanggul. Belum lagi makai kain jarik wironnya. Terus nanti kalau berangkat ke sekolahnya naik bus. Apalagi kalau di sekolah kebelet pipis.

Tapi pakaian nasional kain kebaya ini sudah dijadikan sebagai pakaian yang wajib dikenakan oleh para pegawai negeri di Solo walaupun cuma seminggu sekali waktu pak Jokowi masih menjabat sebagai wali kota Solo. Itu pun sudah mengundang pro dan kontra. Sekarang apakah kewajiban itu masih berjalan ?

Kesimpulannya ternyata sekarang fungsi kain kebaya sudah berkurang. Dulu dijadikan sebagai  seragam sekolah, sekarang digantikan oleh baju dan rok. Kemudian pada waktu jaman Orde Baru masih menjadi pakaian pesta nasional. Sekarang sudah tergantikan oleh pakaian pesta yang berasal dari negara Barat.

Sabtu, 20 April 2013

Jarik

aJA seRIK
Itu arti filosofi dari jarik.
Artinya jangan iri terhadap orang lain.
Tapi bisa juga diartikan menjadi jangan serik kalau dibilang kampungan ndeso.
Lantaran ketinggalan jaman dan ketinggalan mode.
Walaupun itulah yang dipakai para bangsawan Jawa.
Bahkan ada istilah lain yang lebih anggun yaitu aristokrat Jawa.

JArang diliRIK.
Memang itulah keadaannya.
Semakin ditinggalkan oleh kebanyakan dari kita.

JAngan diliRIK.
Kalau ini adalah peringatan  buat para penggemar berat busana Jawa.
Soalnya sekali lirik bisa-bisa tergoda dan hawa nafsu bisa naik sampai kepala.

diJAbarkan dan ditaRIK.
Itulah cara memakainya.
Dibuka dan ditarik mengelilingi pinggang  kuat-kuat.

kalau JAlan diliRIK.
Kalau sudah memakai busana ini, kain kebaya.
Bisa-bisa orang lain pada ngelirik begitu lihat kita berjalan.

kalau JAlan meliRIK.
Sementara buat pemakainya sendiri bisa-bisa jalan sambil lirak-lirik.
Soalnya malu terlihat begitu anggun dan lain daripada yang lain.

rela diJAjah asal menaRIK
Seluruh badan dari kaki sampai kepala rela dipakaikan sandal jinjit, jarik,  corset, kebaya dan sanggul.
Asal akhirnya bisa tampil cantik dan anggun.

JAdilah putRI Kartini
Inilah yang biasa didengungkan di hari yang bertanggal 21 April.
Meneladani pahlawan emansipasi wanita Indonesia.
Entah cuma soal pakaiannya  ataupun sampai ke ideologinya.
Sekali lagi, selamat hari Kartini !
bluewalk1 bluewalk2

Minggu, 30 Desember 2012

Lintas busana di televisi

Beberapa tahun kemarin ada kritik tentang pembawa acara lelaki di televisi yang tampil sebagai wanita atau tampil kewanita-wanitaan. Para pengritik yang umumnya dari kalangan orang tua, pendidik dan agamawan kuatir kalau acara yang dibawakan oleh host yang bersangkutan ditonton oleh anak-anak kecil. Padahal anak kecil adalah peniru yang hebat dari apa yang dilihat.

Hal ini sempat membawa dampak dengan menurunnya bahkan sempat menghilangnya host atau pembawa acara lelaki yang tampil kewanita-wanitaan. Tapi tampaknya sekarang keadaan sudah berbalik dan hampir kembali normal lagi seperti dulu ketika kritik itu belum ada.

Beberapa acara di Trans7 secara tidak sengaja bahkan menjadi arena untuk berlintas busana. Salah satu diantaranya adalah Kepo quiz yang ditayangkan setiap hari Sabtu dan Minggu malam sekitar pukul 7. Ini adalah acara quiz sesuai dengan namanya, tapi bisa dijadikan sebagai arena untuk berlintas busana. Karena ada satu segmen yaitu segmen dimana kontestan harus berdandan dalam hal ini berpakaian dan bermakeup ala artis terkenal tertentu. Artis itu bisa laki, wanita atau kebencong-bencongan. Kemungkinan pertama adalah jika kontestan cowok harus berdandan ala artis yang kebencong-bencongan. Kemungkinan kedua adalah jika kontestan cowok harus berdandan sebagai artis cewek dan kebalikannya jika kontestan cewek harus berdandan ala artis cowok. Dan sesudah segmen itu selesai masih ditambahi dengan aturan dandanan tidak boleh dilepas sampai acara selesai, padahal sesudah segmen itu selesai masih ada segmen lainnya.

