tJeSiLC_vQ4EjbqutLiN10g1b3k
Tampilkan postingan dengan label kain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kain. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 September 2013

ARB

abu
Tahun depan akan ada pemilihan presiden lagi di republik kita tercinta. Kalau sudah begini banyak orang  berlomba-lomba nyalon. Entah inisiatif sendiri atau ditunjuk partai. Iklan-iklan barbau promosi kampanye pun banyak bermunculan di televisi.

Salah satunya adalah Aburizal Bakrie yang memakai nama initial ARB. Tapi tahukah anda kalau ARB sebetulnya juga sangat concern terhadap budaya kita terutama budaya Jawa khususnya busana tradisional wanita Jawa.

Para wanita Jawa terutama yang tidak biasa memakai kain jarik wiron beserta kebayanya pasti akan bilang begini : ARB banget déh kalau pakai kain kebaya. Artinya begini  :
  • Ah Rempong Banget déh, mesti pakai sanggul segala.
  • Aduh Rapet Banget déh jariknya, sampai hampir gak bisa jalan.
  • Ampun Ribet Banget déh, belon kalau harus jalan cukup jauh.
Tapi kalau sudah terbiasa pakai kain kebaya dan mulai mencintai busana tradisional kita, tetap saja bilang begini : ARB banget déh kalau pakai kain kebaya. Artinya bisa begini  :
  • Aih Rajin Banget déh, jaman gini masih pakai kain jarik sama kebaya
  • Aih Rapi Banget deh, kain jariknya bisa menyempit kebawah.
  • Aih Ramping Banget deh, pinggangnya.
  • Aih Runtut Banget deh, kelihatan selaras dan anggun jadinya
Sampai akhirnya kita, para wanita Indonesia akhirnya  luluh hatinya dan secara tidak sadar menjadi kadernya dan berteriak lantang begini : Ayo Rajin Berbusana nasional !

Senin, 15 Juli 2013

Gambar kain kebaya

Ini adalah gambar hasil karyaku sendiri  dengan ballpoint hitam diatas kertas HVS. Seperti yang kuceritakan di posting yang berjudul "Kenangan hari wisuda yang sangat membahagiakan", dulu aku sering menggambar wanita pakai kain kebaya. Saking banyaknya sampai lebih dari seratus lembar. Cuma sekarang hampir semuanya sudah aku buang. Entah kenapa.  Dulu waktu  menyobek-nyobek dan membuang gambar-gambar itu, aku berpikiran kalau aku sekarang sudah bisa mengambil foto-fotoku sendiri dalam pakaian kain kebaya lengkap dengan sanggulnya.
Tapi sekarang aku mulai kepikiran lagi untuk mulai menggambar lagi. Entah gambar apa yang akan aku gambar.
NB : Di gambar diatas ada tulisanku yang berbunyi : "iki aku kesrimpet tenan lho mas, orak éksyen".

Kamis, 13 Desember 2012

Maria Selena



Maria Selena adalah Puteri Indonesia 2011 yang mewakili Indonesia dalam  kontes Miss Universe 2012.  Dan sudah dapat diduga seperti biasanya  penampilan wakil Indonesia dalam kostum bikini selalu menimbulkan pro dan kontra. Karena sudah sejak dari jaman dahulu kala dan seperti sudah menjadi mitos kalau bangsa Indonesia adalah bangsa yang sopan dan santun termasuk dalam berbusana.

Seperti juga halnya dengan busana nasionalnya yaitu kain kebaya yang cenderung tertutup dari atas sampai bawah. Kain wironnya  sampai menutup mata kaki, kalau menurut pakemnya. Sedangkan lengannya  juga tertutup oleh panjangnya lengan dari kebaya. Dan hal ini dapat terlihat pada pemilihan putera-puteri daerah yang selalu menampilkan busana daerahnya masing-masing terutama untuk malam grandfinal dan juga untuk publikasi.

Tapi apa kata Puteri Indonesia 2011, Maria Selena ketika diwawancara dalam bahasa Inggris tentang pengalaman kencan yang paling menarik baginya  dan kebetulan waktu itu ia memakai busana batik yang menurutnya seperti busana tradisional Indonesia ? Dari video diatas pada detik ke 33 dapat didengar ia menjawab  "matching clothes together ... batik like a traditional Indonesian clothes... it's very annoying  actually, but it's fun and creative  ".

