tJeSiLC_vQ4EjbqutLiN10g1b3k

Rabu, 19 Desember 2012

Santa Claus is coming to town


Ini adalah cerita masa kecilku dulu sewaktu aku masih duduk di Sekolah Dasar. Waktu itu aku sering mendengar cerita dari teman-teman sekelasku tentang Santa Claus. Mereka bilang kalau mereka waktu itu disuruh orang tua mereka untuk meletakkan sepatu dan rumput beserta air putih dalam suatu tempat dan meletakkannya di bawah tempat tidur mereka pada tanggal 4 Desember malam hari sebelum tidur. Soalnya pada malam itu Santa Claus akan datang ke rumah mereka dan memberi mereka hadiah. Dan teman-temanku yang melakukan itupun mendapat hadiah mereka masing-masing. Hadiah itu rata-rata semacam alat tulis dan sekolah atau jam tangan.

Waktu pertama kali aku mendengar cerita itu, aku tidak langsung ikut mengerjakannya. Baru tahun berikutnya aku juga melakukan itu.  Ketika itu aku masih percaya kalau yang memberi hadiah betul-betul Santa Claus. Maka akupun menyertakan selembar surat di tempat itu. Isinya permintaan akan barang-barang yang aku inginkan pada waktu itu yaitu beberapa cassette dari artist yang aku idolakan waktu itu. Tapi besok harinya ternyata aku tidak mendapat barang-barang yang aku inginkan melainkan  mendapat hadiah berupa alat-alat tulis.

Ketika kita sudah dewasa, kita pun tahu kalau itu adalah hadiah dari orangtua kita. Dan sebagai orang Kristiani, kita tahu bahwa hadiah Natal yang paling indah dan bermakna bagi kita adalah bayi Yesus yang telah lahir bagi kita.

English

This is a story from my childhood when I was sitting in primary school. At that time, I often heard stories from my classmates about Santa Claus. They said that they were told by their parents to put shoes and lawn with water in one place and put it under their bed on December 4 at night before bed. Because on that night  Santa Claus is coming to their house and give them gifts. And my friends who did that too got their reward. The prize was commonly stationery  or watches.

When I first heard the story, I did not directly participate.  But the  next year I also did it. That time  I still believed that the  gifts really  given by Santa Claus. So I  included a letter in that place. It contained the demand for the goods that I wanted at that time that was some cassettes from the artists that I admired that time. But the next day, it turned out that I did not get the things I wanted but I got the gift of writing instrument.

As we've grown, we also know that it is a gift from our parents. And as Christians, we know that Christmas gift that  is  most beautiful and meaningful for us is the baby Jesus that was born for us.













Minggu, 16 Desember 2012

Tomboi, Maria Selena Sulit Jalan di Catwalk



Ternyata selain jengkel dengan busana batik yang menurutnya mirip dengan  busana tradisional Indonesia, Maria Selena juga tomboi hingga kesulitan berjalan dengan high heels, karena tidak terbiasa pakai high heels. Lalu bagaimana jika suatu saat ia harus berbusana tradisional Jawa atau berbusana nasional kain kebaya, sedangkan  biasanya pada saat yang bersamaan juga harus memakai sandal jinjit ?

Mungkin bagi dia ini akan menjadikan kesulitan dan kejengkelan yang menjadi satu. Pertama, kesulitan melangkah karena memakai sandal jinjit dan masih harus dihambat dengan kain wiron yang ketat. Kedua, mungkin kejengkelannya  akan bertambah, karena pertama jengkel terhadap busana kain kebaya yang dipakainya dan kemudian ditambah dengan kejengkelan karena tidak biasa memakai high heels.

Mungkin ia harus belajar ngadi salira ngadi busana dengan busana kain kebaya seperti yang biasa diadakan pada kontes pemilihan duta wisata atau pemilihan putera puteri daerah khususnya daerah Jawa Tengah. Belajar berjalan dengan perlahan-lahan, lemah gemulai sambil memasang senyum  hingga menimbulkan kesan anggun. Istilahnya berjalan dengan pantas seabagai seorang wanita Indonesia atau seorang  yang menjunjung tinggi adat-adat keTimuran.

Sabtu, 15 Desember 2012

homemade dress atau recycled dress


Menjahit atau membuat sebuah pakaian yang sederhana dan memperbaiki pakaian yang lepas jahitannya atau robek sedikit adalah juga merupakan kegiatanku yang mungkin juga bisa disebut sebagai sebuah hobby.

Beberapa diantaranya pernah dimuat di postinganku. Seperti kebaya dengan motif harimau, rok mini berwarna hijau tentara.  Dan juga rok mini dengan motif garis-garis diatas.

