tJeSiLC_vQ4EjbqutLiN10g1b3k
Tampilkan postingan dengan label wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wanita. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 September 2011

Sebuah komentar dari teman atas nama situs ini

Pada waktu itu saya sedang mengedit posting untuk blog saya di kantor,  seperti biasanya teman cewek yang duduk disebelah saya sedikit-sedikit ikut melihat-lihat tapi  sambil lalu saja.  Diapun bilang begini " pria kok jelita ? opo wandu ? engko uwong wédhok kan orak payu to ".  Bahasa Indonesianya : pria kok jelita ? apa banci ? nanti wanita kan tidak laku. Sayapun seperti biasanya hanya bisa senyum-senyum sedikit.  Jangan kuatir, non. Kita tidak bermaksud untuk menyaingi wanita sejati. Semua ada tempat dan bagiannya sendiri-sendiri.

Jumat, 15 Juli 2011

Kenangan hari wisuda yang sangat membahagiakan

Tadi malam atau pagi dini hari saya bermimpi seperti sedang kuliah atau kerja dan saya dipegang-pegang dengan akrab oleh dosen wanita saya yang cantik.  Setelah bangun saya jadi ingat dulu waktu kuliah sore sambil bekerja, saya juga punya beberapa dosen wanita yang boleh dibilang aduhai cantiknya.
Sebetulnya sesudah selesai SMA dulu sebelum kuliah sore,  saya sempat kuliah seperti mahasiswa pada umumnya yaitu kuliah pagi. Saya sempat beberapa tahun kuliah, tapi nilai-nilai kuliah saya selalu jelek atau pas-pasan. Saya sampai sempat jatuh sakit. Alangkah sedih hati saya. Masa depan saya sepertinya suram. Akhirnya saya sampai pada kesimpulan  kalau saya salah jurusan dan sayapun drop out.
Kemudian untuk kompensasinya saya mengambil kursus-kursus sampai akhirnya saya bekerja. Kemudian saya disarankan oleh keluarga  untuk mengambil kuliah sore. Sayapun menyetujuinya. Saya bekerja sambil kuliah di sore hari. Karena untuk jurusan kuliah yang saya ambil,  sebagian pernah saya ikuti di kursus-kursus sebelumnya dan juga saya baca-baca berita serta dari buku. Maka kuliah menjadi tidak sulit bagi saya. Kuliah saya malah terhitung lancar, bukan itu saja nilai-nilai mata kuliah saya cukup bagus dan saya lulus dengan predikat cum laude. Terimakasih Tuhan untuk semuanya.
Selama kurun waktu saya kuliah sore sambil bekerja boleh dibilang saya jarang-jarang punya kesempatan buat cding. Cuma kebetulan juga selama kurun waktu itu nafsu saya boleh dibilang tidak terlalu menggebu-gebu dan kebetulan juga saya punya teman kuliah cewek yang cukup akrab juga. Jadi nafsu saya bisa agak tersamarkan. Tapi setelah teman kuliah cewek saya berhenti kuliah, nafsu saya jadi agak menguat. Karena kesempatan untuk cding boleh dibilang hampir tidak ada, maka saya lampiaskan dengan onani sambil melihat gambar / foto dan juga film tentang cewe yang berpakaian khusus yaitu kain kebaya serta menggambar cewe berkain kebaya. Kebetulan juga saya bisa menggambar. ( Besok kapan-kapan kalau memenuhi syarat,  saya upload beberapa gambar saya )
Maka ketika tiba hari wisuda, rasanya luar biasa. Saya  merasa sangat bahagia sekali.  Seperti mendapat durian runtuh. Sambil menyelam minum air. Entah peribahasa apa lagi yang cocok untuk situasi ini. Bayangkan saja, yang pertama saya di wisuda dengan predikat cum laude. Kemudian saya mendapatkan kesempatan emas untuk melihat teman-teman cewek saya,  tentu saja terutama yang cantik-cantik dan bodynya sexy memakai kain kebaya. Dan kebetulan juga pada waktu itu kain batik ( jarik ) yang sudah dimodifikasi menjadi rok atau sarimbit belum begitu musim seperti sekarang.  Soalnya saya sukanya kalau lihat cewe pakai kain kebaya dan kainnya harus kain batik lembaran asli yang diwiron depannya. Wuih rasanya seperti di langit yang ketujuh. Bisa cuci mata hampir setengah harian. Adik saya sampai bisa berdiri dan ngiler terus,  cuma untungnya tidak sampai banjir. Hanya nyemek-nyemek saja. Apalagi upacara wisudanya berada dilantai yang satu tingkat lebih tinggi dan ketika harus mulai acaranya kami harus naik tangga dengan berjalan. Sayapun dengan seksama menikmati adegan teman-teman cewek yang berkain kebaya harus berjalan dengan ekstra hati-hati untuk menaiki tangga. Dan kebetulan juga sebelah kanan dan kiri saya duduk adalah teman-teman cewek saya, maka sayapun bisa menikmati pemandangan kaki-kaki yang dibelit kain wiron yang indah walaupun tertutup oleh toga sedikit.
Tetapi yang lebih terutama adalah sebelum upacara itu dimulai, dimana kami para wisudawan bergerombol-gerombol sambil menunggu upacara dimulai. Pada waktu itu secara kebetulan saya bisa berada didekat dosen wanita yang cantik dan tubuhnya aduhai. Sang dosen wanita inipun tentu saja juga berpakaian kain kebaya. Kesempatan besar bagi saya untuk menikmati pemandangan ini. Saya memperhatikan sang dosen mulai dari kepala sampai ke kakinya. Saya pikir toganya menghalangi pemandangan untuk menikmati lekuk tubuh sang dosen yang terbalut kain kebaya yang ketat,  karena dengan demikian saya hanya bisa menikmati wajah dan bagian bawah kakinya. Tapi lumayanlah, saya juga memperhatikan sang dosen yang berjalan-jalan dengan langkah-langkah kecil karena takut kalau kserimpet atau takut kalau kain wironnya jadi kedodoran.  Sebetulnya tidak itu saja, tapi saya memperhatikan seluruh teman dan mahasiswi cewek yang kadang-kadang berjalan kian kemari dengan langkah-langkah sempit seperti diseret-seret. Alamak, sedapnya pemandangan ini.  Saya juga ingat ada adegan dimana seorang mahasiswi meminta temannya yang cowok untuk menarik kain wironnya ke bawah, karena ia memakainya agak ketinggian. Aduh bagaimana ini ? Juga waktu itu ada beberapa mahasiswi  yang masuk ke toilet, maka teman-teman mahasiswa pun iseng berkata ” wah kalau pipis bagaimana caranya ? “.  Yang lain pun menjawab ” pakai selang”.
Kalau mengenang semua ini,  rasanya saya kepingin di wisuda lagi. Dan sekali lagi sungguh suatu keberuntungan bagi saya, karena saya menempuh kuliah dua kali. Pertama Diploma 3, karena waktu itu perguruan tinggi tempat saya kuliah masih berbentuk akademi belum universitas. Baru kemudian ekstensi ke Strata 1. Jadilah saya menikmati dua kali wisuda. Tapi sebetulnya diatas semua itu saya harus mengucap syukur untuk pendidikan yang telah selesai saya tempuh. Sekali lagi terimakasih Tuhan. Juga untuk semua dosen yang telah dengan penuh dedikasi memberkan perkuliahan kepada kami,  terutama untuk sang dosen wanita cantik yang saya tulis di tulisan ini. Wah maaf-maaf beribu maaf lho ibu dosen. Tapi ibu memang cantik dan sexy kok.

