tJeSiLC_vQ4EjbqutLiN10g1b3k
Tampilkan postingan dengan label Kartini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kartini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 April 2016

Selamat hari Kartini 2016

Selamat hari Kartini, ladies ! Semoga di hari-hari ini yang serba susah dan ditengah perekonomian yang sedang lesu, hati kita tetap terjaga kesuciannya seputih ronce melati seperti yang kupakai di sanggulku. Juga harapan-harapan kita akan masa depan Indonesia yang lebih baik tetap mekar seperti bunga-bunga  yang ada di kain wironku.

Minggu, 20 April 2014

Ironi Kartini

KARTINI20122


I'm really a bad Kartini daughter. Instead to imitate her mind to lift women right, I try to lift up my long cloth !

Aku benar-benar seorang putri Kartini yang buruk. Bukannya  meniru pikirannya untuk mengangkat hak  wanita,  aku malah  mencoba untuk mengangkat kain panjangku !

12

Oh, I've been a bad Kartini daughter. Instead of trying to climb my career as a good woman,  I'm trying to climb the chair with this traditional costume kain kebaya. I hope I don't fall because this tight long batik cloth that can stumble me

Oh, aku sudah menjadi putri Kartini yang buruk. Alih-alih mencoba untuk meniti karirku sebagai seorang wanita yang baik, Aku malah mencoba untuk memanjat kursi dengan kostum tradisional kain kebaya ini. Ku harap aku tidak jatuh karena kain batik panjang ketat ini yang dapat nyrimpeti.

Kamis, 28 Februari 2013

Kehangatan


Semua orang merindukannya
Baik dalam hubungan kekeluargaan, persaudaraaan dan  persahabatan
Ataupun dalam hubungan sepasang kekasih
Sampai hubungan kerja dan bisnis
Sungguh sesuatu yang didambakan

Akupun juga mendapatkannya
Ketika rambut belakangku diikat
Kemudian dipasangi sanggul
Ketika kakiku dibungkus dengan ketatnya  kain batik yang ujungnya berwiru
Ketika pinggangku diikat dengan tali kuat-kuat
Supaya kain wiron tidak longgar dan kedodoran
Ketika pinggangku kemudian ditutup dengan gulungan stagen dengan kencang
Kemudian masih ditambah dengan bra dan korset
Dan akhirnya badanku diselubungi dengan rapatnya  kebaya
Apalagi kalau kebayanya kebaya beludru panjang dan  cuacanya panas serta lembab

Hangatlah kini diriku
Tapi seperti dua sisi mata uang atau seperti pisau bermata dua
Begitulah arti kehangatan itu bagiku
Kehangatan itu begitu menyiksa diriku
Karena aku jadi harus menahan keringat
Sehingga aku harus bergerak dengan pelan dan hati-hati
Atau malah mengurangi sebanyak mungkin gerakan
Bahkan kalau perlu menahan nafas mati-matian
Semata-mata supaya aku bisa menjadi anggun

Seanggun Kartini pahlawan emansipasi wanita
Yang selalu tetap berkain kebaya meskipun sedang bekerja
Bahkan sampai tidur dan ajal menjelang

Jumat, 21 Desember 2012

Selamat hari ibu


Ibu adalah salah satu figur penting dari suatu keluarga yang lengkap. Walaupun ia tidak diakui sebagai kepala keluarga. Tapi ia adalah salah satu dari orang tua kita dan ia juga yang melahirkan kita ke dunia. Serta jangan lupa pula dengan pepatah yang mengatakan kalau dibelakang pria hebat selalu ada wanita hebat.

Namun dibalik keagungan seorang ibu, ia adalah tetap seorang wanita yang anggun. Khususnya untuk para wanita Indonesia. Para pahlawan wanita kita telah memberi contoh tersebut. RA Kartini, Dewi Sartika dan lainnya.

Khususnya untuk para wanita Jawa. Keagungan dan keanggunan itu akan lebih tampak lagi dengan pakaiannya yang berupa kain kebaya. Pakaian yang membuat seorang wanita terlihat anggun.

Terlebih dengan rambut yang tersanggul laksana  mahkota yang harus dijagai dengan seksama dan hati-hati. Walaupun terasa berat di kepala, tapi layaknya seperti tugas berat nan mulia yang harus dijalani dengan tulus dan iklas.