Rok mini warna hijau dan rok mini diatas adalah bekas dari t shirt kaos yang sudah tidak kupakai lagi. T shirt yang berwarna hijau kemudian kupotong di bagian bawah ketiak persis dan kebetulan dibagian bawah ada bannya. Kemudian ke dalam ban itu ku masukkan elastik. Begitulah rok mini warna hijau itu pun langsung jadi.

Sedangkan rok mini yang bergaris-garis itu berasal dari t shirt kaos yang kupotong pada bagian tengah lengannya. Bagian yang terbuka bekas lengannya kemudian kututup dengan kujahit. Kemudian bagian atasnya kujahit dan kubuat ban, lalu kumasukkan elastik kedalamnya.
Garis patah  panjang panjang berarti t shirt dipotong  tengah lengannya. Sedangkan garis patah panjang pendek berarti t shirt dipotong di bagian bawah ketiak persis

Tapi untuk kebaya harimau, aku membuatnya dari bahan. Jadi bukan dari bekas pakaian.

Kamis, 13 Desember 2012

Maria Selena



Maria Selena adalah Puteri Indonesia 2011 yang mewakili Indonesia dalam  kontes Miss Universe 2012.  Dan sudah dapat diduga seperti biasanya  penampilan wakil Indonesia dalam kostum bikini selalu menimbulkan pro dan kontra. Karena sudah sejak dari jaman dahulu kala dan seperti sudah menjadi mitos kalau bangsa Indonesia adalah bangsa yang sopan dan santun termasuk dalam berbusana.

Seperti juga halnya dengan busana nasionalnya yaitu kain kebaya yang cenderung tertutup dari atas sampai bawah. Kain wironnya  sampai menutup mata kaki, kalau menurut pakemnya. Sedangkan lengannya  juga tertutup oleh panjangnya lengan dari kebaya. Dan hal ini dapat terlihat pada pemilihan putera-puteri daerah yang selalu menampilkan busana daerahnya masing-masing terutama untuk malam grandfinal dan juga untuk publikasi.

Tapi apa kata Puteri Indonesia 2011, Maria Selena ketika diwawancara dalam bahasa Inggris tentang pengalaman kencan yang paling menarik baginya  dan kebetulan waktu itu ia memakai busana batik yang menurutnya seperti busana tradisional Indonesia ? Dari video diatas pada detik ke 33 dapat didengar ia menjawab  "matching clothes together ... batik like a traditional Indonesian clothes... it's very annoying  actually, but it's fun and creative  ".

Ternyata ia cukup jengkel dengan busana itu walaupun juga menyenangkan. Ternyata ia belum bisa menerima busana seperti itu dengan sepenuh hati. Padahal kalau dilihat dari omongannya, kelihatannya busana yang dimaksud sudah dimodifikasi. Bahkan mungkin sudah berupa gaun, bukan lagi berupa kain kebaya. Dan namanya busana nasional yang sudah dimodifikasi biasanya akan dibuat dengan tujuan semakin mempermudah dan semakin  membuat nyaman pemakainya.  Termasuk bawahannya yang dulu berupa kain jarik wiron yang sempit dibagian bawahnya sehingga membuat sulit pemakainya untuk melangkah berjalan, sekarang biasanya dibuat lebar dibagian bawah dan juga sudah berupa rok serta mungkin juga sudah tidak sepanjang kain wiron atau bahkan mungkin berupa celana panjang.

Bagaimana ini ? Puteri Indonesia kita ternyata masih setengah hati dalam mencintai kebudayaan dan busananya sendiri.

Selasa, 11 Desember 2012

berbeda-beda tetapi tetap satu jua


Semboyan itu biasa dikenal sebagai terjemahan dari Bhinneka Tunggal Ika.  Ternyata semboyan itu berlaku juga pada diriku ketika sedang berlintas busana.  Kalau dulu selama bertahun-tahun, pakaian wajibku hanya 1 macam dan tidak lain serta tidak bukan adalah kain kebaya. Tapi belakangan ini sudah berkembang. Kadang-kadang aku memakai rok mini terusan dan paling akhir aku juga punya sarimbit atau rok span sempit panjang yang kujahit sendiri. Ternyata ketiganya yaitu kain kebaya, sarimbit ( rok span sempit panjang ) dan rok mini punya sensasinya sendiri-sendiri.

