tJeSiLC_vQ4EjbqutLiN10g1b3k

Kamis, 10 Oktober 2013

Domina dan Sumi

sumisylviaPerkenalkan, namaku Sumi Sylvia. Aku seorang gadis yang masih hijau dan muda belia. Aku suka manja terhadap kakak dan mamaku.

Ah, mumpung sekarang aku lagi nggak diikat-ikat tangan sama kakiku, aku mau bergaya dulu kayak model. Kalau gini kan enak. Jadi model bisa bergaya bebas dan luwes tanpa diikat-ikat. Masak jadi model diikat-ikat dulu tangan sama kakinya terus disuruh bergaya. Mana bisa luwes. Kakakku sih gara-garanya. Dia menjebakku bersama teman-temannya. Tapi habis itu dia sendiri juga dikerjai teman-temannya. Syukurin deh, kakak.

Semenjak aku memakai kain kebaya di suatu resepsi karena terpaksa dan kemudian menjadi among tamu di pernikahan saudaraku, aku menerima banyak tawaran untuk menjadi model rias tradisional. Tapi aku takut kalau sampai ketahuan kakak sama  teman-temannya . Bisa-bisa mereka akan memaksa aku menjadi model submissive lagi.

Sekarang aku dalam kontradiksi hati apakah akan menerima tawaran itu ataukah akan menolaknya. Situasisasi dan kondisisasi ini sekontradiksi hatiku akan pakaian kain kebaya. Pakaian yang kata  mama harus kucintai, karena merupakan busana nasional bangsa kita.

Tapi begitu memakainya aku laksana seperti terpenjara. Aku tidak bisa bebas bernafas dan tidak bisa makan-minum seenaknya, sebab badanku terlilit oleh kencangnya stagen. Kakiku tidak bebas lagi melangkah, melainkan harus mematuhi norma-norma sebagai gadis Jawa yang sopan santun dan lemah gemulai. Kalau kebelet pipis, tidak bisa tidak harus ditahan kalau tidak mau ngulang pakai kain kebaya lagi. Apa pakai pampers dewasa dulu kali ya enaknya. Sekalian biar pantat bisa semakin tambah bahenol. Belum lagi kata orang yang tidak suka kebaya, bisa-bisa aku ditertawai dan dikatai sebagai orang udik, kayak ibu-ibu.

Tapi memang iya sih, begitu aku pakai kain kebaya dan berkaca, aku sendiri pangling akan diriku. Tubuhku menjadi aduhai. Lekuk tubuhku menjadi terlihat jelas oleh ketatnya kain dan kebaya. Payudaraku bisa naik, karena stagen yang dililitkan dengan kencang dipinggang dan perut. Pinggangku juga bisa menjadi ramping. Demikian juga dengan pantatku bisa naik tinggi, karena kain yang melingkar ketat dikakiku.

Memang betul juga sih kalau aku pakai kain kebaya, aku terlihat lebih anggun dan lebih dewasa serta tentu saja lebih cantik daripada waktu aku memakai pakaian casual macam kaos dan jeans. Tidak salah memang kata kakak kalau aku lebih cantik pakai kain kebaya entah ia berkata jujur atau bohong sekedar untuk membujukku waktu kami dulu rebutan untuk memakai straples mini dress daripada memakai kain kebaya. Jadi kalau kupikir-pikir aku harus berterimakasih juga karena aku kalah dan terpaksa harus memakai kain kebaya.

Aku ingat betul waktu pergi resepsi dulu bersama kakakku, orang-orang lain memandang aku dari atas sampai kebawah dari kepala sampai ke ujung kaki dan berbisik-bisik satu sama lain serta sebentar-bentar memandang ke arahku. Aku seperti orang udik, aku jadi grogi, malu dan salah tingkah. Kalau kakak sih enak dulu pakai straples mini dress. Lagi pula di resepsi itu sejauh mataku memandang tidak ada orang lain yang memakai kain kebaya, kecuali beberapa orang ibu-ibu. Tapi justru karena itulah aku mendapat tawaran untuk menjadi model rias tradisional.

Terus terang aku malu untuk mengakui hal ini dihadapan kakakku, karena ia adalah seorang gadis yang sangat modern dan kebarat-baratan. Apa katanya nanti jika mengetahui adiknya suka pakaian tradisional Jawa. Aku juga takut untuk mengakuinya dihadapan kakakku, karena bisa-bisa ia akan menjebak dan memaksa aku menjadi model submissive lagi.

Sementara mama terus menerus mewejangi aku dan kakakku supaya kami belajar mencintai busana tradisional kami. Tapi kakak kelihatannya cuek dan tidak mau memberi contoh kepada adiknya mengenai kecintaan akan busana ini. Yah bagaimana ini ? Kalau aku menuruti kemauan mama, kakak akan mengejekku dan mungkin juga memanfaatkanku sebagai model submissive. Kalau aku tidak menuruti kemauan mama, aku sendiri kepingin juga tampil lebih cantik, anggun dan dewasa. Kontradiksi hati, bagaimanakah caranya menuju harmonisisasi ?

domina1

domina2

Perkenalkan namaku Domina Nancy. Aku seorang gadis yang sangat terbuka terhadap kemajuan jaman dan tidak takut akan era globalisasi. Orang lain yang melihat hubunganku dengan adikku ada yang mengatakan kalau aku mendominasi adikku, tapi aku tidak merasa berbuat seperti itu. Aku sangat menyayangi adikku.