Ternyata ia cukup jengkel dengan busana itu walaupun juga menyenangkan. Ternyata ia belum bisa menerima busana seperti itu dengan sepenuh hati. Padahal kalau dilihat dari omongannya, kelihatannya busana yang dimaksud sudah dimodifikasi. Bahkan mungkin sudah berupa gaun, bukan lagi berupa kain kebaya. Dan namanya busana nasional yang sudah dimodifikasi biasanya akan dibuat dengan tujuan semakin mempermudah dan semakin  membuat nyaman pemakainya.  Termasuk bawahannya yang dulu berupa kain jarik wiron yang sempit dibagian bawahnya sehingga membuat sulit pemakainya untuk melangkah berjalan, sekarang biasanya dibuat lebar dibagian bawah dan juga sudah berupa rok serta mungkin juga sudah tidak sepanjang kain wiron atau bahkan mungkin berupa celana panjang.

Bagaimana ini ? Puteri Indonesia kita ternyata masih setengah hati dalam mencintai kebudayaan dan busananya sendiri.

Sabtu, 08 Desember 2012

Konde

Konde atau bahasa Indonesia nya sanggul adalah merupakan mahkota khususnya bagi wanita Jawa  dan  wanita Indonesia pada umumnya.

Jadi konde adalah sama dengan sanggul. Cuma beda sebutan dalam bahasanya.  Yang satu adalah sebutan dalam bahasa Jawa dan yang lainnya adalah sebutan dalam bahasa Indonesia. Tapi salah seorang teman, seorang cewek yang kebetulan bukan orang Jawa lucunya pernah bilang begini, "Wah, enak ya wisudanya sekarang sudah pakai sanggul. Tidak seperti dulu ketika saya wisuda, masih pakai konde". Waktu itu aku yang kebetulan mendengar perkataannya cuma mikir saja. Sebetulnya dia tau atau tidak kalau konde itu ya sanggul dan sanggul itu ya konde. Mungkin yang dimaksudkan dengan  sanggul itu adalah sanggul modern yang tidak sekuno, sebesar,  seberat dan sekaku  sanggul tradisional serta tentu saja lebih bergaya dan tidak ndesani atau kampungan dalam pandangannya. Tidak seperti ibu-ibu, tapi lebih kelihatan seperti remaja ABG.

Kembali ke jaman lampau,  konde bagi wanita Jawa adalah merupakan suatu keharusan. Karena setiap memakai busana kain dan kebaya, maka rambut mereka pun selalu di sanggul. Bukan itu saja, konde juga di hias dengan bunga,  tusuk konde  atau ronce melati. Bahkan ketika menjadi pengantin atau ratu sehari, maka sanggul dihias dengan cenduk mentul dan  rangkaian melati dengan sedemikian indah dan artistiknya.

Tidak cuma itu saja. Bagi orang Jawa, konde selain sudah menjadi suatu keharusan  juga dipercaya mempunyai kekuatan mistis. Mantan presiden RI alm Suharto ditengarai jatuh dari kekuasaannya akibat konde almarhumah ibu Tien yang menghilang. Hal ini menunjukkan sedemikian kuatnya pamor konde. Begitu pula kehebatan Soeharto sebelumnya dalam menjaga stabilitas negara juga ditengarai bersumber pada konde ibu Tien Soeharto. Hingga kekuasaannya bisa langgeng sampai beberapa dekade.

Tapi walaupun konde dianggap sesuatu yang sakral, benda itu  juga tidak luput menjadi bahan ejekan bagi para pelawak. Antara lain grup lawak  Warkop DKI pernah mengatakan kalau konde itu adalah model rambut punk rock Jawa. Atau ban sérep di belakang ( roda cadangan di belakang ).

Di kalangan para pejabat orde lama dan orde baru waktu itu ketika para isteri pejabat harus menghadiri suatu pertemuan resmi  timbul suatu istilah yang terkenal pada waktu itu yaitu "besar-besaran konde". Semakin besar kondenya mungkin semakin mantap dan anggun. Dan hal ini berulang ketika desainer kebaya kenamaan Anne Avantie mengadakan pagelaran busana di keraton Solo. Ada seorang model yang memakai sanggul sangat besar atau malah bisa disebut extra besar. Entah ini suatu sindiran, parodi atau memang sanggul-sanggul yang extra besar itu memang sudah ada sejak  jaman dulu.

Nah kalau kata konde kita buat menjadi  kata kerja bukankah akan menjadi ngondek ? Seperti halnya kata kontrak, bila dijadikan kata kerja akan menjadi ngontrak.

Tapi tahukah anda arti kata ngondek. Berikut ini salah satu deskripsinya. Ngondek adalah sebentuk karakter, bertingkah kemayu, flamboyant, dalam perbuatan (tidak macho), tingkah yang tidak wajar dimiliki oleh pria, melambai, baik dalam bicara, berfikir, dan atau melakukan sesuatu. Deskripsinya sangat berbau  feminin banget.