Acara selanjutnya adalah Hitam Putih yang dibawakan oleh Dedy Corbuzier. Kalau untuk acara ini yang jadi korbannya adalah pengiring musiknya yaitu Anu dan Billy the beatbox. Belum lagi artis bintang tamu cowok yang kadang-kadang juga tampil berdandan ala cewek. Seperti misalnya pelawak Wendy. Kalau untuk Wendy mungkin keadaan ini boleh dibilang sebagai sudah biasa, karena ia kadang-kadang tampil sebagai cewek waktu pentas melawak. Tapi untuk Anu dan Billy, keadaan ini apakah sudah biasa untuk mereka ? Kita tidak tahu. Paling tidak sudah 2 kali mereka tampil dengan dandanan setengah wanita atau tidak full crossdressing. Pada episode dengan bintang tamu Sandrina, penari tradisional cilik yang sedang mengikuti kontes IMB dan episode dengan bintang tamu Syahrini. Pada episode dengan bintang tamu Sandrina, mereka tampil dengan makeup wanita dan rambut di sanggul serta memakai kebaya walaupun bawahannya tidak memakai kain panjang, tapi tetap memakai celana. Tapi untungnya pada episode dengan bintang tamu Syahrini, mereka hanya tampil dengan makeup dan wig, Selebihnya pakaian mereka masih normal pakaian lelaki.

Hal ini belum terhitung untuk acara-acara yang bersifat lawak seperti Tahan Tawa Transtv dan OVJ Trans7 dimana para pelawaknya kadang-kadang tampil berdandan sebagai lawan jenisnya. Dan seperti diketahui bersama acara-acara diatas semua ditayangkan pada waktu malam begitu larut.

Apakah ini tanda akhir jaman ? Atau kebebasan pers di Indonesia yang sudah menguat ? Atau para orang tua sudah cukup mempunyai strategi, cara, pelindung, perisai atau penangkal untuk menjaga anak-anak mereka dari mencontoh adegan-adegan yang ada di televisi ? Bagaimana menurut anda ?
Anu berdandan ala Syahrini
Anu berdandan ala Syahrini

Jumat, 21 Desember 2012

Selamat hari ibu


Ibu adalah salah satu figur penting dari suatu keluarga yang lengkap. Walaupun ia tidak diakui sebagai kepala keluarga. Tapi ia adalah salah satu dari orang tua kita dan ia juga yang melahirkan kita ke dunia. Serta jangan lupa pula dengan pepatah yang mengatakan kalau dibelakang pria hebat selalu ada wanita hebat.

Namun dibalik keagungan seorang ibu, ia adalah tetap seorang wanita yang anggun. Khususnya untuk para wanita Indonesia. Para pahlawan wanita kita telah memberi contoh tersebut. RA Kartini, Dewi Sartika dan lainnya.

Khususnya untuk para wanita Jawa. Keagungan dan keanggunan itu akan lebih tampak lagi dengan pakaiannya yang berupa kain kebaya. Pakaian yang membuat seorang wanita terlihat anggun.

Terlebih dengan rambut yang tersanggul laksana  mahkota yang harus dijagai dengan seksama dan hati-hati. Walaupun terasa berat di kepala, tapi layaknya seperti tugas berat nan mulia yang harus dijalani dengan tulus dan iklas.

Kemudian kebayanya yang pas dibadan akan membentuk siluet dari badan pemakainya. Keanggunan pun akan tampak di sini. Dada yang laksana dua gunung di sela sebuah lembah menampilkan panorama yang indah. Kemudian lekuk tubuh dari pinggang ke pinggul yang terlihat jelas. Laksana indahnya sebuah guitar klasik yang mewah dan mahal yang dapat melantunkan nada-nada yang merdu. Walaupun untuk semua itu si pemakai harus rela berkorban menghimpit tubuhnya dengan stagen dan korset yang membebat tubuh dengan ketatnya. Nafas pun bisa-bisa jadi agak sesak dibuatnya. Tapi demi sebuah penampilan yang anggun, pengorbanan yang cukup sepadan rela dilakukan.

Turun kebawah, kain panjang yang depannya di wiru dengan indah membebat dan menghimpit kaki dengan ketatnya. Kaki pun harus rela berjalan dengan pelan-pelan  dan langkah-langkah yang kecil bahkan mungkin terhuyung-huyung demi suatu istilah berjalan dengan pantas layaknya wanita Indonesia yang anggun.

Terakhir, telapak kakipun harus rela dipakaikan sandal jinjit yang semakin  mempersulit berjalan selain juga bisa mengakibatkan sakit pinggang.