Yang pertama, kain kebaya yang tentu saja akan  membuat diriku menjelma menjadi  seorang wanita Jawa yang anggun dan aristokrat. Tapi disaat yang bersamaan hasratku menjadi penuh dengan libido seksual dan hawa nafsu  yang menggebu-gebu setta biasanya mau atau tidak mau selalu tertuju kapada si adik untuk selalu berusaha memanjakan, meggoda dan membuat si adik tegang serta bergairah. Sampai kadang-kadang terpaksa ada sedikit kekerasan yang harus dilakukan. Atau kadang-kadang malah menikmati diri sendiri yang tersiksa dalam bebatan pakaian yang ekstra ketat sambil berjalan terhuyung-huyung kesrimpet-srimpet kesana kemari. Bahkan kadang-kadang sampai melakukan bondage.  Ujung-ujungnya pun sudah bisa ditebak akan  selalu berakhir dengan ritual si adik mandi basah kuyup.

Yang kedua adalah pakaian semacam rok mini terusan yang membuat diriku menjelma menjadi  seorang gadis yang masih hijau seolah-olah tidak tau apa arti libido seksual dan hawa nafsu. Tapi sebaliknya aku merasakan kelembutan dan feminin. Sekali-kali tidak ada hawa nafsu yang menggebu-gebu dalam hasratku dan boleh dikatakan hampir tidak ada sesaatpun melintas dalam pikiranku. Aku seolah-olah sudah menjadi gadis yang lugu dan suci. Fisik ku pun juga menjelma menjadi seorang gadis yang masih imut.

Yang terakhir adalah sarimbit atau rok span sempit panjang yang membuat diriku menjadi seorang wanita yang mulai sedikit tergoda untuk mencicipi libido seksual dan hawa nafsu. Mulai melirik si adik, membelai dan menggodanya hingga si adik mulai bergairah. Tapi bgitu si adik mulai bergairah dan ngiler, maka akupun seperti secara otomatis menghentikan rayuan dan godaanku kepada si adik.

Akhirnya kembali seperti iklan Indomie yang berkata, "itu ceritaku, apa ceritamu ?" Nah, para pengunjung situs ku sekalian silahkan berbagi pemgalaman dengan meninggalkan komentar di kotak komentar dibawah. Terimakasih.

Sabtu, 08 Desember 2012

Konde

Konde atau bahasa Indonesia nya sanggul adalah merupakan mahkota khususnya bagi wanita Jawa  dan  wanita Indonesia pada umumnya.

Jadi konde adalah sama dengan sanggul. Cuma beda sebutan dalam bahasanya.  Yang satu adalah sebutan dalam bahasa Jawa dan yang lainnya adalah sebutan dalam bahasa Indonesia. Tapi salah seorang teman, seorang cewek yang kebetulan bukan orang Jawa lucunya pernah bilang begini, "Wah, enak ya wisudanya sekarang sudah pakai sanggul. Tidak seperti dulu ketika saya wisuda, masih pakai konde". Waktu itu aku yang kebetulan mendengar perkataannya cuma mikir saja. Sebetulnya dia tau atau tidak kalau konde itu ya sanggul dan sanggul itu ya konde. Mungkin yang dimaksudkan dengan  sanggul itu adalah sanggul modern yang tidak sekuno, sebesar,  seberat dan sekaku  sanggul tradisional serta tentu saja lebih bergaya dan tidak ndesani atau kampungan dalam pandangannya. Tidak seperti ibu-ibu, tapi lebih kelihatan seperti remaja ABG.

Kembali ke jaman lampau,  konde bagi wanita Jawa adalah merupakan suatu keharusan. Karena setiap memakai busana kain dan kebaya, maka rambut mereka pun selalu di sanggul. Bukan itu saja, konde juga di hias dengan bunga,  tusuk konde  atau ronce melati. Bahkan ketika menjadi pengantin atau ratu sehari, maka sanggul dihias dengan cenduk mentul dan  rangkaian melati dengan sedemikian indah dan artistiknya.

Tidak cuma itu saja. Bagi orang Jawa, konde selain sudah menjadi suatu keharusan  juga dipercaya mempunyai kekuatan mistis. Mantan presiden RI alm Suharto ditengarai jatuh dari kekuasaannya akibat konde almarhumah ibu Tien yang menghilang. Hal ini menunjukkan sedemikian kuatnya pamor konde. Begitu pula kehebatan Soeharto sebelumnya dalam menjaga stabilitas negara juga ditengarai bersumber pada konde ibu Tien Soeharto. Hingga kekuasaannya bisa langgeng sampai beberapa dekade.

Tapi walaupun konde dianggap sesuatu yang sakral, benda itu  juga tidak luput menjadi bahan ejekan bagi para pelawak. Antara lain grup lawak  Warkop DKI pernah mengatakan kalau konde itu adalah model rambut punk rock Jawa. Atau ban sĂ©rep di belakang ( roda cadangan di belakang ).

