tJeSiLC_vQ4EjbqutLiN10g1b3k
Tampilkan postingan dengan label vital. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label vital. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juni 2011

Gara-gara selimut

Dirumah kami waktu kecil dulu adalah beberapa selimut yang warnanya garis-garis hitam putih yang kami gunakan untuk tidur jika cuaca dingin. Kami tiga bersaudara, saya adalah yang bungsu. Kami adalah anak-anak yang normal dari keluarga yang harmonis. Sebagaimana  layaknya anak-anak, maka kami juga bermain-main.  Kadang-kadang kami bermain rumah-rumahan dan biasanya kakak-kakak saya kedua-duanya atau salah satunya memakai selimut tersebut seperti memakai kain jarik dengan ketatnya.  Dan saya melihatnya dengan perasaan yang sedikit aneh, sebetulnya saya ingin meniru kakak saya itu tapi saya malu. Jadi keinginan itu saya pendam dalam hati.
Disamping bermain-main sebagaimana layaknya kanak-kanak.  Kami juga hobby nonton tv. Waktu itu yang ada hanya stasiun televisi  milik pemerintah dan kebanyakan acaranya adalah fragmen. Didalam fragmen tersebut biasanya  wanita-wanita yang berstatus ibu muda berpakaian kain kebaya dan secara tak sengaja saya memperhatikan tingkah laku dan gerak-gerik  tokoh-tokoh ibu muda yang berpakaian kain kebaya tersebut. Saya perhatikan betapa terbatasnya gerak-gerik ibu tersebut, mau  jalan harus pelan-pelan. Begitu pula kalau mau duduk.
Pikiran itu terus  mengganggu pikiran saya. Hingga akhirnya saya  secara sembunyi-sembunyi di kamar mulai mencoba  memakai selimut tersebut  seperti layaknya memakai kain. Dari hari ke hari sampai minggu ke  minggu mungkin sampai berbulan-bulan saya beberapa kali melakukannya. Hingga kali yang kesekian akhirnya saya masturbasi dengan selimut itu. Tapi waktu itu saya tidak tahu kalau itu masturbasi. Yang saya tahu adalah alat vital rasanya sakit bukan main. Saya kira alat vital saya keluar darahnya. Saya jadi takut. Tapi setelah saya lihat sendiri kalau yang keluar adalah bukan darah tapi cairan putih. Maka sayapun jadi lega. Dan kemudian akhirnya saya tahu kalau itu adalah masturbasi. Malah setelah itu saya jadi seperti ketagihan setiap beberapa hari saya melakukannya dengan sembunyi-sembunyi

Dari selimut menjadi kain kebaya

Ini merupakan lanjutan dari tulisan saya yang berjudul  “Gara-gara selimut”.  Dimana pada akhir tulisan saya akhirnya kecanduan masturbasi  dengan memakai selimut seperti memakai kain jarik.
Pada waktu itu dikampung saya banyak anak-anak kecilnya dan kebetulan juga dekat dengan Sekolah Dasar serta SMP. Pada tahun-tahun itu,  tidak seperti sekarang setiap  tanggal 21 April disekolah-sekolah perayaan hari Kartini selalu dirayakan dengan meriah. Tak terkecuali disekolahan dekat kampung saya, perayaan hari Kartini selalu dirayakan dengan meriah.  Pada saat  seperti itulah yaitu setiap tanggal 21 April saya selalu menyempatkan diri ( kalau boleh dibilang begitu ) menunggu di halaman kalau-kalau ada gadis-gadis kecil anak sekolah yang berpakaian ala Kartini ( kain kebaya ) lewat didepan rumah saya. Dan memang kenyataannya banyak yang lewat. Sayapun menikmatinya, saya memandangi dari atas ke bawah tapi yang terutama saya perhatikan adalah kainnya. Saya dalam hati akan memuji, jika kain wiron yang dipakai rapi dan singset serta tidak kedodoran. Pada saat-saat seperti itu kadang alat vital saya jadi tegang.
Dari kebiasaan diatas sayapun kemudian mulai berpikir bagaimana jika saya memakai kain batik asli dan bukan selimut. Kebetulan dirumah ortu saya juga ada beberapa lembar kain batik, sebagian diletakkan  diluar untuk selimutan dan sudah agak lama, sebagian masih lumayan baru dan disimpan didalam lemari. Sayapun kemudian memberanikan diri untuk mengambil secara diam-diam kain batik yang ada diluar. Kemudian saya pakai dan onani. Tapi setelah beberapa kali, saya jadi kurang tertarik. Saya ingin kain yang bisa diwiru, karena menurut pikiran saya akan lebih indah jika ujungnya diwiru. Maka sayapun mulai diam-diam memberanikan diri mengambil kain batik yang masih agak baru yang disimpan dilemari dan saya pakai untuk onani juga. Setelah itu semakin berkembang sayapun ingin memakainya lengkap dengan kebayanya dan memang dirumah ortu juga ada kebaya. Jadi terpenuhilah keinginan saya. Saya melakukan semua ini dengan sembunyi-sembunyi di kamar tidur atau kalau semua orang rumah pergi. Tapi sampai sekarang saya sebetulnya ragu apakah ada saudara-saudara saya yang tahu kalau saya punya kelainan ini.