Tapi itu adalah citra wanita Indonesia di jaman dahulu, di jaman sekarang para wanita Indonesia sudah mengganti pakaian kain kebayanya dengan pakaian modern yang lebih praktis berupa rok dan celana. Kecuali untuk kalangan-kalangan tertentu yang masih berdarah biru, adat itu masih terjaga.

Jadi bagaimana sekarang ? Mengikuti jaman dengan pakaiannya dengan mengatas namakan emansipasi wanita. Karena memang sekarang begitulah keadaannya, wanita sekarang juga ikut menjadi pekerja dan profesional serta bukan tidak mungkin juga menjadi tulang punggung keluarga seperti layaknya seorang pria.

Atau ketat mempertahankan tradisi menguri-uri busana tradisional kita ? Seperti pemkot Surakarta yang mewajibkan seluruh pegawainya mengenakan busana Jawa pada hari tertentu.


Sabtu, 08 Desember 2012

Konde

Konde atau bahasa Indonesia nya sanggul adalah merupakan mahkota khususnya bagi wanita Jawa  dan  wanita Indonesia pada umumnya.

Jadi konde adalah sama dengan sanggul. Cuma beda sebutan dalam bahasanya.  Yang satu adalah sebutan dalam bahasa Jawa dan yang lainnya adalah sebutan dalam bahasa Indonesia. Tapi salah seorang teman, seorang cewek yang kebetulan bukan orang Jawa lucunya pernah bilang begini, "Wah, enak ya wisudanya sekarang sudah pakai sanggul. Tidak seperti dulu ketika saya wisuda, masih pakai konde". Waktu itu aku yang kebetulan mendengar perkataannya cuma mikir saja. Sebetulnya dia tau atau tidak kalau konde itu ya sanggul dan sanggul itu ya konde. Mungkin yang dimaksudkan dengan  sanggul itu adalah sanggul modern yang tidak sekuno, sebesar,  seberat dan sekaku  sanggul tradisional serta tentu saja lebih bergaya dan tidak ndesani atau kampungan dalam pandangannya. Tidak seperti ibu-ibu, tapi lebih kelihatan seperti remaja ABG.

Kembali ke jaman lampau,  konde bagi wanita Jawa adalah merupakan suatu keharusan. Karena setiap memakai busana kain dan kebaya, maka rambut mereka pun selalu di sanggul. Bukan itu saja, konde juga di hias dengan bunga,  tusuk konde  atau ronce melati. Bahkan ketika menjadi pengantin atau ratu sehari, maka sanggul dihias dengan cenduk mentul dan  rangkaian melati dengan sedemikian indah dan artistiknya.

Tidak cuma itu saja. Bagi orang Jawa, konde selain sudah menjadi suatu keharusan  juga dipercaya mempunyai kekuatan mistis. Mantan presiden RI alm Suharto ditengarai jatuh dari kekuasaannya akibat konde almarhumah ibu Tien yang menghilang. Hal ini menunjukkan sedemikian kuatnya pamor konde. Begitu pula kehebatan Soeharto sebelumnya dalam menjaga stabilitas negara juga ditengarai bersumber pada konde ibu Tien Soeharto. Hingga kekuasaannya bisa langgeng sampai beberapa dekade.

Tapi walaupun konde dianggap sesuatu yang sakral, benda itu  juga tidak luput menjadi bahan ejekan bagi para pelawak. Antara lain grup lawak  Warkop DKI pernah mengatakan kalau konde itu adalah model rambut punk rock Jawa. Atau ban sérep di belakang ( roda cadangan di belakang ).

Di kalangan para pejabat orde lama dan orde baru waktu itu ketika para isteri pejabat harus menghadiri suatu pertemuan resmi  timbul suatu istilah yang terkenal pada waktu itu yaitu "besar-besaran konde". Semakin besar kondenya mungkin semakin mantap dan anggun. Dan hal ini berulang ketika desainer kebaya kenamaan Anne Avantie mengadakan pagelaran busana di keraton Solo. Ada seorang model yang memakai sanggul sangat besar atau malah bisa disebut extra besar. Entah ini suatu sindiran, parodi atau memang sanggul-sanggul yang extra besar itu memang sudah ada sejak  jaman dulu.

Nah kalau kata konde kita buat menjadi  kata kerja bukankah akan menjadi ngondek ? Seperti halnya kata kontrak, bila dijadikan kata kerja akan menjadi ngontrak.