Jadi kalau dipikir-pikir memang pas dengan konde itu sendiri yang juga memang untuk para wanita yang tentu saja erat berhubungan dengan yang namanya feminin.

Bagi diriku sendiri, konde adalah merupakan suatu yang wajib ku pakai ketika sedang ngadi saliro ngadi busono dengan kain kebaya. Walaupun akhir-akhir ini aku kadang juga tidak menyanggul rambutku tapi malah kubiarkan terurai seperti di postingan yang terdahulu.

Itu semata-mata hanya untuk variasi dan menghindari kejenuhan. Walaupun memang ada perasaan  yang berbeda jika berkain kebaya lengkap dengan sanggul dan tanpa sanggul.  Jika berkain kebaya lengkap dengan sanggul rasanya seperti seorang wanita yang telah tumbuh dewasa dan matang serta lebih anggun berwibawa. Sebaliknya jika berkain kebaya tanpa sanggul rasanya seperti seorang gadis remaja yang baru mekar-mekarnya dan sedang berusaha belajar mencintai busana nasionalnya.

Jadi seperti pepatah bahasa Indonesia lama yang mengatakan ketika muda rambutnya terurai dan ketika dewasa rambutnaya bersanggul. Pepatah itu sepertinya pas paling tidak untuk diri ku sendiri. Dan mudah-mudahan juga pas untuk para remaja gadis Indonesia yang memang sedang berusaha belajar mencintai busana nasionalnya. Semoga bisa lestari busana tradisional dan sekaligus busana nasional kita lengkap dengan dandanan rambutnya yang berupa sanggul.

Kamis, 06 Desember 2012

ketika aku tak lagi berkonde










Apakah aku akan disebut sebagai pengkhianat perjuangan RA Kartini ? Hanya karena aku tak lagi berkonde. Bukankah aku masih memakai busana kain dan kebaya ? Kain yang kupakai pun juga kain batik lembaran asli dengan wiron didepan pula. Tidak seperti kebanyakan wanita sekarang yang lebih suka praktisnya dengan menjahit kain batik menjadi rok berwiru. Kebaya yang kupakai pun masih kelihatan tradisional. Tidak terlalu jauh modifikasinya. Bahkan mungkin masih boleh disebut sebagai kebaya tradisional dengan kerah yang bergaya Sunda.

Ku hanya ingin sedikit variasi dan perubahan. Bukannya mau meninggalkan tradisi. Bagaimanapun ku akan tetap menjadi seorang wanita Indonesia yang berusaha sekuat tenaga untuk meneruskan cita-cita Kartini sambil selalu menguri-uri busana tradisional Jawa pada khususnya dan busana nasional Indonesia pada umumnya.

Karena konde adalah mahkota wanita Jawa pada khususnya dan wanita Indonesia pada umumnya. Maka adalah suatu kehormatan bagiku untuk selalu tetap memakai konde, sekalipun konde itu akan memperberat kepalaku. Tapi seperti halnya suatu tugas berat yang harus diemban oleh setiap wanita Indonesia untuk selalu memegang tinggi nilai-nilai luhur seorang wanita Indonesia, menguri-uri busana tradisional dan meneruskan cita-cita Kartini. Maka sekali lagi ku akan selalu berusaha sekuat tenaga untuk selalu memakai sanggul disetiap kesempatan.

Jumat, 04 Mei 2012

Sexual healing









Anda semua tentu sudah mengenal pengobatan alternatif. Suatu teknik pengobatan diluar jalur pengobatan resmi seperti dokter dan obat-obatan barat.

Ada banyak macam pengobatan alternatif. Seperti pijat, gurah, tusuk jarum dan lain sebagainya. Saya sendiri kadang-kadang juga pijat refleksi untuk menghilangkan capai-capai dan katanya juga dapat mennyembuhkan penyakit-penyakit serta melancarkan peredaran darah.

Tapi disamping itu saya juga punya cara penyembuhan alternatif dengan gaya saya sendiri. Ini saya namakan  sexual healing.

Pengobatan ini  mungkin hanya cocok untuk diri saya sendiri. Biasanya efektif dan cocok untuk penyakit ringan seperti masuk angin, perut kembung, sakit kepala dan yang  sejenisnya.

Caranya adalah waktu saya merasakan badan saya kurang enak seperti masuk angin, maka saya melakukan crossdressing khususnya dengan pakaian kain kebaya lengkap dengan sanggul dan stagennya.