Kemudian kebayanya yang pas dibadan akan membentuk siluet dari badan pemakainya. Keanggunan pun akan tampak di sini. Dada yang laksana dua gunung di sela sebuah lembah menampilkan panorama yang indah. Kemudian lekuk tubuh dari pinggang ke pinggul yang terlihat jelas. Laksana indahnya sebuah guitar klasik yang mewah dan mahal yang dapat melantunkan nada-nada yang merdu. Walaupun untuk semua itu si pemakai harus rela berkorban menghimpit tubuhnya dengan stagen dan korset yang membebat tubuh dengan ketatnya. Nafas pun bisa-bisa jadi agak sesak dibuatnya. Tapi demi sebuah penampilan yang anggun, pengorbanan yang cukup sepadan rela dilakukan.

Turun kebawah, kain panjang yang depannya di wiru dengan indah membebat dan menghimpit kaki dengan ketatnya. Kaki pun harus rela berjalan dengan pelan-pelan  dan langkah-langkah yang kecil bahkan mungkin terhuyung-huyung demi suatu istilah berjalan dengan pantas layaknya wanita Indonesia yang anggun.

Terakhir, telapak kakipun harus rela dipakaikan sandal jinjit yang semakin  mempersulit berjalan selain juga bisa mengakibatkan sakit pinggang.

Tapi itu adalah citra wanita Indonesia di jaman dahulu, di jaman sekarang para wanita Indonesia sudah mengganti pakaian kain kebayanya dengan pakaian modern yang lebih praktis berupa rok dan celana. Kecuali untuk kalangan-kalangan tertentu yang masih berdarah biru, adat itu masih terjaga.

Jadi bagaimana sekarang ? Mengikuti jaman dengan pakaiannya dengan mengatas namakan emansipasi wanita. Karena memang sekarang begitulah keadaannya, wanita sekarang juga ikut menjadi pekerja dan profesional serta bukan tidak mungkin juga menjadi tulang punggung keluarga seperti layaknya seorang pria.

Atau ketat mempertahankan tradisi menguri-uri busana tradisional kita ? Seperti pemkot Surakarta yang mewajibkan seluruh pegawainya mengenakan busana Jawa pada hari tertentu.


Kamis, 06 Desember 2012

ketika aku tak lagi berkonde










Apakah aku akan disebut sebagai pengkhianat perjuangan RA Kartini ? Hanya karena aku tak lagi berkonde. Bukankah aku masih memakai busana kain dan kebaya ? Kain yang kupakai pun juga kain batik lembaran asli dengan wiron didepan pula. Tidak seperti kebanyakan wanita sekarang yang lebih suka praktisnya dengan menjahit kain batik menjadi rok berwiru. Kebaya yang kupakai pun masih kelihatan tradisional. Tidak terlalu jauh modifikasinya. Bahkan mungkin masih boleh disebut sebagai kebaya tradisional dengan kerah yang bergaya Sunda.

Ku hanya ingin sedikit variasi dan perubahan. Bukannya mau meninggalkan tradisi. Bagaimanapun ku akan tetap menjadi seorang wanita Indonesia yang berusaha sekuat tenaga untuk meneruskan cita-cita Kartini sambil selalu menguri-uri busana tradisional Jawa pada khususnya dan busana nasional Indonesia pada umumnya.

Karena konde adalah mahkota wanita Jawa pada khususnya dan wanita Indonesia pada umumnya. Maka adalah suatu kehormatan bagiku untuk selalu tetap memakai konde, sekalipun konde itu akan memperberat kepalaku. Tapi seperti halnya suatu tugas berat yang harus diemban oleh setiap wanita Indonesia untuk selalu memegang tinggi nilai-nilai luhur seorang wanita Indonesia, menguri-uri busana tradisional dan meneruskan cita-cita Kartini. Maka sekali lagi ku akan selalu berusaha sekuat tenaga untuk selalu memakai sanggul disetiap kesempatan.