Tapi tahukah anda arti kata ngondek. Berikut ini salah satu deskripsinya. Ngondek adalah sebentuk karakter, bertingkah kemayu, flamboyant, dalam perbuatan (tidak macho), tingkah yang tidak wajar dimiliki oleh pria, melambai, baik dalam bicara, berfikir, dan atau melakukan sesuatu. Deskripsinya sangat berbau  feminin banget.

Jadi kalau dipikir-pikir memang pas dengan konde itu sendiri yang juga memang untuk para wanita yang tentu saja erat berhubungan dengan yang namanya feminin.

Bagi diriku sendiri, konde adalah merupakan suatu yang wajib ku pakai ketika sedang ngadi saliro ngadi busono dengan kain kebaya. Walaupun akhir-akhir ini aku kadang juga tidak menyanggul rambutku tapi malah kubiarkan terurai seperti di postingan yang terdahulu.

Itu semata-mata hanya untuk variasi dan menghindari kejenuhan. Walaupun memang ada perasaan  yang berbeda jika berkain kebaya lengkap dengan sanggul dan tanpa sanggul.  Jika berkain kebaya lengkap dengan sanggul rasanya seperti seorang wanita yang telah tumbuh dewasa dan matang serta lebih anggun berwibawa. Sebaliknya jika berkain kebaya tanpa sanggul rasanya seperti seorang gadis remaja yang baru mekar-mekarnya dan sedang berusaha belajar mencintai busana nasionalnya.

Jadi seperti pepatah bahasa Indonesia lama yang mengatakan ketika muda rambutnya terurai dan ketika dewasa rambutnaya bersanggul. Pepatah itu sepertinya pas paling tidak untuk diri ku sendiri. Dan mudah-mudahan juga pas untuk para remaja gadis Indonesia yang memang sedang berusaha belajar mencintai busana nasionalnya. Semoga bisa lestari busana tradisional dan sekaligus busana nasional kita lengkap dengan dandanan rambutnya yang berupa sanggul.

Kamis, 06 Desember 2012

ketika aku tak lagi berkonde










Apakah aku akan disebut sebagai pengkhianat perjuangan RA Kartini ? Hanya karena aku tak lagi berkonde. Bukankah aku masih memakai busana kain dan kebaya ? Kain yang kupakai pun juga kain batik lembaran asli dengan wiron didepan pula. Tidak seperti kebanyakan wanita sekarang yang lebih suka praktisnya dengan menjahit kain batik menjadi rok berwiru. Kebaya yang kupakai pun masih kelihatan tradisional. Tidak terlalu jauh modifikasinya. Bahkan mungkin masih boleh disebut sebagai kebaya tradisional dengan kerah yang bergaya Sunda.

Ku hanya ingin sedikit variasi dan perubahan. Bukannya mau meninggalkan tradisi. Bagaimanapun ku akan tetap menjadi seorang wanita Indonesia yang berusaha sekuat tenaga untuk meneruskan cita-cita Kartini sambil selalu menguri-uri busana tradisional Jawa pada khususnya dan busana nasional Indonesia pada umumnya.

Karena konde adalah mahkota wanita Jawa pada khususnya dan wanita Indonesia pada umumnya. Maka adalah suatu kehormatan bagiku untuk selalu tetap memakai konde, sekalipun konde itu akan memperberat kepalaku. Tapi seperti halnya suatu tugas berat yang harus diemban oleh setiap wanita Indonesia untuk selalu memegang tinggi nilai-nilai luhur seorang wanita Indonesia, menguri-uri busana tradisional dan meneruskan cita-cita Kartini. Maka sekali lagi ku akan selalu berusaha sekuat tenaga untuk selalu memakai sanggul disetiap kesempatan.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Lamunan masa lalu


Dulu sewaktu saya masih minded banget sama kain kebaya dan masih menggebu-gebunya, pernah punya lamunan pingin diperisteri sama cowok aristokrat keraton.

Upacara dan pesta pernikahan yang berlangsung saya bayangkan akan sangat agung dan megah. 7 hari 7 malam dan tiap hari saya selalu ganti pakaian pengantin. Pakaian pengantinnya berupa kebaya panjang dan kain panjang prada. Belum lagi roncenya. Saya bayangkan betapa anggun dan cantiknya saya. Saya tidak membayangkan akan memakai model basahan. Saya tidak suka, karena body terutama pinggang tidak akan kelihatan dan saya  akan tidak terlihat sexy.