Dengan pakaian serapat itu, saya akan merasa hangat dan mungkin gerah. Saya akan berkeringat dan mungkin ini yang menyebabkan pernyakit saya juga keluar bersama dengan keringat itu. Demikian juga dengan suhu badan yang agak hangat akan turun bersama dengan keluarnya keringat.

Perut kembung akan hilang karena perut dililit dengan sangat eratnya oleh stagen. Cuma sehabis terapi ini kadang perut bisa merasa lapar.

Badan yang merasa tidak enak karena penyakitpun bisa akan hilang, karena pikiran dan perasaan yang senang sewaktu crossdressing. Cuma kadang sehabis terapi ini badan bisa jadi merasa capai.

Sakit kepalapun bisa hilang juga dengan dipasangnya sanggul dibelakang kepala. Untuk yang satu ini, saya kurang tahu logikanya. Mungkin dengan diikatnya rambut belakang kita dengan kencang dan ditambah dengan jepit rambut yang tertancap dengan kencang juga di kepala, maka kepala seperti dipijat. Kemudian juga ditambah dengan pemberat sanggul.

Jadi kalau dipikir-pikir, jarikan ( istilah orang Jawa untuk menyebut orang yang memakai kain kebaya )  itu bisa dianggap seperti candu / obat / drug  untuk mengobati penyakit tertentu. Logikanya, perasaan sakit dan tidak enak serta tidak nyaman sebagai akibat dari penyakit dapat dihilangkan atau dikurangi atau dialihkan dan diganti dengan perasaan senang dan hasrat serta gairah akan pakaian kain kebaya itu.

Sebagai akibatnya, saya akan merasa lebih enak dan lebih sehat serta penyakit saya pun berkurang atau malah hilang. Walaupun cuma untuk sementara waktu. Kadang besoknya penyakit itu datang kembali.


Jumat, 20 April 2012

Selamat hari Kartini 21 April 2012

Selamat hari Kartini ! Para wanita Indonesia. Bagaimana hari ini apakah anda akan  dengan senang hati mengenakan kain kebaya ? Atau anda mengenakannya dengan berat hati dan terpaksa  ? Atau malah anda tidak akan pernah mengenakannya sama sekali walaupun itu hanya berupa rencana atau angan-angan ? Anda lebih suka dengan pakaian western yang praktis dan sesuai dengan jamannya ?

Saya tidak bisa memungkiri kenyataan diatas. Tapi bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati kebudayaannya sendiri. Jadi, sayangilah selalu pakaian nasional kita sendiri. Ngadi salira ngadi busana, nguri-uri kebudayaan tradisional kita.

Siapa lagi yang akan melestarikan kebudayaan kita sendiri, kalau bukan bangsa kita sendiri. Bangsa tetangga ? Ironis dan tragis, jika bangsa tetangga sampai kemudian mengklaim kebaya dan kain batik sebagai busana mereka.


Minggu, 08 April 2012

Adikku jadi pembosan


Dik, kenapa kamu sekarang jadi mudah bosan ? Adikku si buyung, kamu kalau lihat cewek cantik kok sekarang sulit gairah. Loyo terus. Kakak kuatir jangan-jangan kamu punya kelainan.

Sekarang kalau liat kakak pakai kain kebaya apa pakaian sexy, kamu juga sulit bergairah. Paling kamu gairah sebentar saja. Habis itu loyo lagi. Ada apa dik ? Kamu sakit ya ?

Apa perlu kakak beliin vitamin sama obat-obatan biar kamu bisa gagah perkasa ? Apa kamu minta dipijitin biar mudah terangsang sama bisa tahan lama ? Dik, kakak  sayang banget sama kamu lho.

Apa adik baru ngambek ya ? Minta dielus-elus, dibelai-belai, diciumi  sama kakak. Ya kakak nggak keberatan kok dik, demi adikku sayang.

Dik, jangan diam terus dong. Kakak jadi mulai bingung sama kuatir nih. Jangan-jangan sekarang kamu sudah tidak berdaya.

Kamu perkasanya kok malah kalau malam waktunya orang pada tidur. Gimana sih ?

Minggu, 01 April 2012

Adikku sudah besar

Dik, sudah bertahun-tahun kakak tidak perhatikan ternyata kamu sudah besar. Kakak tidak mengira, padahal kita tiap hari ketemu terus.

Adikku si buyung, kamu sudah bisa berdiri tegak. Kamu itu rajin sekali. Pagi-pagi kakak masih males bangun dari tidur, kamu sudah berdiri tegak. Apa kamu mau mbangunin kakak ya ? Kakak, kamu paksa-paksa ya ngantar kamu ke kamar mandi buat pipis.