Sebagai seorang gadis yang hidup di jaman modern sekarang ini tentu saja aku selalu  memakai busana-busana modern yang mengikuti jaman. Walaupun tentu saja harus kusesuaikan dengan bentuk postur tubuhku agar aku tidak menjadi korban mode dan tercipta harmonisisasi serta tidak terjadi kontradiksisisasi.

Aku sangat mencintai dan menghormati mamaku. Tapi mamaku adalah seorang yang sangat memegang teguh norma-norma adat istiadat dan konservatif, juga dalam hal busana. Ia selalu mewejangi dan mengingatkan kami agar kami bisa mencintai busana tradisional dan sekaligus busana nasional bangsa kita yaitu kain kebaya.

Memang betul kata mama, bangsa yang kuat adalah bangsa yang memegang teguh adat istiadatnya dan suatu bangsa akan seperti tumbuhan yang tercabut dari akarnya bila melupakan adat istiadatnya. Memang betul pula dulu waktu aku terpaksa memakai kain kebaya di hari wisudaku dan waktu menjadi among tamu, aku terlihat sangat berbeda bila dibandingkan waktu memakai busana-busana modern. Lebih njawani dan lebih tradisional.

Tapi aku ? Seorang gadis metropolis modern harus memakai kain kebaya tradisional ? No way ! Enggak déh, biar adikku saja yang memakainya. Dia mungkin saja cocok dengan busana itu. Dia kan seorang gadis yang masih hijau, lugu, manja, lemah, suka merajuk dan tidak bisa mandiri serta selalu bergantung pada kakak dan mamanya. Sesuai dengan pakaian kain kebaya yang membuat orang sulit untuk bergerak dengan bebas dan mandiri. Sekalian saja nanti aku jadikan dia model submissive, soalnya memang sesuai sudah antara sifat adikku dan pakaiannya. Jadi untuk adikku, pesanku turutilah kata mama. Belajarlah mencintai busana tradisional Jawa, nanti jika ada kesempatan dan waktu yang tepat aku akan mengorbitkanmu sebagai seorang model. Model submissive !

Anda semua boleh mentertawai aku, karena paling tidak aku akhirnya terpaksa harus memakai kain kebaya juga sampai 2 kali. Tapi itu semata-mata karena aku menghormati mamaku. Dan biarpun telingaku sampai panas, karena diwejangi mama untuk belajar mencintai kain kebaya. Aku akan tetap menolak dan teguh pada pendirianku.

Anda juga boleh mentertawai aku, karena kebodohanku aku sampai 2 kali dikerjai jadi model submissive. Tapi untuk yang selanjutnya aku tidak akan mau lagi jadi model submissive.

MALAM FINAL MOJANG JAJAKA BANDUNG 2013


Selasa, 08 Oktober 2013

Wisuda teman

Ini adalah lanjutan kisah kakak beradik Domina dan Sumi setelah keduanya menjadi among tamu. Dimana akhirnya keduanya harus mengakhiri malam dengan tidur kelelahan dalam keadaan terikat tangan dan kakinya di kursi serta masih berpakaian kain kebaya.  Esok paginya barulah mereka dilepaskan dari hukuman itu oleh ayah mereka.

Waktu pun terus berjalan. Suatu ketika salah seorang teman karib Domina akan diwisuda. Mengetahui kalau ibu Domina pintar merias tradisional, maka si teman Domina tersebut meminta tolong kepada ibu Domina untuk merias dan sekalian memakaikan kain kebayanya. Maka pada hari dan jam yang ditentukan, si teman itu pun datang. Teman Domina itu bertubuh agak kecil hingga sering dinamai Si Mini.

Ibu Domina pun mulai merias Mini. Sumi malah ikut melihat dan membantu ibunya sedikit-sedikit mulai dari memasang sanggul, memakaikan kain wiron dan stagen.  Berbeda dengan Domina yang tidak ikut melihat sama sekali ibunya merias temannya. Si ibu jadi agak keheranan melihat putrinya ikut membantu. Melihat hal ini, maka ia pun segera menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan tata cara rias tradisional. Antara lain ia berkata, "Sumi, kalau mau nyanggul,  rambut harus diberi hair spray dulu biar kaku, kemudian baru disasak ke belakang dan dikuncir dengan tali karet."  Lalu ia juga menerangkan cara memakai kain wiron untuk wanita, katanya, "Kain yang ujungnya tidak berwiru itu dipegang dipinggang sebelah  kiri dan ujungnya agak naik keatas membentuk segitiga. Baru kemudian kainnya diputar ke arah depan kanan. Wironnya dipas agar jatuhnya ditengah agak ke kanan sedikit". Sumi pun mengangguk dan mengiyakan omongan ibunya.