Prosesi upacaranya saya bayangkan tentu akan sangat panjang, lama serta penuh dengan protokol-protokol. Saya bayangkan saya akan berjalan dengan sangat pelan  dan lemah gemulai serta jarak yang saya tempuh akan sangat panjang, karena ruangan-ruangannya yang besar-besar. Betul-betul diberkati dalam kesengsaraan, berjalan dengan kaki yang dibebat dengan kain panjang yang ketat dan harus menempuh jarak yang sangat panjang, masih ditambah dengan kebaya beludru dan stagen tentulah akan membuat badan menjadi menderita gerah kepanasan. Belum lagi waktu prosesi upacara jalan dengan berjongkok. Betul-betul suatu siksaan yang akan membawa kenikmatan.

Sesudah itu  setiap harinya dari bangun tidur sampai kembali tidur lagi saya membayangkan harus selalu pakai kain kebaya dan sanggulan. Rasanya dalam lamunan saya sangat feminin, anggun dan tradisional serta romantis banget. Walaupun tersiksa juga karena tidak leluasa melangkah dan perut serta dada sesak karena terhimpit stagen dan korset. Tidak punya pakaian apapun selain kain panjang, stagen, kebaya dan selendang. Kecuali celana dalam, bra, korset dan sejenisnya. Tiap hari selalu ganti kain batik. Kain yang kering habis dicuci terus di wiru sendiri sambil memakai kain kebaya pula. Harum bau ratus dan rempah-rempah  selalu melingkupi. Demikian juga dengan seluruh ruangan yang ada. Wanginya membuat angan-angan terasa terbang ke awan-awan.

Suami yang saya bayangkan waktu itu adalah suami aristokrat yang masih memegang nilai-nilai tradisional tapi juga bisa menerima nilai-nilai dari luar. Dia memperlakukan saya seperti memperlakukan layang-layang, dibiarkan bebas terbang tinggi tapi masih dipegang benangnya. Jadi saya diperbolehkan bergaul dengan rekan-rekan dari luar lingkungan keraton. Bahkan diperbolehkan bebas bersentuhan dengan dunia modern, seperti misalnya pesta, bioskop, shopping dan bahkan discothek serta club malam. Hsnya dengan satu syarat, saya harus tetap memakai kain kebaya. Jika dianggap terlalu salah kostum  dalam pikiran saya, tentu akan diperbolehkan memakai kebaya modern dan  sanggul serta makeup modern tapi bawahannya harus kain batik wiron yang masih lembaran asli. Untuk menambah kesan mewah bisa memakai kain batik wiron yang berbenang emas atau kemasan prada. Jika untuk berjojing kesulitan karena kainnya terlalu sempit, juga boleh dikendorkan sedikit asal bentuknya masih meruncing ke bawah.

Mengkontraskan keadaan seperti yang diatas bagi saya bisa menimbulkan kepuasan dan kenikmatan tersendiri. Bayangkan saja pergi ke pesta disaat orang lain memakai pakaian pesta, mini dress dan yang semacamnya, saya harus memakai kain kebaya. Shopping di mall modern tapi tetap masih memakai kain kebaya sambil membawa belanjaan. Pergi ke salon untuk perawatan wajah dan rambut, disaat yang lainnya memakai pakaian casual,  saya masih tetap pakai kain kebaya. Atau ke sanggar senam,  habis latihan senam kain sama kebayanya  langsung dipakai lagi. Apalagi kalau ke discothek untuk jojing sebetulnya tidak mungkin, itu hanya khayalan saya saja. Belum lagi kalau piknik ke pantai atau ke pegunungan.

Anehnya juga dulu saya sempat  kepikiran kalau saya juga akan bisa menikmati BDSM walaupun saat itu saya tidak tahu samasekali tentang  itu. Saya bayangkan waktu itu saya akan dengan senang hati digantung kakinya dengan posisi terbalik dan tangan diikat kebelakang. Setiap beberapa saat suami saya akan menanyakan apakah saya kecapaian. Jika kecapaian saya akan diturunkan dari gantungan dan ikatan saya akan dilepas.

Tapi sekarang saya sudah tidak punya angan-angan yang muluk seperti itu lagi. Hidup dalam 2 dunia maya dan nyata seperti sekarang ini saya anggap sudah cukup. Cuma saya masih punya keinginan pingin cding out dan kencan romantis sama cowok. Itu saja.