Senin, 23 April 2012

Puluhan tahun yang lalu


tanggal 21 April, puluhan tahun yang lalu
waktu itu aku masih terlalu hijau dan lugu
tapi waktu itu  aku  malah bisa sepuas-puasnya menikmati pemandangan itu
para gadis pergi ke sekolah bukan dengan seragam putih biru atau abu-abu
tapi dengan pakaian kain kebaya dan sanggul kayak ibu-ibu
kesulitan berjalan hinggga tertatih-tatih dengan gerak-gerik kaku
bukannya lantaran sopan santun baku
atau lantaran masih terlalu lugu
tapi karena kaki yang tidak terbiasa terbelenggu
oleh indahnya kain batik yang berlipat-lipat wiru
belum lagi ditambah sandal jinjit bikin kaki jadi kaku
sambil sesekali tangannya merapikan dan membetulkan wiru
mulutnyapun  sesekali  tersenyum kecut atau tersipu-sipu
bila ada yang melihat dan memperhatikan apalagi menggoda merekapun malu
saputanganpun ditutupkan  kemulut sambil terus membisu kelu
matanya sering melihat  ke bawah seperti menunduk lesu
berjaga-jaga  takut kalau nanti tersandung batu
atau kesrimpet rapatnya kain wiru
dondong opo salak duku cilik-cilik orang jawa pun berlagu
gendong opo becak mlaku timik-timik itu artinya lagu
mau tersenyum atau tertawa tapi bukan adegan dagelan yang  lucu
walaupun gadis-gadis itu terlihat imut-imut dan lucu
apalagi dengan pakaian kain kebaya seperti itu
sungguh bisa memuaskan hawa nafsuku

akupun punya cerita lucu lain soal itu
teman sekolahku pun dihari itu pakai kain kebaya kayak ibu-ibu
dia anak orang kaya maka pulangnya pun dijemput pakai mobil ortu
cuma sayang waktu mau naik ke mobil dia tidak bisa tidak mampu
lantaran mobilnya jip dengan roda besar dan tinggi pintu jip itu
mau membuka kaki lebar-lebar terhalang oleh sempitnya kain wiru
akhirnya dia pun di angkat sendiri oleh sang ortu masuk ke jip itu
bisa dibayangkan malunya si gadis ayu itu

lain lagi dengan cerita kakakku
dia satu sekolah dengan aku
dihari itu pun pakai kain kebaya kayak ibu-ibu
berhubung kami dari keluarga yang kurang mampu
maka pulangnya kami naik becak tapi dia menggerutu
sempat tidak mau menawarkan becak untuk dia dan aku
hanya lantaran pakai kain kebaya kayak ibu-ibu
maka lewat tulisan ini kakakku maafkanlah aku

tapi sekarang di hari yang sama aku yang jadi lesu
melihat dan mencari-cari gadis-gadis yang berpakaian kain kebaya kayak ibu-ibu
tapi tidak ada yang terlihat walaupun cuma satu
kalaupun ada hanya ibu-ibu penjual asongan yang memang tiap hari seperti itu
tapi dengan kain batik yang tidak dipakai dengan rapi dan diwiru
mungkin ini sudah jadi nasibku

tapi entah apa yang terjadi dengan diriku
mungkin lantaran sudah terlalu lama mendalami ilmu
mancala putra mancala putri kata guru
semakin tahun aku semakin bisa menjadi seorang Kartini setidaknya untuk diriku
meneladani pahlawan emansipasi wanita itu
tidak hanya pikiran dan perbuatan tapi juga mahir berkain kebaya bak ibu-ibu
akupun bisa memenuhi semua kebutuhan diriku
mandiri kata lain untuk itu

tidak hanya itu aku juga bisa memenuhi hawa nafsuku
ibarat supermarket swalayan yang melayani diri sendiri tanpa malu-malu
apalagi kalau tidak ada orang yang tahu
hanya Tuhan yang diatas yang tahu
ampunilah diriku yang tidak bisa menahan hawa nafsuku

Jumat, 20 April 2012

Selamat hari Kartini 21 April 2012

Selamat hari Kartini ! Para wanita Indonesia. Bagaimana hari ini apakah anda akan  dengan senang hati mengenakan kain kebaya ? Atau anda mengenakannya dengan berat hati dan terpaksa  ? Atau malah anda tidak akan pernah mengenakannya sama sekali walaupun itu hanya berupa rencana atau angan-angan ? Anda lebih suka dengan pakaian western yang praktis dan sesuai dengan jamannya ?

Saya tidak bisa memungkiri kenyataan diatas. Tapi bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati kebudayaannya sendiri. Jadi, sayangilah selalu pakaian nasional kita sendiri. Ngadi salira ngadi busana, nguri-uri kebudayaan tradisional kita.

Siapa lagi yang akan melestarikan kebudayaan kita sendiri, kalau bukan bangsa kita sendiri. Bangsa tetangga ? Ironis dan tragis, jika bangsa tetangga sampai kemudian mengklaim kebaya dan kain batik sebagai busana mereka.