Singkat cerita Mini pun sudah selesai dirias dan juga sudah berpakaian kain kebaya. Ia menitipkan pakaiannya yang ia pakai dari rumah kepada Domina. Sesudah itu mereka bertiga, Domina, Sumi dan Mini pergi ke tempat wisuda. Wisuda berjalan lancar. Setelah selesai acaranya, Mini kembali ke rumah Domina untuk mengembalikan property kain kebaya kepada ibu Domina sekaligus berganti dengan pakaian semula.

Teman Domina ini adalah salah satu teman Domina yang hobbynya mengambil gambar-gambar model submissive. Ia termasuk salah satu dari teman-teman Domina yang juga ikut mengambil gambar-gambar Domina dan Sumi waktu keduanya jadi model submissive. Bahkan ia juga ikut mengikat Domina. Maka Domina bermaksud membalas dendam secara diam-diam. Apalagi situasi dan kondisi rumah cukup memungkinkan ia untuk melakukan hal ini, karena kedua orang tua mereka pergi menginap. Domina yang pada mulanya bermaksud memberitahu rencana ini kepada adiknya  membatalkan membertahu adiknya perihal ini. Karena ia ragu-ragu dengan adiknya apakah adiknya tega dan berani melakukan hal ini kepada temannya atau jangan-jangan ia malah memberitahu hal ini kepada temannya.

Begitu sampai dirumah Domina, maka Mini meminta kembali pakaiannya yang tadi dititipkan dan bermaksud untuk ganti pakaian. Tapi mulailah Domina melaksanakan rencananya. Ia mengunci pintu ruang tamu, kemudian  menyergap Mini dari belakang dan menarik kedua tangan Mini serta mengikat tangannya dibelakang punggung. Mini segera berkata, "Ampun Domina, jangan balas dendam dong. Lagian kan bukan aku saja yang ngikat kamu. Main bondagenya nanti saja. Aku sekarang mau ganti pakaian dulu.".  Sumi yang melihat peristiwa itu jadi bingung. Domina yang melihat hal itu segera memprovokasi adiknya, "Dik, kamu apa nggak ingat. Ini Mini yang dulu ikut ngikat kita berdua sampai akhirnya kita harus tidur dikursi samalaman. Bantuin kakak dong buat ngikat dia". Sumi pun segera bergegas membantu kakaknya mengikat Mini. Mini pun menjerit-jerit, tapi Domina segera berkata, "Mini, kalau kamu menjerit-jerit terus, mulut kamu akan ku lakban !". Mini pun jadi diam.

Setelah tangan Mini selesai diikat, mereka membawa Mini menuju kamar mandi dan Domina menunjukkan pakaian Mini yang tadi dititipkan kepadanya sambil berkata, "Nih pakaianmu !  Sekarang sudah basah kuyub kena air". Ia berkata demikian sambil menyemprot pakaian Mini dengan air.  "Sekarang kamu tidak bisa ganti pakaian lagi. Soalnya aku dan adikku tidak mau meminjami kamu pakaian kami. Biar kamu bisa semakin  merasakan menjadi seorang submissive yang total dengan pakaian kain kebaya". Teman Domina pun menangis sesenggrukan sambil meronta-ronta.  Tapi Domina malah mengajak Sumi meninggalkan temannya itu tergeletak di lantai kamar mandi dan menguncinya dari luar.

wisudamini1
Tak lama kemudian Domina dan Sumi kembali menjenguk Mini. Ternyata Mini masih menangis perlahan-lahan. Maka Domina membentaknya, "Kalau nangis terus nanti kuguyur dengan air sekalian !". Mini pun mulai mereda tangisannya. Sumi yang tidak tega melihat itu mendekatinya dan memeluk serta menenangkan Mini.  Akhirnya mereka membawa Mini keluar kamar mandi.