Sabtu, 04 Juni 2011

Deja Vu atau Utopia ?

Di masa sekarang ini, komputer dan internet adalah sudah menjadi suatu kebutuhan pokok bagi masyarakat untuk komunikasi dan informasi. Mulai dari untuk keperluan penting bisnis, informasi berita sehari-hari, kebutuhan sosial sampai untuk kesenangan. Salah satunya yang merebak untuk kebutuhan sosial adalah facebook.  Dengan situs ini kita bisa berkomunikasi dengan teman-teman kita dimanapun mereka berada.

Dan inipun terjadi pada diri saya, untuk kebutuhan sosial mencari teman. Maka sayapun membuka account facebook. Dan pada awal-awalnya hasilnya cukup mengagetkan bagi saya. Saya hampir saja menjalin hubungan serius dengan seseorang tapi tidak jadi. Kemudian sampai sekarang ini saya   berhubungan cukup dekat dengan beberapa teman. Hubungan sejenis. Semua ini karena saya sering mengunggah foto-foto saya. Pada mulanya saya hanya mengunggah foto-foto  saya dari leher kebawah.  Saya tidak mengira kalau komentar-komentar dari teman-teman adalah pujian-pujian positif  entah betul-betul serius atau cuma bercanda. Tapi ini  membuat saya semakin terpacu untuk sering mengunggah foto-foto saya. Bahkan kemudian setelah cukup berani, saya mengunggah foto-foto saya sampai kewajah saya. Disamping itu kadang saya juga mengobrol dengan teman-teman. Mulai dari obrolan biasa sampai yang ke hubungan intim bahkan bercumbu secara imaginer. Saya betul-betul tidak mengira kalau saya ( entah apa kata yang tepat untuk ini ) digila-gilai oleh mereka.  Ada yang secara halus tapi terang-terangan memuji saya. Kata mereka saya ini sexy dan merangsang. Ada yang model tembak langsung.