Malah kadang-kadang tengah malam, kamu tau-tau sudah berdiri tegak. Padahal kakak masih tidur sampai terbangun gara-gara kamu, dik. Jadi orang yang lumrah saja. Jangan terlalu rajin, masak tengah malam enak-enaknya orang tidur, kamu malah bangun.

Kamu juga sudah tau yang namanya cewek cantik. Cuma kamu ini termasuk aneh. Hari gini kamu sukanya sama cewek cantik yang pakai kain kebaya. Kalau sama cewek cantik saja, kamu keliatannya kurang nafsu.

Apalagi kalau liat kakak pakai kain kebaya, kamu keliatan tegang dan nafsu sekali dik. Kamu selalu memaksa-maksa untuk melihat kakak dandan pakai kain kebaya, Kakak baru mulai melilitkan kain wiron di kaki, kamu sudah mulai keliatan tegang. Begitu kakak sudah berpakaian lengkap kain kebaya, kamu semakin menjadi-jadi.

Ingat lho dik, ini kakakmu sendiri. Masak sih kamu mau sama kakakmu sendiri, itu namanya kurang ajar. Apalagi nanti kalau sampai jadi, itu namanya pernikahan sedarah. Resikonya besar lho dik buat keturunan kita.

Kamis, 09 Februari 2012

The Model


Artikel ini saya tulis dalam 2 bahasa. Inggeris dan Indonesia. I write this article in 2 languages. English and Indonesian.

Some time ago I  idly searched at the Youtube video of this song. And it was there. The video attracts me, because the title is "The Model" but it contains android or robot  beside some models too and the second is the music itself, it was techno.  And so I begin to think how to insert it in my posting. Until today I got an idea.

I became a crossdresser since I was a kid. And from the beginning, the woman dress that I wear is always a Javanese traditional custom called kain kebaya. The blouse that called kebaya usually is a tight blouse  and the  skirt is originally a cloth that wrapped around the legs tightly to shape up our body. Lately, the skirt is modified, not a cloth with a pleat in the front anymore, but it was been sewn into a skirt that is used by entering it from our feet and raised to our body. So we don't need to wear it by wrapping it around  our legs so tightly and arrange it so the end with a pleat can  fall in front to the right a bit. But I like the original version of the skirt that is still a cloth with pleats at the end. I began to wear mini skirt and other modern dress just about last year.

With that Javanese traditional dress in my opinion I do not need a lot of style, except try to act slow in any activities. When standing, walking, sitting and so on. Because Javanese aristocrate woman in my observation is always acting  slow to gain an impression of graceful, elegance and dignity.

Yes, I need to act like a woman and I must study about woman gesture. I must study how a Javanese woman especially an aristocrate Javanese woman acts when she is wearing traditional custom. Always be slow and careful when doing anything. Even there's a risk to fall when we walk with such tight dress.

But in my opinion it's easier than when I wear a mini skirt or any modern dress. Because our steps are not hindered by our long narrow skirt and so we have to arrange it. How wide we must step. How we have to shake our hips to get rhytmic. How is the position of our hands when we walk. How is the position of our legs and hands when we stand  and so on. There are also many alternatives of style that we can choose. Understated, elegant, graceful, flirtatious, vivacious, mischievous, spirited, sporty, sloppy and so on. Maybe my opinion is wrong, because I was more familiar with Javanese traditional custom since I began doing crossdressing.

Not to mention how we must learn to act like the model when we are about to be taken our picture. How we must arrange our face, our smile, our body language. My favourite poses are kissing bye and praying hands.


Bahasa Indonesia.

Beberapa waktu lalu saya iseng-iseng mencari di Youtube video dari lagu ini. Dan itu ada di sana. Video itu menarik saya, karena judulnya adalah "Model" tapi berisi android atau robot di samping beberapa model juga dan yang kedua adalah musiknya  sendiri, yang adalah techno. Maka, saya mulai berpikir bagaimana untuk memasukkannya di posting saya. Sampai hari ini akhirnya saya mendapat ide.

Saya menjadi crossdresser sejak saya masih kecil. Dan dari awal, gaun wanita yang selalu saya pakai adalah busana adat tradisional Jawa yang disebut kain kebaya. Blus yang disebut kebaya biasanya adalah blus ketat dan bawahannya  aslinya adalah  sebuah kain yang melilit kaki ketat untuk membentuk tubuh kita. Tapi akhir-akhir ini, sudah  berubah, bukan kain dengan wiru di bagian depan lagi, tapi  telah dijahit menjadi rok yang digunakan dengan memasukkannya dari kaki kita dan dinaikkan ke tubuh kita. Jadi kita tidak perlu memakainya dengan melingkarkannya sekitar kaki kita begitu erat dan mengaturnya sehingga akhir dengan wiru bisa jatuh di depan  sedikit ke kanan. Tapi saya suka versi asli bawahan yang masih kain dengan lipatan di akhir. Saya mulai memakai rok mini dan gaun modern lainnya hanya sekitar satu tahun lalu.