Minggu, 23 Oktober 2011

Kartini dan Abendanon

Tadi pagi waktu saya cding pakai kain kebaya, saya membuka facebook saya. Kebetulan teman saya seorang bule yang seorang crossdresser juga online. Saya coba menyapa dia dengan chat. Dia membalas sapaan saya, maka kamipun chat di facebook.
Saya bilang kalau saya sedang cding dengan memakai kain kebaya. Terus saya tanya dia apakah dia juga sedang cding ? Dia jawab juga sedang cding dengan chemisier ( sejenis model  pakaian ). Saya tanya lagi apakah dia tahu kain kebaya. Diapun  menjawab tidak tahu, maka saya terangkan kalau kebaya itu sejenis blouse dan kain ( wiron ) itu adalah kain / bahan yang dipakai dengan dililitkan ke kaki dengan ketat. Saya menjelaskan lebih lanjut bahwa pakaian itu dulu juga yang dipakai oleh pahlawan nasional kita ibu kita Kartini.
Rasanya waktu sedang chating terutama waktu menjelaskan tentang kain kebaya itu, saya sangat feminin dan anggun sekali. Rasanya pingin terus chating dan menjelaskan tentang kain kebaya sambil menikmati suasana cding serta sesekali  memandangi cermin dan berkaca. Saya merasa betapa feminim dan anggunnya diriku. Saya jadi merasa kalau ini terjadi di masa lampau rasanya seperti Kartini dengan sobatnya Abendanon yang sedang bercakap-cakap.
Sayapun sempat tanya ke dia apakah dia juga suka dengan rok span dan memberitahu dia kalau kain wiron itu pada dasarnya seperti rok span panjang yang membuat kita harus berhati-hati jika berjalan karena jadi sulit melangkah. Sayangnya dia tidak sempat menjawab, hanya mengirim pesan kalau dia harus menelpon. Jadi kamipun  akhirnya berhenti chating. Thank you my dear facebook friend.  See you again next time on facebook.

Jumat, 19 Agustus 2011

Busana nasional, sebuah renungan

Melihat perkembangan busana nasional kita sekarang ini semestinya kita tidak perlu merasa terlalu kuatir. Melihat desainer-desainer seperti Anne Avantie,  Adjie Notonegoro,  Ramli dan lain-lainnya sepertinya busana nasional kita, kebaya tidak akan pernah mati. Modelnyapun semakin berkembang. Mulai dari yang masih tradisional asli seperti kebaya dengan kutubaru, kebaya Kartini, kebaya encim  sampai kebaya Sunda. Kemudian dimodifikasi dari sedikit demi sedikit seperti menjadi kebaya dengan ekor putri duyung, kebaya Shanghai, kebaya offshoulder  sampai  tidak terlihat  seperti kebaya lagi.
Bawahannya pun juga tidak mesti kain batik asli yang dipakai dengan meruncing ke bawah dan di wiru dibagian depannya ataupun sarung batik.  Tapi sudah berkembang, mulai yang pemakaiannya tidak diwiru dan dipakai dengan longgar. Kemudian kain batik yang sudah dijahit sehingga pemakaiannya lebih praktis.  Ada pula yang lebih terang-terangan dibuat sebagai rok dengan potongan melebar kebawah. Atau malah dipadu padankan dengan rok sampai dengan celana panjang. Pelengkapnya dibagian kepala pun tidak harus sanggul tradisional lagi, tapi sudah sanggul  modern atau bahkan tanpa sanggul.
Dengan kondisi seperti diatas sebetulnya busana nasional kita seperti dipersimpangan jalan. Disatu sisi mengalami perkembangan dan bisa mengikuti jaman sehingga tidak perlu kuatir kalau ditinggal oleh pemakainya yaitu para wanita Indonesia. Disisi lain sepertinya semakin menjauh dari akar atau pakemnya. Sudah tidak tradisional lagi. Terus apakah istilah "nguri-uri busana tradisional" masih sesuai dengan keadaaan ini ?.
Kalau dulu setiap perayaan hari Kartini di sekolah-sekolah selalu ramai dengan para siswi yang berpakaian tradisional, sekarang boleh dikatakan sepi. Bahkan di suatu sekolah akhir-akhir ini kalau perayaan Kartini siswinya cukup memakai baju batik. Demikian juga kalau dulu kontes pemilihan putri Kartini yang diadakan di supermarket selalu banyak pesertanya dan juga penontonnya, belakangan ini kelihatannya juga sudah berkurang baik peserta maupun penontonnya. Ssebuah superamarket bahkan meniadakan acara ini di suatu tahun.
Di acara-acara pernikahan yang mengusung adat Jawa pun akhir-akhir ini para penerima tamu yang cewek  sudah memakai busana kebaya modifikasi dengan bawahan yang tidak berupa kain wiron asli tapi sudah berupa rok.  Lucunya saya pernah melihat para penerima tamu di suatu acara pernikahan yang cewek memakai kebaya modern dengan rok batik tapi yang cowok masih memakai blangkon, beskap dan kain wiron. Bagaimana ini ? Cowoknya masih tradisional asli, tapi ceweknya sudah setengah modern. Tidak matching, kalau menurut saya.
Yang lebih parah lagi saya pernah melihat di televisi swasta, dimana mc atau pembawa acaranya berpasangan dua orang  satu cewek satu cowok.  Cowoknya berbusana tradisional Jawa asli, blangkon, beskap dan kain wiron. Ceweknya berbusana kebaya modern dengan sanggul modern dan bawahan long dress dan kesannya jauh dari tradisional. Padahal acara ini  ditonton oleh seluruh pemirsa di nusantara.
Yang paling saya kuatirkan nantinya adalah kalau suatu ketika nanti di acara tertentu akan ada kejadian seperti ini.  Cowoknya berbusana tradisional Jawa dengan blangkon, beskap dan kain wiron,  tapi ceweknya berbusana kebaya modern dengan bawahan berupa celana panjang. Kalau kita bayangkan keadaannya  jadi seperti  terbalik. Cowoknya memakai kain wiron, tapi ceweknya memakai celana panjang. Crossdressing in public ?