wisudamini2
Di ruangan tengah Mini mengiba-iba dan memohon supaya Domina melepaskan ikatan tangannya, katanya, "Ampun Domina. Tolong lepaskan ikatan tanganku. Aku minta maaf atas perbuatanku waktu itu. Sekarang ijinkan aku meminjam pakaianmu untuk pulang ". Domina pun menjawab, "Yah, Mini. Kamu tidak perlu minta maaf kok. Aku tidak balas dendam, cuma aku pingin lihat kamu jadi model submissive yang total dengan kain kebaya. Lagian baru 1 kali aku lihat model submissive pakai kain kebaya, Itu pun adikku sendiri selain diriku sendiri. Tolong aku dong, sekarang gantian kamu yang jadi model submissive dan kami berdua yang akan memotret kamu. Gimana ? Nggak keberatan kan". Merasa kalau rayuannya tidak berhasil meluluhkan hati Domina, maka Mini pun hanya bisa diam saja. Dalam hatinya ia mulai berpkir nanti ia mau diapakan lagi.
wisudamini3
Tak lama kemudian Domina dan Sumi bermaksud meninggalkan Mini untuk makan. Tapi kemudian Domina kepikiran kalau Mini masih bisa berjalan-jalan, maka mereka mengikat kaki Mini.  Setelah itu Domina masih sempat berkata, "Nah, sekarang kamu sudah semakin sempurna menjadi submissive. Mini, kamu duduk manis saja ya di situ. Kami berdua mau makan".  Tapi lagi-lagi Sumi tidak tega terhadap Mini dan kembali dengan sepiring makanan dan minuman. Ia bermaksud menyuapi Mini makan dan minum, tapi Domina mencegahnya. Katanya, "Dik, jangan disuapi dulu. Kakak mau ngambil gambarnya. Kita make up dia dulu dan membenahi rambutnya".  Setelah di make up dan ditata rambutnya, maka mereka menelungkupkan Mini dengan wajah menghadap ke depan dan di depannya tergeletak piring makan dan gelas minumnya. Domina berkata, "Coba kamu makan dan minum dalam keadaan seperti itu". Tentu saja Mini tidak bisa makan dan minum dengan keadaan seperti itu, tapi Domina tetap saja mengambil foto Mini beberapa kali.
wisudamini4
Setelah itu barulah Domina memperbolehkan Sumi memberi Mini minum dan makan. Tapi rupanya Domina benar-benar bermaksud mengerjai temannya. Ternyata makanannya dibubuhi dengan bubuk merica dan cabai yang cukup banyak, sehingga Mini pun jadi tersedak dan batuk-batuk. Tapi Domina malah mengambil foto Mini dalam keadaan tersedak. Barulah setelah itu Domina segera mengambil gelas minum, tapi sekali lagi ia mengerjai Mini dengan memain-mainkan gelasnya dengan tangan maju mundur mendekati mulut Mini sehingga Mini harus memonyong-monyongkan mulutnya untuk mengejar gelas minum. Akhirnya barulah Domina memberi minum Mini setelah dilihatnya Mini putus asa.

Rupanya Domina masih belum puas, ia sengaja berkata dengan lantang, "Sumi, kakak pipis dulu ya. Kamu kebelet pipis nggak ?" Sumi pun mengiyakan perkataan kakaknya. Domina melanjutkan, "Gantian ya. Mini, kalau  kamu kebelet pipis nggak ? Kalau kebelet, nanti aku pasangi perlak dulu ya buat kamu ngompol". Setelah itu Domina tertawa, Sumi pun tidak dapat menahan tawanya dan ikut tertawa. Tapi kemudian timbul ide iseng lagi dari Domina, ia menyuruh Mini untuk duduk di closet kamar mandi dan kemudian mengambil gambarnya.
wisudamini5
Senja pun tiba, kedua kakak beradik itu mandi. Sumi yang tidak tega melihat Mini yang dari tadi terikat tangan dan kakinya, berkata, "Kak, bagaimana dengan Mini ? Biar dia mandi dulu. Nanti kita ikat  lagi". Tapi kakaknya jadi sewot dan menyeret Mini ke kamar mandi serta berkata dengan judes, "Kita mandiin saja dia" sambil menyemprot Mini dengan semprotan air. Tapi beruntung hal ini hanya ia lakukan sekejap saja sehingga Mini hanya basah sedikit. Kemudian Domina mendapat ide dan mengajak Sumi untuk menggotong Mini ke dalam bath tub untuk diambil gambarnya. Domina pun berkata, "Senyum yang manis dong !".
wisudamini6
Sesudah hari mulai malam, lagi-lagi Sumi tidak tega terhadap keadaan Mini dan berkata kepada kakaknya, "Kak, sudahlah. Kita sudah cukup menahan dia. Sekarang biarkan dia pulang, kasihan sudah sejak tadi siang dia kita ikat". Tapi kakaknya menjawab, "Sumi ! Apa kamu tidak ingat, gara-gara dia kita jadi dihukum sama papa tidur terikat di kursi semalaman sampai kamu kebelet pipis. Sekarang kita balas dia, kakak mau dia semalaman terikat tangan dan kakinya. Biar impas".

Akhirnya mereka membiarkan Mini tergeletak berbaring di sofa panjang dengan tangan dan kaki terikat. Paginya sekali lagi Domina mengerjai Mini dengan menyiram air ketika dilihatnya Mini masih tertidur. Mini pun bangun gelagapan. Ia mau menggerakkan tangannya untuk mengelap mukanya , tapi ia baru sadar kalau ternyata tangannya masih diikat dibelakang punggungnya. Dan pada saat yang bersamaan ia juga mau beranjak bangun dari sofa. tapi karena kakinya juga terikat, maka ia pun jadi jatuh ke lantai. Untungnya sofanya tidak begitu tinggi. Domina malah tertawa-tawa. Sementara Sumi jadi panik dan segera menolong membangunkan Mini.

wisudamini7
Sesudah itu Domina berkata, "Yah, acara MOS, Masa Orientasi Submissivenya sudah selesai. Sekarang kamu boleh mandi". Kemudian mereka membuka ikatan tangan dan kaki Mini serta membiarkan Mini mandi.