Dengan pakaian tradisional Jawa menurut saya, saya tidak perlu banyak gaya, kecuali mencoba untuk bertindak lambat dalam setiap kegiatan. Ketika berdiri, berjalan, duduk dan sebagainya. Karena  perempuan ningrat Jawa dalam pengamatan saya selalu bertindak lambat untuk mendapatkan kesan anggun, elegan dan berwibawa.

Ya, saya harus bertindak seperti seorang wanita dan saya harus mempelajari tentang gerakan perempuan. Saya harus mempelajari bagaimana seorang perempuan Jawa terutama seorang wanita Jawa ningrat bertindak saat dia memakai busana adat tradisional. Selalu  lambat dan hati-hati ketika melakukan sesuatu. Bahkan ada risiko jatuh saat kita berjalan dengan bawahan seketat itu.

Tapi menurut saya itu lebih mudah daripada ketika saya mengenakan rok mini atau gaun modern. Karena langkah kita tidak terhalang oleh bawahan panjang yang sempit,  jadi kita harus mengaturnya. Seberapa lebar kita harus melangkah. Bagaimana kita harus menggoyang pinggul kita supaya berirama. Bagaimana posisi tangan kita ketika kita berjalan. Bagaimana posisi kaki dan tangan saat kita berdiri dan sebagainya.Ada juga alternatif banyak gaya yang bisa kita pilih. Bersahaja, elegan, anggun, genit, lincah, nakal, bersemangat, sporty, urakan dan sebagainya. Mungkin pendapat saya salah, karena saya lebih akrab dengan busana adat tradisional Jawa sejak saya mulai melakukan crossdressing.

Belum lagi bagaimana kita harus belajar untuk bertindak seperti model ketika kita hendak diambil gambarnya. Bagaimana kita harus mengatur wajah kita, senyum kita, bahasa tubuh kita. Pose favorit saya adalah kiss bye  dan posisi tangan berdoa.

Minggu, 23 Oktober 2011

Kartini dan Abendanon

Tadi pagi waktu saya cding pakai kain kebaya, saya membuka facebook saya. Kebetulan teman saya seorang bule yang seorang crossdresser juga online. Saya coba menyapa dia dengan chat. Dia membalas sapaan saya, maka kamipun chat di facebook.
Saya bilang kalau saya sedang cding dengan memakai kain kebaya. Terus saya tanya dia apakah dia juga sedang cding ? Dia jawab juga sedang cding dengan chemisier ( sejenis model  pakaian ). Saya tanya lagi apakah dia tahu kain kebaya. Diapun  menjawab tidak tahu, maka saya terangkan kalau kebaya itu sejenis blouse dan kain ( wiron ) itu adalah kain / bahan yang dipakai dengan dililitkan ke kaki dengan ketat. Saya menjelaskan lebih lanjut bahwa pakaian itu dulu juga yang dipakai oleh pahlawan nasional kita ibu kita Kartini.
Rasanya waktu sedang chating terutama waktu menjelaskan tentang kain kebaya itu, saya sangat feminin dan anggun sekali. Rasanya pingin terus chating dan menjelaskan tentang kain kebaya sambil menikmati suasana cding serta sesekali  memandangi cermin dan berkaca. Saya merasa betapa feminim dan anggunnya diriku. Saya jadi merasa kalau ini terjadi di masa lampau rasanya seperti Kartini dengan sobatnya Abendanon yang sedang bercakap-cakap.
Sayapun sempat tanya ke dia apakah dia juga suka dengan rok span dan memberitahu dia kalau kain wiron itu pada dasarnya seperti rok span panjang yang membuat kita harus berhati-hati jika berjalan karena jadi sulit melangkah. Sayangnya dia tidak sempat menjawab, hanya mengirim pesan kalau dia harus menelpon. Jadi kamipun  akhirnya berhenti chating. Thank you my dear facebook friend.  See you again next time on facebook.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Lamunan masa lalu


Dulu sewaktu saya masih minded banget sama kain kebaya dan masih menggebu-gebunya, pernah punya lamunan pingin diperisteri sama cowok aristokrat keraton.

