Naturally Lush Lashes: Naturally Lush Lashes by Eco Tools. Lashes that you can use everyday, don't worry this lashes are safe for everyday wear, the glue is formulated without chemical. Lashes are made from the same incredibly soft, cruelty-free synthetic materials. Beautiful eyelashes for beautiful you.
Find this cool stuff here: http://zocko.it/LFks4
Naturally Lush Lashes: Naturally Lush Lashes by Eco Tools. Bulu mata yang dapat Anda gunakan sehari-hari, jangan khawatir bulu mata ini aman untuk dipakai sehari-hari, lem diformulasikan tanpa bahan kimia. Bulu mata yang terbuat dari bahan sintetis yang sama, sangat lembut. Bulu mata yang indah untuk anda yang cantik.
Buat
yang sering dandan komplit, ini adalah salah satu produk yang patut
dicoba, karena seperti yang dikatakan diatas lemnya diformulasikan tanpa
bahan kimia. Selain itu bulu matanya terbuat dari bahan sintetis yang
sangat lembut.
Jadi bila anda ingin tampil cantik dengan bulu mata
yang lentik tanpa menguatirkan lem yang akan menempel di kelopak mata
anda pakailah produk ini.
Tampilkan postingan dengan label makeup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makeup. Tampilkan semua postingan
Rabu, 19 November 2014
Rabu, 26 Oktober 2011
Mabuk kepayang ala Bollywood
Anda tentu tahu ciri-ciri film India. Nyanyi dan menari, menangis dan tertawa, ceritanya membuai dan lagu-lagunya mendayu-dayu. Durasinya panjang. Betul-betul memabukkan.
Barusan saya mendapat teman cowok dari India di internet. Tidak mengira ternyata dia betul-betul tipikal seperti aktor yang di film-film India, perayu. Baru saja kenal dia sudah bilang cinta pada saya. Katanya saya cantik. Padahal kami baru saja bertemu. Itupun hanya lewat internet. Perkataan itu tidak diucapkan hanya sekali dua saja, tapi berulang-ulang. Tidak itu saja, ia pun mengobral ciuman. Katanya ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Lalu ia bertanya balik apakah saya mencintainya dan meminta saya mengomentari fotonya. Saya jawab wajahnya seperti bintang film Bollywood. Sedangkan soal cinta sayapun menjawab realistis, bagaimana bisa saya mencintainya. Bukankah kita baru saja bertemu di internet. Saya belum mengenal anda secara mendalam. Diapun menjawab tidak apa-apa. Yang penting saya tahu dia mencintai saya. Sayapun mulai terbawa suasana.
Diapun mengajak saya untuk main webcam, tapi saya tolak karena waktu itu ditempat saya online tidak ada webcamnya. Saya juga menjelaskan bahwa foto-foto saya terlihat cantik karena makeup yang tebal. Dia menjawab kalau dirumah ada webcam apakah saya mau main webcam sampai larut malam, saya jawab kalau dirumah saya tidak biasa internetan sampai larut malam. Dan diapun mengerti.
Chatpun berlanjut.Saya bilang kalau saya punya keinginan pakai sari, tapi tidak tahu caranya. Dia bilang akan memakaikannya pada saya. Karena saya masih bertanya terus, maka diapun menerangkan dengan terperinci. Dimulai dengan bra dan panty, kemudian ditutup dengan blouse dan bawahan, baru kemudian pakai sarinya. Katanya dia malu untuk menjelaskan ini.
Malamnya ketika saya membuka facebook saya dan bilang kalau saya mau tidur, dia memohon-mohon supaya saya tetap online sebentar lagi.
Kemudian besoknya ketika kami chating lagi, saya tanya bagaimana cuaca di sana. Dia bilang cuacanya dingin. Sayapun menjawab dengan romantis seandainya saya ada disana untuk menghangatkannya. Kemudian setelah berbicara tentang hal-hal lain dia menjadi semakin menggebu-gebu. Katanya ia sudah menunjukkan foto-foto saya kepada ibunya dan bilang kepada ibunya kalau saya adalah teman wanitanya. Dia juga bilang kalau ibunya tidak keberatan. Wah bisa gawat juga kalau sudah sampai tahap ini. Bahkan dia bilang mau pergi ke tempat tinggal saya walaupun jarak tempat tinggal kami berjauhan dan berbeda negara. Sekali lagi dia menanyakan apakah saya mencintai dia dan mau menerima dia jika dia datang ke tempat saya. Karena saya merasa selalu dirayu, maka saya tanya apakah ia selalu merayu teman wanitanya. Apakah saya ini menggemaskan baginya.