Jumat, 19 Agustus 2011

Busana nasional, sebuah renungan

Melihat perkembangan busana nasional kita sekarang ini semestinya kita tidak perlu merasa terlalu kuatir. Melihat desainer-desainer seperti Anne Avantie,  Adjie Notonegoro,  Ramli dan lain-lainnya sepertinya busana nasional kita, kebaya tidak akan pernah mati. Modelnyapun semakin berkembang. Mulai dari yang masih tradisional asli seperti kebaya dengan kutubaru, kebaya Kartini, kebaya encim  sampai kebaya Sunda. Kemudian dimodifikasi dari sedikit demi sedikit seperti menjadi kebaya dengan ekor putri duyung, kebaya Shanghai, kebaya offshoulder  sampai  tidak terlihat  seperti kebaya lagi.
Bawahannya pun juga tidak mesti kain batik asli yang dipakai dengan meruncing ke bawah dan di wiru dibagian depannya ataupun sarung batik.  Tapi sudah berkembang, mulai yang pemakaiannya tidak diwiru dan dipakai dengan longgar. Kemudian kain batik yang sudah dijahit sehingga pemakaiannya lebih praktis.  Ada pula yang lebih terang-terangan dibuat sebagai rok dengan potongan melebar kebawah. Atau malah dipadu padankan dengan rok sampai dengan celana panjang. Pelengkapnya dibagian kepala pun tidak harus sanggul tradisional lagi, tapi sudah sanggul  modern atau bahkan tanpa sanggul.
Dengan kondisi seperti diatas sebetulnya busana nasional kita seperti dipersimpangan jalan. Disatu sisi mengalami perkembangan dan bisa mengikuti jaman sehingga tidak perlu kuatir kalau ditinggal oleh pemakainya yaitu para wanita Indonesia. Disisi lain sepertinya semakin menjauh dari akar atau pakemnya. Sudah tidak tradisional lagi. Terus apakah istilah "nguri-uri busana tradisional" masih sesuai dengan keadaaan ini ?.
Kalau dulu setiap perayaan hari Kartini di sekolah-sekolah selalu ramai dengan para siswi yang berpakaian tradisional, sekarang boleh dikatakan sepi. Bahkan di suatu sekolah akhir-akhir ini kalau perayaan Kartini siswinya cukup memakai baju batik. Demikian juga kalau dulu kontes pemilihan putri Kartini yang diadakan di supermarket selalu banyak pesertanya dan juga penontonnya, belakangan ini kelihatannya juga sudah berkurang baik peserta maupun penontonnya. Ssebuah superamarket bahkan meniadakan acara ini di suatu tahun.
Di acara-acara pernikahan yang mengusung adat Jawa pun akhir-akhir ini para penerima tamu yang cewek  sudah memakai busana kebaya modifikasi dengan bawahan yang tidak berupa kain wiron asli tapi sudah berupa rok.  Lucunya saya pernah melihat para penerima tamu di suatu acara pernikahan yang cewek memakai kebaya modern dengan rok batik tapi yang cowok masih memakai blangkon, beskap dan kain wiron. Bagaimana ini ? Cowoknya masih tradisional asli, tapi ceweknya sudah setengah modern. Tidak matching, kalau menurut saya.
Yang lebih parah lagi saya pernah melihat di televisi swasta, dimana mc atau pembawa acaranya berpasangan dua orang  satu cewek satu cowok.  Cowoknya berbusana tradisional Jawa asli, blangkon, beskap dan kain wiron. Ceweknya berbusana kebaya modern dengan sanggul modern dan bawahan long dress dan kesannya jauh dari tradisional. Padahal acara ini  ditonton oleh seluruh pemirsa di nusantara.
Yang paling saya kuatirkan nantinya adalah kalau suatu ketika nanti di acara tertentu akan ada kejadian seperti ini.  Cowoknya berbusana tradisional Jawa dengan blangkon, beskap dan kain wiron,  tapi ceweknya berbusana kebaya modern dengan bawahan berupa celana panjang. Kalau kita bayangkan keadaannya  jadi seperti  terbalik. Cowoknya memakai kain wiron, tapi ceweknya memakai celana panjang. Crossdressing in public ?

Selasa, 14 Juni 2011

PERSEBAYA

Dari kecil kepingin jadi pemain sepak bola, akhirnya jadi juga pemain PERSEBAYA ( PERsatuan SEpak bola berkainkeBAYA ). Tapi mesti ati-ati nih terutama kalau lari sama nendang bola, takut kalau kesrimpet jarik, apalagi kalau sampai sanggulnya lepas bisa-bisa disoraki penonton .... malu deh.

Sabtu, 04 Juni 2011

Deja Vu atau Utopia ?

Di masa sekarang ini, komputer dan internet adalah sudah menjadi suatu kebutuhan pokok bagi masyarakat untuk komunikasi dan informasi. Mulai dari untuk keperluan penting bisnis, informasi berita sehari-hari, kebutuhan sosial sampai untuk kesenangan. Salah satunya yang merebak untuk kebutuhan sosial adalah facebook.  Dengan situs ini kita bisa berkomunikasi dengan teman-teman kita dimanapun mereka berada.