Setelah Mini mandi dan berganti pakaian dengan pakaian yang dibawanya dari rumah, Domina berkata kepadanya, "Mini, kita masih berteman kan ? Terimakasih ya telah bersedia menjadi model submissive. Kamu sudah lulus kok menjadi seorang model submissive dengan predikat cum laude". Dan Domina memeluk serta menciumnya.

Jumat, 04 Oktober 2013

Among tamu

Ini adalah lanjutan kisah tentang Domina dan Sumi. Setelah Domina diperdaya oleh teman-temannya dan dipaksa menjadi model submissive, ia tetap saja berteman dengan teman-temannya yang memperdayanya serta masih tetap mengambil foto-foto model submissive. Tapi ia dan Sumi tidak pernah lagi menjadi model submissive. Hubungan antara Domina dan Sumi juga masih baik-baik saja.

Suatu ketika saudara dari ibu mereka menikahkan anaknya.  Malang bagi mereka, karena saudara ibu yang punya hajat meminta mereka menjadi among tamu dan upacara pernikahannya memakai adat Jawa serta tentu saja sebagai konsekuensi dan akibatnya mereka pun harus memakai kain kebaya.

Tentu saja mereka berdua  berusaha keras mencari akal untuk menghindari tugas itu. Tapi tentu saja mereka tidak bisa menghindar. Apalagi ibu mereka juga diberitahu oleh saudaranya tersebut bahwa ia akan meminta kedua anaknya untuk menjadi among tamu. Mereka pun akhirnya pasrah setelah sang ibu mewejangi mereka untuk mulai belajar mencintai pakaian tradisional Jawa dan sekaligus busana nasional Indonesia. Sang ibu juga malah mengingatkan kalau suatu ketika mereka juga akan menikah dan tentu saja tidak bisa menghindar untuk memakai kain kebaya serta malah harus ditambah dengan hiasan kepala cunduk mentul dan ronce. Kakak dan adik itu pun hampir serempak berkata, "Ya, mama. Jadi kita harus pakai kain kebaya lagi ya ma ?". Begitulah kata-kata mereka menanggapi wejangan ibu mereka.

Pada hari H nya mereka kembali didandani oleh ibu mereka.  Untuk kedua kalinya pula mereka merasakan tersiksa dan disiksa oleh pakaian kain kebaya dan sanggul yang dipasangkan oleh ibu mereka. Setelah selesai didandani, mereka saling menatap satu sama lain dan tersenyum geli. Menyadari bahwa mereka tidak bisa berbuat apa-apa, maka mereka pun malah  bercanda. Si adik berkata, "Monggo jeng, dipun lampah. Ingkang atos-atos nggih mengkih dawah kesrimpet kalian jarikipun. Nopo purun panjenengan  kulo gendong kemawon.  Ngoten mawon kok repot". Si kakak menjawab, "Pun mboten usah repot-repot. Niki badhe kulo cincing dhuwur-dhuwur  jarikipun supoyo dados rok mini. Ngoten mawon kok repot. Nopo jenengan ajeng nantang mlayu kulo". Tapi si ibu yang mendengar perkataan Domina langsung menimpali dengan serius, "Hayo,  jangan dicincing ya jariknya ! Awas ya kalau sampai nyincing jarik. Nanti mami jewer kamu ! Bisa rusak wironnya, bisa lungset jariknya,  jalannya yang pelan-pelan. Melangkahnya yang sempit-sempit. Jangan dipaksakan melangkah lebar-lebar,  biar nggak kedodoran jariknya". Kemudian si ibu menghampiri kedua anaknya dan memeriksa serta meneliti lagi kain wiron mereka, karena kuatir kalau sudah tidak rapi dan singset lagi. Setelah melihat kalau kain wironnya masih rapi, si ibu mengancam, "awas ya kalau nyincing, nanti mama ikat tangan kamu kebelakang biar nggak bisa nyincing!".

Tidak cukup sampai disitu, Rupanya si ibu menganggap perlu kembali untuk mewejangi mereka, katanya, "Kamu berdua itu sudah dewasa. Mestinya sebagai gadis yang sudah beranjak dewasa bisa bersikap anggun dan bertingkah laku yang sopan. Bukannya biayayakan kayak gini. Apalagi sekarang kamu berdua kan baru pakai kain  kebaya". Mereka berdua pun dengan khidmat dan menunduk mendengarkan wejangan ibu mereka.