Sampai pada tahap ini saya jadi bingung jangan-jangan dia mengira kalau saya wanita sejati. Sedemikian bingungnya saya sampai kemudian chat dengan teman fb saya yang lain untuk minta pendapatnya. Tapi kemudian dia mendahului dengan mengatakan bahwa dia sudah tahu kalau saya gay ( menurut istilah dia ). Maka saya jawab, kalau saya jadi lega. Karena dia sudah tahu keadaan yang sebenarnya. Kemudian saya tanya apakah dari awal dia sudah tahu soal itu. Dia menjawab kalau awalnya dia mengira saya wanita sejati, kemudian dia menambahkan saya sebagai temannya. Baru kemudian setelah mengamat-amati foto-foto saya, akhirnya dia tahu kalau saya gay . Tapi dia sudah terlanjur jatuh cinta pada saya.
Tiba-tiba dia bilang bahwa dia tahu kalau saya tidak mencintainya. Diapun seperti mengucapkan kata-kata perpisahan. Kalau saya menolaknya, dia tidak akan chat atau mengirim pesan lagi ke saya dan tidak akan mengganggu saya lagi. Katanya ia mengucapkan ini dengan menitikkan air mata. Sayapun menghiburnya, karena saya memang tidak keberatan berteman dengan dia. Saya jawab,jangan sedih. Saya tidak menolaknya. Saya tidak keberatan menjadi temannya atau teman dekatnya atau teman wanitanya. Setelah jeda sebentar, barulah ia menjawab tidak keberatan dengan itu. Katanya lagi yang penting dia menyukai saya.
Minggu, 31 Juli 2011
Lebih indah dari warna aslinya
Ingat iklan film Fuji yang antara lain berkata : lebih indah dari warna aslinya ? Kelihatannya akhir-akhir ini apa-apa yang ada didunia ini yang indah-indah kelihatannya ternyata bukan yang aslinya. Sebetulnya sudah dari dulu hal yang demikian berlaku. Kita sebagai warganegara Indonesia yang beragama meyakini kalau apa-apa yang ada di dunia ini sekalipun indah ternyata bersifat semu dan sementara.
Apa-apa yang kurang baik dapat ditutup-tutupi sehingga bisa terlihat baik bahkan sempurna, apalagi dengan teknologi yang semakin hari semakin berkembang. Bukan hanya body mobil yang habis kecelakaan yang dapat dipermak di bengkel hingga kelihatan seperti baru lagi. Tapi wajah yang cacatpun dapat ditutupi dengan makeup. Kalaupun masih kurang puas bisa operasi plastik. Jangankan hanya wajah, kelamin yang tidak cocokpun ( … ups ) juga bisa dioperasi hingga yang bersangkutan bisa merasa cocok dengan alatnya. Di bidang ekonomi keuangan, usaha melipat gandakan uang dengan kedok investasi yang menggiurkan banyak orang sehingga menjadi korban ujung-ujungnya pun ternyata juga semu.
Begitupun dengan saya. Saya sebagai diri saya yang asli ( mungkin ) sungguh tidak menarik bagi lawan jenis saya. Saya akui sendiri bahwa postur badan saya tidak atau kurang mendukung saya dalam mencari pasangan. Saya jadi kuper.
Kebetulan saya mempunyai kebiasaan yang juga kelainan seperti yang terlihat di situs ini. Kemudian sekedar iseng saya membuka account di facebook, setelah mengetahui bahwa ternyata banyak orang-orang yang mempunyai kelainan seperti saya. Saya sekedar ingin berbagi dengan sesama yang juga senasib dengan saya. Tapi lama kelamaan saya setengahnya jadi tertantang untuk tampil lebih baik, bahkan kalau mungkin sesempurna mungkin dengan identitas saya yang seperti sekarang ini. Identitas saya yang kedua, yang baru dan yang semu tentu saja. Dan hasilnya ternyata seperti iklan fllm Fuji yang lebih indah dari warna aslinya.