Dan inipun terjadi pada diri saya, untuk kebutuhan sosial mencari teman. Maka sayapun membuka account facebook. Dan pada awal-awalnya hasilnya cukup mengagetkan bagi saya. Saya hampir saja menjalin hubungan serius dengan seseorang tapi tidak jadi. Kemudian sampai sekarang ini saya   berhubungan cukup dekat dengan beberapa teman. Hubungan sejenis. Semua ini karena saya sering mengunggah foto-foto saya. Pada mulanya saya hanya mengunggah foto-foto  saya dari leher kebawah.  Saya tidak mengira kalau komentar-komentar dari teman-teman adalah pujian-pujian positif  entah betul-betul serius atau cuma bercanda. Tapi ini  membuat saya semakin terpacu untuk sering mengunggah foto-foto saya. Bahkan kemudian setelah cukup berani, saya mengunggah foto-foto saya sampai kewajah saya. Disamping itu kadang saya juga mengobrol dengan teman-teman. Mulai dari obrolan biasa sampai yang ke hubungan intim bahkan bercumbu secara imaginer. Saya betul-betul tidak mengira kalau saya ( entah apa kata yang tepat untuk ini ) digila-gilai oleh mereka.  Ada yang secara halus tapi terang-terangan memuji saya. Kata mereka saya ini sexy dan merangsang. Ada yang model tembak langsung.

Keadaan ini yang berlangsung terus menerus  membuat saya seakan hidup dalam dua dunia.  Yang pertama, dunia nyata yang saya jalani sehari-hari. Yang kedua adalah dunia maya internet. Kemudian timbul  pikiran dalam diri saya bagaimana kalau saya menjalin hubungan serius. Tapi apakah saya berani melakukan ini ?

Kemudian saya jadi teringat keadaan sekitar puluhan tahun lalu.  Waktu itu saya masih kecil masih sekolah, tapi saya sudah mempunyai kebiasaan berkain kebaya. Tentu saja tidak serapi seperti foto-foto saya sekarang, bahkan tidak bermakeup dan bersanggul. Dulu saya pernah punya angan-angan bagaimana kalau hidup sebagai seorang wanita dan hidup dengan seorang pria. Betapa romantisnya kayalan saya waktu kecil dulu. Tapi waktu itu saya belum mengenal komputer dan internet. Jadi kayalan itu hanya tinggal sekedar kayalan,  samasekali belum menjadi nyata walaupun hanya sekedar maya.  Berbeda dengan sekarang, walaupun tidak nyata. Tapi cuma maya imaginer, tapi  betul-betul saya nikmati.

Rabu, 01 Juni 2011

Ironi

Aku hendak mendongak menatap langit, tapi kepalaku tertahan beratnya sanggul.
Aku hendak menggeliat menyegarkan tubuh, tapi badanku terbalut ketatnya stagen dan korset.
Aku hendak melangkahkan kaki, tapi kakiku terbebat sempitnya kain panjang.
Sekali lagi au mencoba melangkah, tapi aku malah kesrimpet jarik.
Inikah yang namanya burung dalam sangkar ?
Kepalaku dihias dengan indahnya sanggul, tapi aku tak leluasa mendongak.
Badanku dibalut dengan anggunnya kebaya, tapi aku tak leluasa  menggeliat.
Kakiku ditutup dengan indahnya kain panjang, tapi aku tak leluasa melangkah.
Belum lagi kakiku yang memakai sandal jinjit.
Inikah yang namanya emansipasi wanita ?
Dalam rangka hari Kartini tahun 2011.

Insomnia

Malam ini, dingin terasa kamarku. Aku gelisah tidak bisa tidur, berguling ke kanan ke kiri. Ada rasa kekosongan dalam diriku, tiba-tiba ada hasrat untuk menjadi wanita yang sempurna. Kulepaskan semua pakaianku. Kupakai sandal hak tinggi, kupasang sanggulku. Kuambil sehelai kain wiron. Kurapatkan kedua kakiku, lalu kain mulai kulilit dengan ketatnya dari kiri ke kanan. Sesudah itu, kuambil tali kuikat pinggangku dengan tali kencang-kencang supaya kain wironnya tidak kedodoran nanti. Lalu kuambil stagen dan kulilitkan ke tubuhku kuat-kuat. Kemudian kuambil korset dan terakhir kupakai kebaya ke tubuhku. Lalu aku berkaca, kurasakan masih ada yang kurang. Make up !, maka aku mulai bedakan, lalu kupakai pemerah pipi, lipstik, alis mata dan bulu mata palsu. Sekali lagi aku berkaca di depan cermin. Astaga, ada siapa itu di cermin, seorang bidadari cantik dari sorga. Akupun tersenyum puas, bahagia …. kendati aku kembali lagi terkungkung dalam nafsu dan tubuhku pun terkungkung, tertawan dan tersiksa dalam stagen,  korset dan kain wiron yang ketat.