Rabu, 01 Juni 2011

Dari selimut menjadi kain kebaya

Ini merupakan lanjutan dari tulisan saya yang berjudul  “Gara-gara selimut”.  Dimana pada akhir tulisan saya akhirnya kecanduan masturbasi  dengan memakai selimut seperti memakai kain jarik.
Pada waktu itu dikampung saya banyak anak-anak kecilnya dan kebetulan juga dekat dengan Sekolah Dasar serta SMP. Pada tahun-tahun itu,  tidak seperti sekarang setiap  tanggal 21 April disekolah-sekolah perayaan hari Kartini selalu dirayakan dengan meriah. Tak terkecuali disekolahan dekat kampung saya, perayaan hari Kartini selalu dirayakan dengan meriah.  Pada saat  seperti itulah yaitu setiap tanggal 21 April saya selalu menyempatkan diri ( kalau boleh dibilang begitu ) menunggu di halaman kalau-kalau ada gadis-gadis kecil anak sekolah yang berpakaian ala Kartini ( kain kebaya ) lewat didepan rumah saya. Dan memang kenyataannya banyak yang lewat. Sayapun menikmatinya, saya memandangi dari atas ke bawah tapi yang terutama saya perhatikan adalah kainnya. Saya dalam hati akan memuji, jika kain wiron yang dipakai rapi dan singset serta tidak kedodoran. Pada saat-saat seperti itu kadang alat vital saya jadi tegang.
Dari kebiasaan diatas sayapun kemudian mulai berpikir bagaimana jika saya memakai kain batik asli dan bukan selimut. Kebetulan dirumah ortu saya juga ada beberapa lembar kain batik, sebagian diletakkan  diluar untuk selimutan dan sudah agak lama, sebagian masih lumayan baru dan disimpan didalam lemari. Sayapun kemudian memberanikan diri untuk mengambil secara diam-diam kain batik yang ada diluar. Kemudian saya pakai dan onani. Tapi setelah beberapa kali, saya jadi kurang tertarik. Saya ingin kain yang bisa diwiru, karena menurut pikiran saya akan lebih indah jika ujungnya diwiru. Maka sayapun mulai diam-diam memberanikan diri mengambil kain batik yang masih agak baru yang disimpan dilemari dan saya pakai untuk onani juga. Setelah itu semakin berkembang sayapun ingin memakainya lengkap dengan kebayanya dan memang dirumah ortu juga ada kebaya. Jadi terpenuhilah keinginan saya. Saya melakukan semua ini dengan sembunyi-sembunyi di kamar tidur atau kalau semua orang rumah pergi. Tapi sampai sekarang saya sebetulnya ragu apakah ada saudara-saudara saya yang tahu kalau saya punya kelainan ini.