Awal-awalnya saya hanya berani upload foto dari leher ke bawah. Itupun sudah mengundang pujian entah cuma bercanda atau serius. Kemudian make up saya perbaiki sedikit demi sedikit. Baru setelah itu saya berani upload foto saya sampai ke wajah. Dan semakin banyak orang-orang yang meminta saya menjadi teman mereka. Sebagian dari mereka malah kelihatan berhasrat pada saya ( maaf ). Jadi sewaktu saya menjadi diri saya yang asli sejati, tidak banyak atau bahkan mungkin tidak ada yang mengagumi saya, tapi begitu saya menjadi diri saya yang lain hasilnya seperti berbanding terbalik.
Ternyata bagi saya selama di dunia ini, yang semu, maya, imaginer, virtual ternyata lebih baik , lebih indah daripada yang aslinya. Tapi mungkin memang yang maya itu lebih baik daripada yang nyata. Bukankan maya, Luna Maya itu indah. Tapi nyata, Nyoto, Pak Gatot Sunyoto masak indah ? Kalau ganteng mungkin.
Sabtu, 04 Juni 2011
Deja Vu atau Utopia ?
Di masa sekarang ini, komputer dan internet adalah sudah menjadi suatu kebutuhan pokok bagi masyarakat untuk komunikasi dan informasi. Mulai dari untuk keperluan penting bisnis, informasi berita sehari-hari, kebutuhan sosial sampai untuk kesenangan. Salah satunya yang merebak untuk kebutuhan sosial adalah facebook. Dengan situs ini kita bisa berkomunikasi dengan teman-teman kita dimanapun mereka berada.
Dan inipun terjadi pada diri saya, untuk kebutuhan sosial mencari teman. Maka sayapun membuka account facebook. Dan pada awal-awalnya hasilnya cukup mengagetkan bagi saya. Saya hampir saja menjalin hubungan serius dengan seseorang tapi tidak jadi. Kemudian sampai sekarang ini saya berhubungan cukup dekat dengan beberapa teman. Hubungan sejenis. Semua ini karena saya sering mengunggah foto-foto saya. Pada mulanya saya hanya mengunggah foto-foto saya dari leher kebawah. Saya tidak mengira kalau komentar-komentar dari teman-teman adalah pujian-pujian positif entah betul-betul serius atau cuma bercanda. Tapi ini membuat saya semakin terpacu untuk sering mengunggah foto-foto saya. Bahkan kemudian setelah cukup berani, saya mengunggah foto-foto saya sampai kewajah saya. Disamping itu kadang saya juga mengobrol dengan teman-teman. Mulai dari obrolan biasa sampai yang ke hubungan intim bahkan bercumbu secara imaginer. Saya betul-betul tidak mengira kalau saya ( entah apa kata yang tepat untuk ini ) digila-gilai oleh mereka. Ada yang secara halus tapi terang-terangan memuji saya. Kata mereka saya ini sexy dan merangsang. Ada yang model tembak langsung.
Keadaan ini yang berlangsung terus menerus membuat saya seakan hidup dalam dua dunia. Yang pertama, dunia nyata yang saya jalani sehari-hari. Yang kedua adalah dunia maya internet. Kemudian timbul pikiran dalam diri saya bagaimana kalau saya menjalin hubungan serius. Tapi apakah saya berani melakukan ini ?
Kemudian saya jadi teringat keadaan sekitar puluhan tahun lalu. Waktu itu saya masih kecil masih sekolah, tapi saya sudah mempunyai kebiasaan berkain kebaya. Tentu saja tidak serapi seperti foto-foto saya sekarang, bahkan tidak bermakeup dan bersanggul. Dulu saya pernah punya angan-angan bagaimana kalau hidup sebagai seorang wanita dan hidup dengan seorang pria. Betapa romantisnya kayalan saya waktu kecil dulu. Tapi waktu itu saya belum mengenal komputer dan internet. Jadi kayalan itu hanya tinggal sekedar kayalan, samasekali belum menjadi nyata walaupun hanya sekedar maya. Berbeda dengan sekarang, walaupun tidak nyata. Tapi cuma maya imaginer, tapi betul-betul saya nikmati.