Metamorfosa yang sempurna

Ini merupakan akhir dari trilogy tulisan saya. Yang pertama berjudul “Gara-gara selimut”. Kedua berjudul “Dari selimut menjadi kain kebaya“.
Setelah saya bekerja, sayapun membeli kain batik dan kebaya sendiri. Saya ingat betul pertama kali saya membelinya mula-mula hanya 1 kain batik dan 1 kebaya. Kemudian saya membeli 1kain batik, 1 kebaya dan 1 selendang. Berhubung saya masih tinggal dirumah ortu, maka sayapun memakainya masih terbatas di kamar tidur atau kalau pas orang rumah pergi semua. Jadi kalau saya cding kelengkapannya sudah bertambah menjadi kain, kebaya, dan selendang. Saya juga mengambil sandal jinjit kepunyaan ibu yang agak kekecilan dan juga tas tangan yang sudah tidak kepakai serta kipas. Begitulah cara saya cding. Saya sering mematut-matut didepan cermin dan berlenggang lenggok. Rasanya puas sekali.
Setelah bertahun-tahun saya kerja, akhirnya saya punya rumah sendiri. Rasanya senang sekali saat itu bisa beli rumah dari hasil keringat sendiri. Dan efek lainnya adalah saya jadi bisa bebas bercding kapan saja selama masih didalam rumah dan bahkan kadang-kadang secara sembunyi-sembunyi saya juga berjalan-jalan di halaman depan rumah tidak hanya di malam hari tapi juga kadang-kadang nekat di siang hari sambil  waspada. Beberapa hari setelah menempati rumah saya sendiri sayapun mulai membeli kebaya 4 buah. Pertama kali 2 buah dan selang beberapa hari 2 buah lagi. Setelah itu saya beli bh, sandal jinjit dan seterusnya saya jadi kebablasan membeli kain batik dan kebaya 1 demi 1 saya kumpulkan hingga sekarang kira-kira ada 1 lusin kain batik dan 9 kebaya.
Pertama kali hari Minggu saya dirumah sendiri , saya merasa senang sekali karena bisa saya gunakan untuk cding seharian dari pagi sampai sore. Saya merasa puas sekali. Saya bahkan dalam sehari kadang sampai berganti-ganti kebaya ataupun kain. Berhubung saya di rumah sendiri, maka saya masak dan  mencuci sendiri dan dihari itu saya lakukan sambil berkain kebaya.  Rasanya bahagia dan feminin sekali.
Setelah berulang-ulang hal itu saya kerjakan, sayapun semakin menuntut diri saya sendiri untuk menjadi wanita yang sesempurna mungkin dalam hal lahiriah waktu bercding. Maka sayapun membeli kelengkapan yang belum saya punyai yaitu  stagen dan sanggul serta peralatan makeup walaupun yang murahan mulai dari bedak, lipstick, eye shadow, pensil alis hingga yang terakhir adalah bulu mata palsu. Saya kadang-kadang merasa kagum pada diri saya sendiri waktu berkaca setelah bermakeup, betapa cantik nian diriku. Kemudian saya amati-amati diri saya dalam cermin seluruh tubuhku yang terbalut kain kebaya dilengkapi dengan sandal jinjit, selendang dan memakai sanggul. Alangkah mirip diriku dengan perempuan cantik yang anggun dan njawani. Betul-betul sebuah metamorfosa yang sempurna.
Setelah itu sayapun masih merasa ada yang kurang yaitu dokumentasi. Maka sayapun membeli kamera digital. Kemudian setiap cding saya sempatkan untuk mengambil foto diri dengan selftimer dengan aneka macam gaya bak foto model. Setelah saya punya foto-foto diri waktu cding, sayapun tertantang untuk menunjukkan kepada dunia luar tapi dengan tetap menyembunyikan identitas asli saya. Kebetulan dirumah ada computer dan internet. Maka sayapun mencari-cari situs mana yang kira-kira cocok  dan salah satunya adalah situs indocrossdresser. Dari situs ini juga saya baru tahu kalau saya ternyata tidak sendirian mempunyai kelainan ini, tapi banyak rekan-rekan saya di situs ini. Terimakasih untuk situs ini karena bisa menjadi tempat untuk kita saling curhat dan tukar info.