Keadaan ini yang berlangsung terus menerus  membuat saya seakan hidup dalam dua dunia.  Yang pertama, dunia nyata yang saya jalani sehari-hari. Yang kedua adalah dunia maya internet. Kemudian timbul  pikiran dalam diri saya bagaimana kalau saya menjalin hubungan serius. Tapi apakah saya berani melakukan ini ?

Kemudian saya jadi teringat keadaan sekitar puluhan tahun lalu.  Waktu itu saya masih kecil masih sekolah, tapi saya sudah mempunyai kebiasaan berkain kebaya. Tentu saja tidak serapi seperti foto-foto saya sekarang, bahkan tidak bermakeup dan bersanggul. Dulu saya pernah punya angan-angan bagaimana kalau hidup sebagai seorang wanita dan hidup dengan seorang pria. Betapa romantisnya kayalan saya waktu kecil dulu. Tapi waktu itu saya belum mengenal komputer dan internet. Jadi kayalan itu hanya tinggal sekedar kayalan,  samasekali belum menjadi nyata walaupun hanya sekedar maya.  Berbeda dengan sekarang, walaupun tidak nyata. Tapi cuma maya imaginer, tapi  betul-betul saya nikmati.

Rabu, 01 Juni 2011

Ironi

Aku hendak mendongak menatap langit, tapi kepalaku tertahan beratnya sanggul.
Aku hendak menggeliat menyegarkan tubuh, tapi badanku terbalut ketatnya stagen dan korset.
Aku hendak melangkahkan kaki, tapi kakiku terbebat sempitnya kain panjang.
Sekali lagi au mencoba melangkah, tapi aku malah kesrimpet jarik.
Inikah yang namanya burung dalam sangkar ?
Kepalaku dihias dengan indahnya sanggul, tapi aku tak leluasa mendongak.
Badanku dibalut dengan anggunnya kebaya, tapi aku tak leluasa  menggeliat.
Kakiku ditutup dengan indahnya kain panjang, tapi aku tak leluasa melangkah.
Belum lagi kakiku yang memakai sandal jinjit.
Inikah yang namanya emansipasi wanita ?
Dalam rangka hari Kartini tahun 2011.

Gara-gara selimut

Dirumah kami waktu kecil dulu adalah beberapa selimut yang warnanya garis-garis hitam putih yang kami gunakan untuk tidur jika cuaca dingin. Kami tiga bersaudara, saya adalah yang bungsu. Kami adalah anak-anak yang normal dari keluarga yang harmonis. Sebagaimana  layaknya anak-anak, maka kami juga bermain-main.  Kadang-kadang kami bermain rumah-rumahan dan biasanya kakak-kakak saya kedua-duanya atau salah satunya memakai selimut tersebut seperti memakai kain jarik dengan ketatnya.  Dan saya melihatnya dengan perasaan yang sedikit aneh, sebetulnya saya ingin meniru kakak saya itu tapi saya malu. Jadi keinginan itu saya pendam dalam hati.
Disamping bermain-main sebagaimana layaknya kanak-kanak.  Kami juga hobby nonton tv. Waktu itu yang ada hanya stasiun televisi  milik pemerintah dan kebanyakan acaranya adalah fragmen. Didalam fragmen tersebut biasanya  wanita-wanita yang berstatus ibu muda berpakaian kain kebaya dan secara tak sengaja saya memperhatikan tingkah laku dan gerak-gerik  tokoh-tokoh ibu muda yang berpakaian kain kebaya tersebut. Saya perhatikan betapa terbatasnya gerak-gerik ibu tersebut, mau  jalan harus pelan-pelan. Begitu pula kalau mau duduk.
Pikiran itu terus  mengganggu pikiran saya. Hingga akhirnya saya  secara sembunyi-sembunyi di kamar mulai mencoba  memakai selimut tersebut  seperti layaknya memakai kain. Dari hari ke hari sampai minggu ke  minggu mungkin sampai berbulan-bulan saya beberapa kali melakukannya. Hingga kali yang kesekian akhirnya saya masturbasi dengan selimut itu. Tapi waktu itu saya tidak tahu kalau itu masturbasi. Yang saya tahu adalah alat vital rasanya sakit bukan main. Saya kira alat vital saya keluar darahnya. Saya jadi takut. Tapi setelah saya lihat sendiri kalau yang keluar adalah bukan darah tapi cairan putih. Maka sayapun jadi lega. Dan kemudian akhirnya saya tahu kalau itu adalah masturbasi. Malah setelah itu saya jadi seperti ketagihan setiap beberapa hari saya melakukannya dengan sembunyi-sembunyi