Dan inipun terjadi pada diri saya, untuk kebutuhan sosial mencari teman. Maka sayapun membuka account facebook. Dan pada awal-awalnya hasilnya cukup mengagetkan bagi saya. Saya hampir saja menjalin hubungan serius dengan seseorang tapi tidak jadi. Kemudian sampai sekarang ini saya berhubungan cukup dekat dengan beberapa teman. Hubungan sejenis. Semua ini karena saya sering mengunggah foto-foto saya. Pada mulanya saya hanya mengunggah foto-foto saya dari leher kebawah. Saya tidak mengira kalau komentar-komentar dari teman-teman adalah pujian-pujian positif entah betul-betul serius atau cuma bercanda. Tapi ini membuat saya semakin terpacu untuk sering mengunggah foto-foto saya. Bahkan kemudian setelah cukup berani, saya mengunggah foto-foto saya sampai kewajah saya. Disamping itu kadang saya juga mengobrol dengan teman-teman. Mulai dari obrolan biasa sampai yang ke hubungan intim bahkan bercumbu secara imaginer. Saya betul-betul tidak mengira kalau saya ( entah apa kata yang tepat untuk ini ) digila-gilai oleh mereka. Ada yang secara halus tapi terang-terangan memuji saya. Kata mereka saya ini sexy dan merangsang. Ada yang model tembak langsung.
Keadaan ini yang berlangsung terus menerus membuat saya seakan hidup dalam dua dunia. Yang pertama, dunia nyata yang saya jalani sehari-hari. Yang kedua adalah dunia maya internet. Kemudian timbul pikiran dalam diri saya bagaimana kalau saya menjalin hubungan serius. Tapi apakah saya berani melakukan ini ?
Kemudian saya jadi teringat keadaan sekitar puluhan tahun lalu. Waktu itu saya masih kecil masih sekolah, tapi saya sudah mempunyai kebiasaan berkain kebaya. Tentu saja tidak serapi seperti foto-foto saya sekarang, bahkan tidak bermakeup dan bersanggul. Dulu saya pernah punya angan-angan bagaimana kalau hidup sebagai seorang wanita dan hidup dengan seorang pria. Betapa romantisnya kayalan saya waktu kecil dulu. Tapi waktu itu saya belum mengenal komputer dan internet. Jadi kayalan itu hanya tinggal sekedar kayalan, samasekali belum menjadi nyata walaupun hanya sekedar maya. Berbeda dengan sekarang, walaupun tidak nyata. Tapi cuma maya imaginer, tapi betul-betul saya nikmati.
Rabu, 01 Juni 2011
Insomnia
Malam ini, dingin terasa kamarku. Aku gelisah tidak bisa tidur, berguling ke kanan ke kiri. Ada rasa kekosongan dalam diriku, tiba-tiba ada hasrat untuk menjadi wanita yang sempurna. Kulepaskan semua pakaianku. Kupakai sandal hak tinggi, kupasang sanggulku. Kuambil sehelai kain wiron. Kurapatkan kedua kakiku, lalu kain mulai kulilit dengan ketatnya dari kiri ke kanan. Sesudah itu, kuambil tali kuikat pinggangku dengan tali kencang-kencang supaya kain wironnya tidak kedodoran nanti. Lalu kuambil stagen dan kulilitkan ke tubuhku kuat-kuat. Kemudian kuambil korset dan terakhir kupakai kebaya ke tubuhku. Lalu aku berkaca, kurasakan masih ada yang kurang. Make up !, maka aku mulai bedakan, lalu kupakai pemerah pipi, lipstik, alis mata dan bulu mata palsu. Sekali lagi aku berkaca di depan cermin. Astaga, ada siapa itu di cermin, seorang bidadari cantik dari sorga. Akupun tersenyum puas, bahagia …. kendati aku kembali lagi terkungkung dalam nafsu dan tubuhku pun terkungkung, tertawan dan tersiksa dalam stagen, korset dan kain wiron yang ketat.
Label:
alis mata
,
bedak
,
bidadari
,
bulu mata palsu
,
kain wiron
,
kebaya
,
korset
,
lipstik
,
makeup
,
pemerah pipi
,
sandal
,
sanggul
,
stagen
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
