tJeSiLC_vQ4EjbqutLiN10g1b3k
Tampilkan postingan dengan label anggun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anggun. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Oktober 2011

Kartini dan Abendanon

Tadi pagi waktu saya cding pakai kain kebaya, saya membuka facebook saya. Kebetulan teman saya seorang bule yang seorang crossdresser juga online. Saya coba menyapa dia dengan chat. Dia membalas sapaan saya, maka kamipun chat di facebook.
Saya bilang kalau saya sedang cding dengan memakai kain kebaya. Terus saya tanya dia apakah dia juga sedang cding ? Dia jawab juga sedang cding dengan chemisier ( sejenis model  pakaian ). Saya tanya lagi apakah dia tahu kain kebaya. Diapun  menjawab tidak tahu, maka saya terangkan kalau kebaya itu sejenis blouse dan kain ( wiron ) itu adalah kain / bahan yang dipakai dengan dililitkan ke kaki dengan ketat. Saya menjelaskan lebih lanjut bahwa pakaian itu dulu juga yang dipakai oleh pahlawan nasional kita ibu kita Kartini.
Rasanya waktu sedang chating terutama waktu menjelaskan tentang kain kebaya itu, saya sangat feminin dan anggun sekali. Rasanya pingin terus chating dan menjelaskan tentang kain kebaya sambil menikmati suasana cding serta sesekali  memandangi cermin dan berkaca. Saya merasa betapa feminim dan anggunnya diriku. Saya jadi merasa kalau ini terjadi di masa lampau rasanya seperti Kartini dengan sobatnya Abendanon yang sedang bercakap-cakap.
Sayapun sempat tanya ke dia apakah dia juga suka dengan rok span dan memberitahu dia kalau kain wiron itu pada dasarnya seperti rok span panjang yang membuat kita harus berhati-hati jika berjalan karena jadi sulit melangkah. Sayangnya dia tidak sempat menjawab, hanya mengirim pesan kalau dia harus menelpon. Jadi kamipun  akhirnya berhenti chating. Thank you my dear facebook friend.  See you again next time on facebook.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Lamunan masa lalu


Dulu sewaktu saya masih minded banget sama kain kebaya dan masih menggebu-gebunya, pernah punya lamunan pingin diperisteri sama cowok aristokrat keraton.

Upacara dan pesta pernikahan yang berlangsung saya bayangkan akan sangat agung dan megah. 7 hari 7 malam dan tiap hari saya selalu ganti pakaian pengantin. Pakaian pengantinnya berupa kebaya panjang dan kain panjang prada. Belum lagi roncenya. Saya bayangkan betapa anggun dan cantiknya saya. Saya tidak membayangkan akan memakai model basahan. Saya tidak suka, karena body terutama pinggang tidak akan kelihatan dan saya  akan tidak terlihat sexy.

Prosesi upacaranya saya bayangkan tentu akan sangat panjang, lama serta penuh dengan protokol-protokol. Saya bayangkan saya akan berjalan dengan sangat pelan  dan lemah gemulai serta jarak yang saya tempuh akan sangat panjang, karena ruangan-ruangannya yang besar-besar. Betul-betul diberkati dalam kesengsaraan, berjalan dengan kaki yang dibebat dengan kain panjang yang ketat dan harus menempuh jarak yang sangat panjang, masih ditambah dengan kebaya beludru dan stagen tentulah akan membuat badan menjadi menderita gerah kepanasan. Belum lagi waktu prosesi upacara jalan dengan berjongkok. Betul-betul suatu siksaan yang akan membawa kenikmatan.

Sesudah itu  setiap harinya dari bangun tidur sampai kembali tidur lagi saya membayangkan harus selalu pakai kain kebaya dan sanggulan. Rasanya dalam lamunan saya sangat feminin, anggun dan tradisional serta romantis banget. Walaupun tersiksa juga karena tidak leluasa melangkah dan perut serta dada sesak karena terhimpit stagen dan korset. Tidak punya pakaian apapun selain kain panjang, stagen, kebaya dan selendang. Kecuali celana dalam, bra, korset dan sejenisnya. Tiap hari selalu ganti kain batik. Kain yang kering habis dicuci terus di wiru sendiri sambil memakai kain kebaya pula. Harum bau ratus dan rempah-rempah  selalu melingkupi. Demikian juga dengan seluruh ruangan yang ada. Wanginya membuat angan-angan terasa terbang ke awan-awan.

Suami yang saya bayangkan waktu itu adalah suami aristokrat yang masih memegang nilai-nilai tradisional tapi juga bisa menerima nilai-nilai dari luar. Dia memperlakukan saya seperti memperlakukan layang-layang, dibiarkan bebas terbang tinggi tapi masih dipegang benangnya. Jadi saya diperbolehkan bergaul dengan rekan-rekan dari luar lingkungan keraton. Bahkan diperbolehkan bebas bersentuhan dengan dunia modern, seperti misalnya pesta, bioskop, shopping dan bahkan discothek serta club malam. Hsnya dengan satu syarat, saya harus tetap memakai kain kebaya. Jika dianggap terlalu salah kostum  dalam pikiran saya, tentu akan diperbolehkan memakai kebaya modern dan  sanggul serta makeup modern tapi bawahannya harus kain batik wiron yang masih lembaran asli. Untuk menambah kesan mewah bisa memakai kain batik wiron yang berbenang emas atau kemasan prada. Jika untuk berjojing kesulitan karena kainnya terlalu sempit, juga boleh dikendorkan sedikit asal bentuknya masih meruncing ke bawah.