Upacara dan pesta pernikahan yang berlangsung saya bayangkan akan sangat agung dan megah. 7 hari 7 malam dan tiap hari saya selalu ganti pakaian pengantin. Pakaian pengantinnya berupa kebaya panjang dan kain panjang prada. Belum lagi roncenya. Saya bayangkan betapa anggun dan cantiknya saya. Saya tidak membayangkan akan memakai model basahan. Saya tidak suka, karena body terutama pinggang tidak akan kelihatan dan saya  akan tidak terlihat sexy.

Prosesi upacaranya saya bayangkan tentu akan sangat panjang, lama serta penuh dengan protokol-protokol. Saya bayangkan saya akan berjalan dengan sangat pelan  dan lemah gemulai serta jarak yang saya tempuh akan sangat panjang, karena ruangan-ruangannya yang besar-besar. Betul-betul diberkati dalam kesengsaraan, berjalan dengan kaki yang dibebat dengan kain panjang yang ketat dan harus menempuh jarak yang sangat panjang, masih ditambah dengan kebaya beludru dan stagen tentulah akan membuat badan menjadi menderita gerah kepanasan. Belum lagi waktu prosesi upacara jalan dengan berjongkok. Betul-betul suatu siksaan yang akan membawa kenikmatan.

Sesudah itu  setiap harinya dari bangun tidur sampai kembali tidur lagi saya membayangkan harus selalu pakai kain kebaya dan sanggulan. Rasanya dalam lamunan saya sangat feminin, anggun dan tradisional serta romantis banget. Walaupun tersiksa juga karena tidak leluasa melangkah dan perut serta dada sesak karena terhimpit stagen dan korset. Tidak punya pakaian apapun selain kain panjang, stagen, kebaya dan selendang. Kecuali celana dalam, bra, korset dan sejenisnya. Tiap hari selalu ganti kain batik. Kain yang kering habis dicuci terus di wiru sendiri sambil memakai kain kebaya pula. Harum bau ratus dan rempah-rempah  selalu melingkupi. Demikian juga dengan seluruh ruangan yang ada. Wanginya membuat angan-angan terasa terbang ke awan-awan.

Suami yang saya bayangkan waktu itu adalah suami aristokrat yang masih memegang nilai-nilai tradisional tapi juga bisa menerima nilai-nilai dari luar. Dia memperlakukan saya seperti memperlakukan layang-layang, dibiarkan bebas terbang tinggi tapi masih dipegang benangnya. Jadi saya diperbolehkan bergaul dengan rekan-rekan dari luar lingkungan keraton. Bahkan diperbolehkan bebas bersentuhan dengan dunia modern, seperti misalnya pesta, bioskop, shopping dan bahkan discothek serta club malam. Hsnya dengan satu syarat, saya harus tetap memakai kain kebaya. Jika dianggap terlalu salah kostum  dalam pikiran saya, tentu akan diperbolehkan memakai kebaya modern dan  sanggul serta makeup modern tapi bawahannya harus kain batik wiron yang masih lembaran asli. Untuk menambah kesan mewah bisa memakai kain batik wiron yang berbenang emas atau kemasan prada. Jika untuk berjojing kesulitan karena kainnya terlalu sempit, juga boleh dikendorkan sedikit asal bentuknya masih meruncing ke bawah.

Mengkontraskan keadaan seperti yang diatas bagi saya bisa menimbulkan kepuasan dan kenikmatan tersendiri. Bayangkan saja pergi ke pesta disaat orang lain memakai pakaian pesta, mini dress dan yang semacamnya, saya harus memakai kain kebaya. Shopping di mall modern tapi tetap masih memakai kain kebaya sambil membawa belanjaan. Pergi ke salon untuk perawatan wajah dan rambut, disaat yang lainnya memakai pakaian casual,  saya masih tetap pakai kain kebaya. Atau ke sanggar senam,  habis latihan senam kain sama kebayanya  langsung dipakai lagi. Apalagi kalau ke discothek untuk jojing sebetulnya tidak mungkin, itu hanya khayalan saya saja. Belum lagi kalau piknik ke pantai atau ke pegunungan.

Anehnya juga dulu saya sempat  kepikiran kalau saya juga akan bisa menikmati BDSM walaupun saat itu saya tidak tahu samasekali tentang  itu. Saya bayangkan waktu itu saya akan dengan senang hati digantung kakinya dengan posisi terbalik dan tangan diikat kebelakang. Setiap beberapa saat suami saya akan menanyakan apakah saya kecapaian. Jika kecapaian saya akan diturunkan dari gantungan dan ikatan saya akan dilepas.