Di kalangan para pejabat orde lama dan orde baru waktu itu ketika para isteri pejabat harus menghadiri suatu pertemuan resmi  timbul suatu istilah yang terkenal pada waktu itu yaitu "besar-besaran konde". Semakin besar kondenya mungkin semakin mantap dan anggun. Dan hal ini berulang ketika desainer kebaya kenamaan Anne Avantie mengadakan pagelaran busana di keraton Solo. Ada seorang model yang memakai sanggul sangat besar atau malah bisa disebut extra besar. Entah ini suatu sindiran, parodi atau memang sanggul-sanggul yang extra besar itu memang sudah ada sejak  jaman dulu.

Nah kalau kata konde kita buat menjadi  kata kerja bukankah akan menjadi ngondek ? Seperti halnya kata kontrak, bila dijadikan kata kerja akan menjadi ngontrak.

Tapi tahukah anda arti kata ngondek. Berikut ini salah satu deskripsinya. Ngondek adalah sebentuk karakter, bertingkah kemayu, flamboyant, dalam perbuatan (tidak macho), tingkah yang tidak wajar dimiliki oleh pria, melambai, baik dalam bicara, berfikir, dan atau melakukan sesuatu. Deskripsinya sangat berbau  feminin banget.

Jadi kalau dipikir-pikir memang pas dengan konde itu sendiri yang juga memang untuk para wanita yang tentu saja erat berhubungan dengan yang namanya feminin.

Bagi diriku sendiri, konde adalah merupakan suatu yang wajib ku pakai ketika sedang ngadi saliro ngadi busono dengan kain kebaya. Walaupun akhir-akhir ini aku kadang juga tidak menyanggul rambutku tapi malah kubiarkan terurai seperti di postingan yang terdahulu.

Itu semata-mata hanya untuk variasi dan menghindari kejenuhan. Walaupun memang ada perasaan  yang berbeda jika berkain kebaya lengkap dengan sanggul dan tanpa sanggul.  Jika berkain kebaya lengkap dengan sanggul rasanya seperti seorang wanita yang telah tumbuh dewasa dan matang serta lebih anggun berwibawa. Sebaliknya jika berkain kebaya tanpa sanggul rasanya seperti seorang gadis remaja yang baru mekar-mekarnya dan sedang berusaha belajar mencintai busana nasionalnya.

Jadi seperti pepatah bahasa Indonesia lama yang mengatakan ketika muda rambutnya terurai dan ketika dewasa rambutnaya bersanggul. Pepatah itu sepertinya pas paling tidak untuk diri ku sendiri. Dan mudah-mudahan juga pas untuk para remaja gadis Indonesia yang memang sedang berusaha belajar mencintai busana nasionalnya. Semoga bisa lestari busana tradisional dan sekaligus busana nasional kita lengkap dengan dandanan rambutnya yang berupa sanggul.

Kamis, 06 Desember 2012

ketika aku tak lagi berkonde










Apakah aku akan disebut sebagai pengkhianat perjuangan RA Kartini ? Hanya karena aku tak lagi berkonde. Bukankah aku masih memakai busana kain dan kebaya ? Kain yang kupakai pun juga kain batik lembaran asli dengan wiron didepan pula. Tidak seperti kebanyakan wanita sekarang yang lebih suka praktisnya dengan menjahit kain batik menjadi rok berwiru. Kebaya yang kupakai pun masih kelihatan tradisional. Tidak terlalu jauh modifikasinya. Bahkan mungkin masih boleh disebut sebagai kebaya tradisional dengan kerah yang bergaya Sunda.

Ku hanya ingin sedikit variasi dan perubahan. Bukannya mau meninggalkan tradisi. Bagaimanapun ku akan tetap menjadi seorang wanita Indonesia yang berusaha sekuat tenaga untuk meneruskan cita-cita Kartini sambil selalu menguri-uri busana tradisional Jawa pada khususnya dan busana nasional Indonesia pada umumnya.

Karena konde adalah mahkota wanita Jawa pada khususnya dan wanita Indonesia pada umumnya. Maka adalah suatu kehormatan bagiku untuk selalu tetap memakai konde, sekalipun konde itu akan memperberat kepalaku. Tapi seperti halnya suatu tugas berat yang harus diemban oleh setiap wanita Indonesia untuk selalu memegang tinggi nilai-nilai luhur seorang wanita Indonesia, menguri-uri busana tradisional dan meneruskan cita-cita Kartini. Maka sekali lagi ku akan selalu berusaha sekuat tenaga untuk selalu memakai sanggul disetiap kesempatan.