Mengkontraskan keadaan seperti yang diatas bagi saya bisa menimbulkan kepuasan dan kenikmatan tersendiri. Bayangkan saja pergi ke pesta disaat orang lain memakai pakaian pesta, mini dress dan yang semacamnya, saya harus memakai kain kebaya. Shopping di mall modern tapi tetap masih memakai kain kebaya sambil membawa belanjaan. Pergi ke salon untuk perawatan wajah dan rambut, disaat yang lainnya memakai pakaian casual,  saya masih tetap pakai kain kebaya. Atau ke sanggar senam,  habis latihan senam kain sama kebayanya  langsung dipakai lagi. Apalagi kalau ke discothek untuk jojing sebetulnya tidak mungkin, itu hanya khayalan saya saja. Belum lagi kalau piknik ke pantai atau ke pegunungan.

Anehnya juga dulu saya sempat  kepikiran kalau saya juga akan bisa menikmati BDSM walaupun saat itu saya tidak tahu samasekali tentang  itu. Saya bayangkan waktu itu saya akan dengan senang hati digantung kakinya dengan posisi terbalik dan tangan diikat kebelakang. Setiap beberapa saat suami saya akan menanyakan apakah saya kecapaian. Jika kecapaian saya akan diturunkan dari gantungan dan ikatan saya akan dilepas.

Tapi sekarang saya sudah tidak punya angan-angan yang muluk seperti itu lagi. Hidup dalam 2 dunia maya dan nyata seperti sekarang ini saya anggap sudah cukup. Cuma saya masih punya keinginan pingin cding out dan kencan romantis sama cowok. Itu saja.

Minggu, 25 September 2011

Di persimpangan jalan

Dari dahulu sejak pertama kali saya cding, pakaian yang saya kenakan selalu kain kebaya. Menurut saya, kain kebaya itu anggun jika dikenakan oleh seorang wanita, karena kain yang ketat dan kebaya yang pas di badan akan membentuk lekuk tubuh  kita,  sehingga anggun untuk dipandang. Gerak gerik yang akan terbatasi dan terhambat oleh ketatnya kain yang kita pakai adalah merupakan suatu tantangan dan gairah serta kenikmatan bagi saya. Apalagi jika si buyung ikut meronta-ronta karena ketatnya kain. Sengsara membawa nikmat itulah suatu pameo yang pantas untuk ini.  Aktivitas ini yang berlangsung bertahun-tahun walaupun selalu bervariasi dan berkembang  akhirnya juga bisa membuat saya setengahnya jadi bosan dan kurang bergairah serta bernafsu lagi untuk melakukannya. Seperti yang tertulis di posting saya yang berjudul “Sensasi baru”.

Tahun ini saya juga mulai menngenakan rok mini dan juga jeans ketat untuk cding. Bermula dari sekedar mencoba-coba, akhirnya saya senang juga dengan pakaian yang bergaya barat ini. Bahkan boleh dikata kalau kecanduan juga. Karena ternyata saya juga pantas dengan pakaian-pakaian semacam ini.

Kini saya merasa seperti di persimpangan jalan. Sejauh yang saya amati di dunia cding biasanya seorang crossdresser mempunyai spesialisasinya sendiri. Maksudnya seorang crossdresser biasanya mempunyai jenis pakaian favoritnya sendiri-sendiri. Misalnya yang suka tank top dan hot pant, maka akan sering memakai pakaian seperti itu. Yang suka rok panjang, maka seringnya akan pakai rok panjang. Yang suka busana muslimah, maka biasanya akan sering memakai busana muslimah dan seterusnya. Memang ada juga yang suka dengan kombinasi dari dua jenis pakaian. Misalnya kadang-kadang pakai rok, tapi kadang-kadang juga pakai celana. Kadang-kadang pakai jilbab, kadang-kadang tanpa jilbab. Tapi tidak seekstrim seperti saya, yaitu dari kain kebaya yang sangat tradisional dengan kainnya yang berupa lembaran kain batik asli dan diwiron serta dipakai dengan ketat meruncing kebawah kemudian menjadi rok mini dan jeans ketat. Memang ada seorang teman facebook  saya yang kadang-kadang memakai kain kebaya seperti saya dan kadang-kadang juga memakai rok, tapi rok yang dia pakai tidak semini yang saya pakai dan dia lebih sering memakai kain kebaya dari pada memakai rok.

Seorang teman facebook saya ketika sedang chat dengan saya mengatakan kalau saya sedang “switch”. Tapi saya membantah dan menjawab kalau saya sekarang kadang-kadang pakai kain kebaya dan kadang-kadang pakai rok mini untuk cding. Menurut saya cding dengan kain kebaya dan rok mini / jeans ketat sensasinya berbeda. Kalau dengan kain kebaya, akan terasa anggun dan konvensional. Sedang kalau pakai rok mini / jeans ketat akan kelihatan sexy dan modern.

Sekarang kalau mau cding saya kadang-kadang malah jadi bingung sendiri. Mau pakai apa ya ? Pakai kain kebaya, rok mini apa jeans ketat. Kadang-kadang ujung-ujungnya jadi saya buat variasi. Dimulai dengan rok mini, sesudah puas terus dirangkap pakai kain kebaya seperti di posting saya yang berjudul “Dari Barat sampai ke Timur berjajar”. Atau dimulai dengan rok mini. Kemudian setelah puas, tapi masih kepingin cding terus saya lepas dan ganti dengan kain kebaya.