Tapi sekarang saya sudah tidak punya angan-angan yang muluk seperti itu lagi. Hidup dalam 2 dunia maya dan nyata seperti sekarang ini saya anggap sudah cukup. Cuma saya masih punya keinginan pingin cding out dan kencan romantis sama cowok. Itu saja.

Rabu, 01 Juni 2011

Metamorfosa yang sempurna

Ini merupakan akhir dari trilogy tulisan saya. Yang pertama berjudul “Gara-gara selimut”. Kedua berjudul “Dari selimut menjadi kain kebaya“.
Setelah saya bekerja, sayapun membeli kain batik dan kebaya sendiri. Saya ingat betul pertama kali saya membelinya mula-mula hanya 1 kain batik dan 1 kebaya. Kemudian saya membeli 1kain batik, 1 kebaya dan 1 selendang. Berhubung saya masih tinggal dirumah ortu, maka sayapun memakainya masih terbatas di kamar tidur atau kalau pas orang rumah pergi semua. Jadi kalau saya cding kelengkapannya sudah bertambah menjadi kain, kebaya, dan selendang. Saya juga mengambil sandal jinjit kepunyaan ibu yang agak kekecilan dan juga tas tangan yang sudah tidak kepakai serta kipas. Begitulah cara saya cding. Saya sering mematut-matut didepan cermin dan berlenggang lenggok. Rasanya puas sekali.
Setelah bertahun-tahun saya kerja, akhirnya saya punya rumah sendiri. Rasanya senang sekali saat itu bisa beli rumah dari hasil keringat sendiri. Dan efek lainnya adalah saya jadi bisa bebas bercding kapan saja selama masih didalam rumah dan bahkan kadang-kadang secara sembunyi-sembunyi saya juga berjalan-jalan di halaman depan rumah tidak hanya di malam hari tapi juga kadang-kadang nekat di siang hari sambil  waspada. Beberapa hari setelah menempati rumah saya sendiri sayapun mulai membeli kebaya 4 buah. Pertama kali 2 buah dan selang beberapa hari 2 buah lagi. Setelah itu saya beli bh, sandal jinjit dan seterusnya saya jadi kebablasan membeli kain batik dan kebaya 1 demi 1 saya kumpulkan hingga sekarang kira-kira ada 1 lusin kain batik dan 9 kebaya.
Pertama kali hari Minggu saya dirumah sendiri , saya merasa senang sekali karena bisa saya gunakan untuk cding seharian dari pagi sampai sore. Saya merasa puas sekali. Saya bahkan dalam sehari kadang sampai berganti-ganti kebaya ataupun kain. Berhubung saya di rumah sendiri, maka saya masak dan  mencuci sendiri dan dihari itu saya lakukan sambil berkain kebaya.  Rasanya bahagia dan feminin sekali.
Setelah berulang-ulang hal itu saya kerjakan, sayapun semakin menuntut diri saya sendiri untuk menjadi wanita yang sesempurna mungkin dalam hal lahiriah waktu bercding. Maka sayapun membeli kelengkapan yang belum saya punyai yaitu  stagen dan sanggul serta peralatan makeup walaupun yang murahan mulai dari bedak, lipstick, eye shadow, pensil alis hingga yang terakhir adalah bulu mata palsu. Saya kadang-kadang merasa kagum pada diri saya sendiri waktu berkaca setelah bermakeup, betapa cantik nian diriku. Kemudian saya amati-amati diri saya dalam cermin seluruh tubuhku yang terbalut kain kebaya dilengkapi dengan sandal jinjit, selendang dan memakai sanggul. Alangkah mirip diriku dengan perempuan cantik yang anggun dan njawani. Betul-betul sebuah metamorfosa yang sempurna.
Setelah itu sayapun masih merasa ada yang kurang yaitu dokumentasi. Maka sayapun membeli kamera digital. Kemudian setiap cding saya sempatkan untuk mengambil foto diri dengan selftimer dengan aneka macam gaya bak foto model. Setelah saya punya foto-foto diri waktu cding, sayapun tertantang untuk menunjukkan kepada dunia luar tapi dengan tetap menyembunyikan identitas asli saya. Kebetulan dirumah ada computer dan internet. Maka sayapun mencari-cari situs mana yang kira-kira cocok  dan salah satunya adalah situs indocrossdresser. Dari situs ini juga saya baru tahu kalau saya ternyata tidak sendirian mempunyai kelainan ini, tapi banyak rekan-rekan saya di situs ini. Terimakasih untuk situs ini karena bisa menjadi tempat untuk kita saling curhat dan tukar info.