Akhirnya mereka berangkat ke tempat resepsi. Acara resepsi berlangsung lancar hingga selesai. Lega pulalah Domina dan Sumi, karena telah menyelesaikan tugas mereka dengan tuntas dan sempurna. Tapi ketika mereka sampai di halaman gedung resepsi tempat parkir mobil dan terpisah dari orang tua mereka, teman-teman Domina mendadak berdatangan. Maka ramailah mereka bercakap-cakap dan tentu saja mengejek Domina karena penampilannya dengan kain kebaya. Sebentar kemudian mereka mengajak  Domina dan Sumi dengan memaksa untuk ikut ke mobil mereka. Maka Domina dan Sumi yang ingat kejadian terdahulu dimana Domina diperdaya dan dipaksa menjadi model submissive, mulai menjerit-jerit dan berlari menjauhi mereka. Tapi karena kain wiron mereka yang sempit,  mereka hanya bisa melangkah kecil-kecil.  Maka dengan mudah teman-teman Domina menangkap Domina dan Sumi serta membawa mereka masuk ke dalam mobil. Orang banyak yang melihat kejadian ini tidak ada yang mengira kalau ini penculikan, karena sebelumnya mereka sudah bercakap-cakap dan terlihat akrab.

Di dalam mobil teman Domina bertanya, "Kenapa sih kok menjerit jerit kayak gitu ?". Ternyata mereka bermaksud menghilangkan trauma dan kecurigaan kakak beradik itu dengan membawa mereka  ke tempat terbuka yaitu diskotik. Domina dan Sumi pun jadi kikuk dan salah tingkah, karena salah kostum. Dalam pikiran mereka berkata kalau teman-temannya sengaja mengerjainya. Tak lama kemudian salah seorang teman Domina berkata, "Nggak enak kan ke disco pakai kain kebaya kayak gitu. Mau jojing juga gak bisa. Mendingan ngadem dirumah yuk". Kemudian mereka pun pergi ke rumah salah seorang teman Domina.

Tapi begitu sampai dan masuk  ke rumah salah seorang teman, mereka kembali disambut dengan jebakan. Ternyata ruangan itu sudah dipersiapkan untuk pengambilan foto lengkap dengan lightingnya. Kakak beradik itu pun segera mendapat firasat kalau mereka bakal dipaksa menjadi foto model submissive lagi.

Firasat mereka ternyata betul. Salah seorang teman mereka memperkenalkan Domina dan Sumi kepada orang-orang yang telah menunggu didalam dengan berkata, "Perkenalkan ini Domina dan Sumi, foto model submissive kita yang cantik-cantik kali ini dengan dandanan istimewa dan berkain kebaya. Beri tepuk tangan yang meriah". Mereka pun bertepuk tangan dengan meriah. Domina dan Sumi pun tercengang kaget dan diam tidak bisa berbuat apa-apa. Salah seorang teman Domina segera mendekat diantara Domina dan Sumi serta berkata dengan lirih, "Nah, anda berdua sudah kami perkenalkan dengan hormat. Sekarang terserah anda berdua mau menolak dan berontak atau pasrah menyerah. Anda sudah mengetahui resikonya jika menolak dan berontak. Teman-teman baru yang sudah menunggu anda disini semuanya juga profesional  seperti kami dan akan memegang janji kalau kami hanya akan mengambil foto-foto anda. Jangan merasa dijebak atau diperdaya. Anda berdua kami pilih, karena sampai sekarang kami belum pernah dapat model submissive kakak beradik dengan dandanan kain kebaya. Mestinya anda berdua merasa sangat terhormat ".

Kali ini Domina tidak menolak dan berontak, karena ingat akan peristiwa dahulu ketika ia di lakban dan dihogtied. Demikian juga dengan Sumi. Kedua kakak beradik itu hanya bisa pasrah menyerah ketika tangan dan kaki mereka diikat oleh teman-teman mereka. Mereka berdua hanya saling memandang, tapi wajah mereka sudah tidak tegang lagi. Bahkan mereka kemudian saling melempar senyum dalam kepasrahan untuk membesarkan hati saudara sekandungnya. Sebentar kemudian kaki dan tangan mereka sudah terikat dengan rapi dan erat, mereka pun siap beraksi di depan kamera.

" Tiga, dua, satu, action !", terdengar komando agar mereka beraksi. Dan mungkin karena pernah mengalami hal ini sebelumnya, maka kali ini mereka sudah tidak kaku lagi di depan kamera. Domina dan Sumi pun bisa tersenyum dengan manis walau semuanya karena terpaksa pasrah menyerah lantaran tidak bisa berbuat apa-apa. Pengambilan gambar berjalan dengan lancar. Mereka menghendaki keduanya terlihat intim dan mesra. Bahkan mereka menghendaki keduanya saling berciuman.

Setelah berulang kali pengambilan gambar dengan berbagai macam gaya, maka mereka pun berhenti mengambil gambar. Kedua kakak beradik itu pun berpikir bahwa pengambilan gambar sudah selesai. Tapi ternyata masih belum selesai dan mereka berdua harus berpose dalam keadaan yang esktrim, berbahaya dan mendebarkan. Di dalam ruangan itu ada sebuah balok di atas yang melintang. Mereka meletakkan tali melewati balok itu. Kemudian kaki Domina yang masih terikat dihubungkan dengan tali ke atas melewati balok itu. Domina menjadi tegang. Tubuh Domina kemudian diangkat dan dibalik sehingga kakinya berada diatas dan kepalanya di lantai. Karena Domina makin tegang dan mulai bertanya, "Apa-apaan ini ?". Maka mereka mengerubungi Domina dan menenangkannya. Di leher Domina juga diikatkan seutas tali yang dihubungkan ke kaki Sumi yang berdiri agak jauh. Sebagian teman yang lain juga mengerubungi Sumi untuk menenangkannya. Tali yang diikatkan di kaki Domina dan naik keatas melewati balok kemudian juga dihubungkan ke leher Sumi. Ketegangan pun semakin memuncak. Seorang teman Domina berkata, "Domina, Sumi. Anda berdua diam saja ya, Jangan ada yang bergerak. Ini sangat berbahaya. Kalau Domina menggerakkan kakinya sedikit, leher Sumi bisa tercekik. Sebaliknya jika Sumi menggerakkan kakinya sedikit, leher Domina bisa tercekik. Kami hanya mau mengambil adegan ini sebentar. Sesudah itu kami akan segera melapaskan anda berdua". Sumi dan Domina pun jadi semakin tegang wajahnya, demikian pula dengan semua orang yang di ruangan itu. Kemudian mereka mengambil gambar Sumi dan Domina. Barulah setelah itu mereka melepaskan kedua tali yang mengbubungkan Sumi dan Domina serta akhirnya mereka melepaskan ikatan tangan dan kaki Sumi serta Domina.
dobelhang
Ketika kedua kakak beradik itu sudah terlepas tangan dan kakinya dari ikatan mereka, maka teman-teman mereka memberi kedua kakak beradik itu applaus berupa tepuk tangan dan teriakan-teriakan, "bravo ! bravo !". Kemudian mereka menyalami Sumi dan Domina. Bahkan ada yang memeluk dan mencium pipi mereka. Kedua kakak beradik itu kacau balau perasaannya. Antara lemas dan masih tegang, karena adegan tadi serta kaget dan bangga, karena applaus dan sambutan dari teman-teman yang berupa salam dan pelukan hangat.

Mereka pun makan minum sambil ngobrol. Tiba-tiba salah seorang teman mereka bertanya kepada Domina dan Sumi, "Bagaimana rasanya jadi model submissive ? Sensasional ya ? Anda berdua betul-betul berbakat lho jadi model. Besok-besok kami jadikan model submissive lagi mau ya ?". Sumi dan Domina sama-sama menggeleng. Tapi teman tadi masih merajuk, "Ayolah, tolong kami. Imbalan kami nanti kami tambah". Domina dan Sumi merasa terpepet. Tapi untunglah seorang teman yang lain datang mendekat dan menghentikan pembicaraan tadi. Kemudian mengingatkan kedua kakak beradik itu untuk segera pulang, karena hari sudah larut malam.

Sebelum pulang ke rumah, Sumi mengingatkan kakaknya untuk merapikan sanggul, kebaya dan kain jarik serta wironnya. Karena takut dan ingat akan wejangan ibunya.

Sampai di rumah rupanya derita mereka masih berlanjut. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.  Mereka dihukum, karena pulang lewat tengah malam dan tidak dapat menjawab ketika ditanya kenapa mereka sampai pulang lewat tengah malam. Kata ayah mereka, "Kamu berdua pulang lewat tengah malam dan tidak bisa menjawab pertanyaan papa kenapa kamu pulang lewat tengah malam. Tapi dari seluruh badan kamu, kamu berdua sehat-sehat saja. Jadi papa menyimpulkan kamu tidak mengalami kesulitan pulang ke rumah. Seandainya kamu kesulitan, mestinya kamu cerita. Jadi sebagai hukuman, kamu berdua akan papa ikat ke kursi. Kecuali kamu bersedia cerita sebabnya " . Ayah mereka segera mengambil tali dan mengikat tangan mereka ke belakang kursi dan kaki mereka masing-masing ke kursi sehingga mereka tidak bisa beranjak dari kursi. Sang ibu yang melihat hal itu memohon-mohon kepada suaminya supaya membatalkan hukuman itu. "Pa, biarkan mereka salin dulu. Kan mereka masih pakai kain kebaya sama sanggulan". Tapi ayah mereka tetap bersikeras. Setelah sang ayah selesai mengikat Domina dan Sumi ke kursi, maka sang ayah meninggalkan kedua putrinya. Tapi sang ibu masih tetap menemani putri mereka. Katanya, "Itulah nak ayahmu. Kamu yang sabar dan pasrah saja ya. Lagi pula kamu memang bersalah. Masak anak gadis pulang ke rumah lewat tengah malam. Kemana saja kamu ?". Kedua kakak beradik itu tetap tidak berani menjawab pertanyaan ibu mereka. Sang ibu kemudian berkata lagi, "Ya, sudah. Sekarang kamu diam saja ya disini. Istirahat saja di kursi itu. Tidak usah berontak dan coba-coba membuka ikatan tangan dan kakimu. Kalau ketahuan papa nanti bisa-bisa makin marah". Kemudian ibu mereka memeriksa ikatan tangan dan kaki kedua putrinya. Karena dirasa cukup kencang, maka ia mengendorkan sedikit ikatan di tangan dan kaki mereka. "Nah, sekarang sudah tidak kencang lagi ikatannya. Sekarang istirahat saja di kursi. Kalau bisa tidurlah". Kemudian sang ibu meninggalkan mereka.

Tiba-tiba Sumi berkata dengan lirih, "Yah, kak. Kita jadi model submissive lagi. Cuma sayang kok nggak ada yang motret kita ya". Domina menjawab, "Sumi ! Keadaan begini kamu masih bisa bercanda". Tapi kemudian sang ibu datang lagi dan memotret mereka, katanya "Ini buat peringatan kamu supaya jangan pulang larut malam lagi". Sang ibu juga membawakan mereka minuman dan selimut. Ibu mereka memberi mereka minum, karena tangan mereka terikat dan bermaksud menyelimuti kaki mereka.  Tapi kata Domina, "Tidak usah diselimuti, ma. Kain jarik ini saja sudah cukup buat ganti selimut. Nanti malah kegerahan". Kemudian ibu mereka mencium kedua anaknya sebelum meninggalkan mereka.

Sebentar kemudian Sumi berkata, "Kak, aku kebelet pipis. Bagaimana ini ?". Kakaknya menjawab, "Jangan bercanda terus, ah". Tapi adiknya menjawab, "Beneran, kak. Aku kebelet pipis". Kakaknya bingung, "Nggak tau, dik. Aku juga kebelet pipis. Ditahan saja apa ngompol saja dicelana. Kan masih ada kain jariknya bisa buat nahan pipis". Adiknya lalu berkata, "Ya, kak. Semua ini gara-gara kita disuruh pakai kain kebaya. Kita jadi korban lantaran pakaian yang kita pakai. Gimana kita bisa mencintai busana nasional kita kalau kayak gini ". Tapi si kakak menjawab, "Tapi bagaimanapun juga memang betul omongan mama, kita memang harus mencintai busana nasional kita". Si adik pun jadi bingung, "Jadi kakak sekarang sudah mulai senang pakai kain kebaya ?". Kakaknya diam.

Tak lama kemudian Sumi menyenderkan kepalanya ke kepala Domina dan sebaliknya Domina juga memiringkan kepalanya ke kepala Sumi. Mereka duduk dikursi yang bersebelahan dan tanpa jarak.  Karena kelelahan akhirnya mereka tertidur dalam keadaan masih berbusana kain kebaya serta terikat ke kursi mereka masing-masing.

Selasa, 01 Oktober 2013

sepakbola bondage atau PERSIKABO ?


PERSIKABO :  PERsatuan Sepakbola Indonesia berKAin kebaya & BOndage

Sepakbola gajah ? Tentu anda sudah tahu. Baik dalam arti yang sebenarnya yaitu gajah yang bermain sepakbola atau sepakbola yang saling mengalah. Sepakbola daster ? Ini biasa dimainkan oleh para lelaki dengan memakai daster dalam rangka peringatan kemerdekaan RI. Sepakbola sarung ? Ini juga hampir sama dengan sepakbola daster, dimainkan para lelaki dengan memakai sarung dalam rangka peringatan kemerdekaan RI.

Memang bermain sepakbola dengan memakai daster atau sarung akan menambah kesulitan bagi para pemainnya, karena kaki mereka terhambat oleh daster dan sarung. Tapi sebetulnya untuk daster kurang begitu menghambat kaki pemain, karena daster panjangnya tidak sampai ke mata kaki dan juga lebar. Paling hanya menambah faktor kelucuan dan faktor psikologis seorang lelaki memakai pakaian perempuan. Berbeda dengan sepakbola sarung, karena sarung panjangnya bisa sampai ke mata kaki dan juga bisa melorot. Tentu ini akan menyulitkan para pemain.

Kemudian ada lagi sepakbola dimana yang bermain adalah  wanita. Ini juga sudah umum. Tapi bagaimana jika para wanita bermain sepakbola dengan mengenakan kain kebaya lengkap dengan sanggul dan sandal jinjitnya ? Tentu ini lebih sulit jika dibandingkan dengan sepakbola sarung. Karena kain jarik bisa dipakai dengan lebih ketat daripada sarung dan masih ditambah lagi dengan sandal jinjit.

Bagaimana pula jika ditambah dengan tangan yang diikat ke belakang seperti video diatas ? Tentu menambah kesulitan bagi pare pemain dan bagi para penontonnya terutama yang suka kain kebaya dan bondage tentu saja ini merupakan tontonan yang betul-betul syur.

Tapi sudah tahukah anda aturan-aturan dalam sepakbola bondage ? Aturan-aturan dalam sepakbola bondage adalah sebagai berikut  :
  1. Protes terhadap keputusan  wasit, maka mulut akan digagged
  2. Hands ball, tangan akan diikat kebelakang
  3. Tackling terlalu keras, kaki akan diikat
  4. Kartu kuning 2 kali, maka pemain  akan dihogtied
PERSIKABO